Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa
Letnan Jenderal TNI (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto Istimewa

Oleh: Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin

NUSANTARANEWS.CO – Sebelum krisis moneter menimpa Asia pada tahun 1997, suatu survey dari European Monetary Union telah menyatakan bahwa pada kuartal pertama tahun 1995 perkiraan perdagangan valas di dunia telah mencapai US $ 1,9 triliun/hari. Sedang menurut BIS (Bank For International Settlement), yaitu Bank Sentral dari bank-bank sentral 10 negara maju, saat itu volume perdagangan valas dunia telah mencapai US $ 1,57 triliun/hari.

Meskipun data yang diberikan cenderung kepada data perhitungan secara kasar, namun terdapat gambaran bahwa ada sejumlah dana dalam suatu volume yang tidak terbayangkan telah bergerak cepat dalam suatu transaksi transnasional, transaksi mata uang lintas batas negara yang relatif terbuka terutama bagi negara yang telah menerapkan ekonomi pasar bebas.

Dengan mengabaikan, bahkan melupakan banjir likuiditas yang dapat merusak kemampuan otoritas moneter serta mengakibatkan konsekuensi hebat pada sistem nilai terhadap suatu negara, maka ketergantungan ekonomi pada pinjaman luar negeri, pasti akan memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi terhadap keluar masuknya dana tersebut.

Gambaran yang sebaliknya terjadi pada Amerika, tercapainya tingkat pendapatan masyarakat yang tinggi, inflasi yang rendah serta pengangguran yang rendah justru ketika negara tersebut mengalami defisit neraca transaksi perdagangannya dengan hampir semua negara raksasa ekonomi dunia. Pada saat yang sama mengalami penguatan nilai mata uang akibat tingginya permintaan akan komoditi mata uang US Dollar terutama di negara yang sedang dilanda krisis ekonomi.

Fenomena ini telah memberikan suatu pengertian bahwa di dunia telah lahir suatu paradigma ekonomi baru, dimana asumsi dasar bahwa ukuran perdagangan komoditi fisik transnasional dapat merefleksikan ukuran kemajuan suatu kemakmuran bangsa menjadi tidak sepenuhnya benar. Kestabilan nilai mata uang yang pada gilirannya mewakili nilai kekuatan ekonomi suatu bangsa menjadi orientasi baru perekonomian negara.

Memberikan penggambaran yang lebih riil tentang perekonomian dunia pada dasarnya melibatkan lebih dari dua potensi raksasa ekonomi, seperti Jepang dan Amerika. Negara raksasa eksportir Asia seperti Cina, juga mempunyai faktor dominan yang mampu memengaruhi tingkah laku politik Amerika maupun Jepang.

Dengan bentuk penolakan Cina terhadap perdagangan bebas mata uang (mata uang Yuan tidak diperdagangkan di pasar valas dunia), maka sistem perekonomian Cina relatif tidak terpengaruh oleh gejolak nilai tukar mata uang. Di sisi lain kekuatan sumber daya manusia yang besar dan sangat murah, didukung oleh terbukanya Cina terhadap masuknya teknologi Barat dalam revolusi industri dua dekade yang lalu telah membuat Cina menjadi negara pengekspor hasil industri modern yang murah ke Amerika, Eropa, bahkan ke Jepang sendiri.

Sistem politik yang otoriter dan homogen, namun berbasis kepada industri Barat, telah menjadikan Cina sebagai lingkungan yang kondusif bagi masuknya investor Barat terutama yang melihat kemungkinan Cina sebagai pasar raksasa (dengan jumlah penduduk lebih dari 1 miliar), sekaligus bagi lahan pemindahan industri dari negaranya yang dinilai tidak efisien dengan adanya kemajuan perkembangan teknologi otomatisasi yang semakin canggih. Dengan situasi tersebut, maka baik Jepang maupun Amerika selalu memperhitungkan kemajuan ekspor Cina. Suatu tindakan mendevaluasi secara sepihak mata uang Cina, akan menyebabkan murah dan membanjirnya barang produk Cina ke negara maju terutama Amerika.

Komentar