Artikel

Mengapa Polisi Menjadi Target Serangan Kelompok Teroris di Indonesia?

Sejumlah Polisi/Foto Ilustrasi/Istimewa
Sejumlah Polisi/Foto Ilustrasi/Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Mencermati peristiwa penembakan di Tuban, Jawa Timur beberapa hari lalu ada satu catatan penting yang patut diperhatikan secara seksama aparat kepolisian Tanah Air. Jika memang enam orang yang ditembak mati adalah gerombolan para teroris, kepolisian mesti waspada karena anggota Polri tampak menjadi sasaran balas dendam kelompok teroris. Pun para brandal, polisi kerap menjadi sasaran utama dari tindakan kejahatan seperti penembakan.

Inilah salah satu catatan penting yang dimaksud. “Polri perlu mencermati fenomena ini agar polisi di jajaran bawah tidak terus menerus menjadi korban serangan balasan dendam para teroris,” ujar Ketua Presidium IPW Neta S Pane mengingatkan.

Pertanyaan yang kemudian patut dilontarkan adalah mengapa polisi selalu menjadi sasaran dan target serangan para teroris? Sekilas, pertanyaan tersebut mudah dijawab. Tapi jawaban tentunya membutuhkan ketelitian dan kecermatan. Ambil contoh misalnya gembong teroris di Poso yakni Santoso alias Abu Wardah yang tewas di tangan Raider Kostrad dalam Operasi Satgas Tinombala pada 2016 lalu.

Konon, kelompok Santoso selama masih bergerilya menjadikan polisi sebagai sasaran dan target utama serangan mereka. Tepat pada 25 Mei 2011 silam, Santoso dan kelompoknya menembak anggota kepolisian di kantor BCA Palu. Sejak insiden penembakan inilah nama Santoso kemudian mencuat dan diburu. Hebatnya, semakin mereka merasa diburu kepolisian, setahun kemudian pasca penembakan Santoso dan Daeng Koro justru membangun kekuatan dengan cara mendeklarasikan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) sebagai wujud perlawanan.

Selain itu, peristiwa teror kelompok teroris juga di sejumlah tempat diketahui mentargetkan polisi, termasuk bom Sarinah yang meledak di pos polisi. Masih banyak lagi kasus teror lain yang juga menjadikan polisi sebagai target serangan.

“Rasa setia kawan dan kepatuhan pada atasannya sangat tinggi sehingga rela mengorbankan nyawanya untuk melakukan serangan balas dendam hanya karena temannya ditangkap polisi. Padahal, mereka sendiri tidak mumpuni dalam menggunakan senjata api,” ucap Neta.

Artinya, anggota polisi akan terus manjadi target utama serangan para teroris sebagai wujud balas dendam. Api balas dendam sukar dipadamkan bila polisi terus menerus menggunakan pendekatan hard power dalam menanggulangi terorisme. Sementara pendekatan soft power justru relatif terabaikan.

Walhasil, para teroris tewas dan belum sempat menjalani proses peradilan sekalipun. Artinya, pendekatan kepolisian dalam menanggulangi terorisme cenderung lebih dekat pada praktik judicial killing ketimbang pendekatan preventif.

Dengan kata lain, ke depan polisi tampaknya masih akan menjadi sasaran utama teror oleh kelompok teroris. Apalagi banyak pihak, termasuk kepolisian, menduga bahwa kelompok teroris masih bergentayangan di Tanah Air karena mereka membentuk kelompok-kelompok.

Sekali lagi, mengapa polisi (masih) menjadi target serangan para teroris? Apakah hal ini akan terus dibiarkan?

Penulis: Eriec Dieda

Komentar

To Top