Berita Utama

Mengapa China Begitu Ambisius Tertarik Membangun Suriah?

Konflik dan Perang di Suriah/Foto Istimewa/Nusantaranews
Konflik dan Perang di Suriah/Foto Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Beijing – Berbicara tentang undangan Presiden Suriah Assad ke China baru-baru ini sesungguhnya memunculkan banyak tanda tanya. Analis politik Cina Wang Yiwei dalam keterangannya yang dilansir dari Sputnik Cina menjelaskan bahwa tujuan Cina mengundang Presiden Suriah ini tak lain adalah ketertarikan Cina untuk ambil bagian dalam menata ulang sektor ekonomi di Suriah.

Sementara itu, Presiden Suriah Bashar Assad dalam wawancara eksklusif dengan Hong Kong Phoenix TV sendiri membenarkan akan hal itu. Dirinya menegaskan bahwa Cina bisa turut ambil bagian dalam membantu pekerjaan merekonstruksi setiap sektor ekonomi di Suriah. Termasuk program pembangunan di sana, usai enam tahun berakhir negara penghasil minyak itu dirundung konflik berkepanjangan.

“Jadi, sektor mana saja? Yakni semua sektor. Maksud saya, Cina bisa membantu di semua sektor tanpa terkecuali. Karena memang kami memiliki kerusakan di setiap sektor,” kata Assad dikutip pada Jum’at (17/2017).

Jalan politik yang ditempuh pemerintah China ini sekilas sangat tampak aneh dan janggal mengingat Suriah adalah negara yang kini sangat tidak kondusif dan porak-poranda akibat konflik dan peperangan. Apa gerangan yang membuat Cina mendadak tertarik dan simpatik untuk membantu pembangunan infrastruktur di Suriah?

Dalam hal ini, Analis politik sekaligus Profesor School of International Studies dari Renmin University of China, Wang Yiwei mengatakan bahwa Beijing memang tertarik dalam memulihkan infrastruktur di Suriah. Tujuannya tak lain adalah terkait program ekonomi Jalur Sutra (Silk Road).

“Proyek-proyek Suriah tidak diragukan lagi kepentingan besar untuk investor dan rekonstruksi pasca-perang negara akan membawa banyak penawaran yang menguntungkan kepada kontraktor,” ujar Wang Yiwei.

Lebih lanjut kata dia, China memiliki kemampuan untuk memberikan bantuan pembangunan tersebut. “Ingat bahwa rute perdagangan Jalur Sutera yang bersejarah benar-benar melalui Damaskus,” sambungnya.

Selain Presiden Suriah, pada bulan yang sama yakni 15-18 Maret 2017, China juga tengah mendapat kunjungan balasan dari Raja Saudi Arabia Salman bin Abdul Aziz. Dalam kunjungan Raja Salman tersebut, presiden China Xi Jinping mengatakan bahwa negaranya merupakan yang pasar potensial, handal dan stabil untuk minyak Arab Saudi. Sehingga dirinya menyerukan kerjasama yang lebih erat di berbagai bidang seperti energi, komunikasi, penerbangan, keuangan dan investasi.

Xi Jinping juga mengklaim bahwa hubungan China dengan negara-negara muslim sudah terbangun baik. Atas dasar itu, untuk urusan Timur Tengah, dirinya mengatakan bahwa China menghormati kedaulatan nasional dan tidak akan ikut campur tangan dalam urusan-urusan internal negara.

Sekalipun demikian, dirinya mengaku sangat berkepentingan agar situasi di Timur Tengah kondusif demi memuluskan program ambisiusnya yakni One Belt One Road. “Solusi untuk banyak masalah di Timur Tengah terletak pada pengembangan. China berharap bisa meningkatkan One Belt and Road dengan negara-negara Timur Tengah,” terang Xi Jinping dikutip dari Xinhua.

Dengan kata lain, undangan China kepada Presiden Suriah dan juga kunjungan Raja Salman semakin menegaskan bahwa negeri Tirai Bambu itu tampaknya tengah benar-benar berambisi untuk mensukseskan program ekonomi One Belt and Road.

Penulis: Romandhon

Komentar

To Top