Christianto Wibisono Ketua Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia. Ilustrasi Foto: NUSANTARAnews
Christianto Wibisono Ketua Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia. Ilustrasi Foto: NUSANTARAnews

(Catatan untuk tulisan Denny JA: Demokrasi Pancasila yang Diperbarui)

Oleh: Christianto Wibisono, Ketua Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia

Pollster terkemuka Denny JA mengusulkan pembaharuan Demokrasi Pancasila untuk rekonsiliasi pasca kemelut konflik SARA pilgub DKI yang bekepanjangan dengan pola intrik makar ala Ken Arok 1182-1227 abad 13 yang memakan korban Ken Ahok modern abad 21.

Denny mengandalkan pembaharuan Pancasila untuk bisa mengatasi konflik antar agama myoritas dan agama minoritas dengan sistim demokrasi “kuantitatif” dalam supremasi hukum yang menjamin HAK minoritas.

DR Rocky Gerung mengingatkan agar jangan terlalu mensakralkan Pancasila menjadi sangat atavistic dan menganggap sebagai panacea, obat generic untuk segala simtom penyakit tanpa memahami akar masalah dan sumber penyakit yang diderita oleh nation state Indonesia.

Hemat saya, tidak ada ideologi yang khas lokal, domestik, kabalistik semuanya pasti ada essensi dan substansi universalnya. Benci, cemburu, dengki dan iri adalah suatu gejala manusia universal yang ada pada manusia segala bangsa, suku, agama, ras, keturunan ditambah factor perbedaan kelas yang baru di teorikan secara massif dalam Marxisme oleh Karl Marx.

Tapi benihnya sudah dikenal sejak zaman baheula dimana saja, termasuk ideologi menggantungkan diri pada ratu adil sebagai penguasa baru menggantikan pengusaha lama. Biasanya yang baru itu kemudian juga akan menjadi tamak, rakus, korup dan bangkrutlah rezim itu justru karena KKN dari dalam tubuhnya sendiri, bukan oleh invasi atau agresi dari luar. Yang barangkali hanya berupa pemicu atau paku terakhir di peti mati rezim lama yang bangkrut total.

Maka terjadilah suksesi antar dinasti  pada pelbagai imperium baik pada tingkat sub regional kawasan maupun imperium raksasa seperti dinasti Tiongkok, Mongol, Romawi, Persia, Turki, Mogul hingga akhir abad pertengahan, abad XVI.

Ketika Eropa Barat mengalami skisma besar setengah millennium, 5 abad atau 500 tahun lalu dengan munculnyaMartin Luther di tahun 1517 mematerikan doktrinnya merevisi altar fundamental gereja Katolik Roma.

Menarik untuk dicatat bahwa dualism Tuhan vs Setan muncul sejak Torat Yahudi ditulis Musa dan mengilhami Zarathustra memakai dualism Ahura Mazda The Good dan Angra Manyu The Devil. Spirit konflik antara Good dan Evil dalam “dongeng” Kabil membunuh adiknya Habil karena cemburu kinerja Habil lebih diperkenan oleh Tuhan, menjadi sumber “hatred ideology” para pelaku kekerasan terorisme politik bernuansa agama abad 21.

Dalam konteks konflik ideology dan filsafati itulah kita melihat itikad unifikasi Bung Karno untuk menyatupadukan bangsa Indonesia dari pelbagai suku dan etnis menempa solidaritas suatu nation state modern yang melampaui etnis, suku, ras dan agama.

Ini memang suatu lompatan luarbiasa karena nation state modern di Eropa juga baru dikenal setelah Treaty of Wesphalia 15 Mei 1648 setelah Perang Agama berkepanjangan di Eropa pasca Reformasi Kristen Protestan Martin Luther. Perhatikan juga bahwa Perang Salib antara penganut Kristen dan Islam sudah berlangsung hampir 200 tahun 1095-1291 memperebutkan Eropa Selatan dan wilayah Israel Palestina.

Presiden Richard Nixon menulis buku Leaders mengingatkan bahwa tradisi demokrasi dengan suksesi tertib memang diawali dari Barat yaitu Magna Charta 15 Juni 1215  yang membatasi kekuasaan absolut raja oleh elite aristokrasi. Sementara di Timur Genghis Khan 1162-1227 menegakkan imperium otoriterMongolia dan Ken Arok mendirikan dinasti Singasari.

Kublai Khan cucu Genghis Khan akan mengirim ekspedisi untuk menghukum raja Singasari, Kertanegara yang berani memotong hidung utusan nya 1293. Karena inteligen Kublai tidak cerdas mereka tidak sadar bahwa , Kertanegara sudah lengser oleh raja Kediri, Jayakatwang. Ekspedisi Kublai diarahkan oleh Raden Wijaya menghukum Jayakatwang dan meruntuhkan Kediri.

Ekspedisi Kublai pulang ke Tiongkok sedang Raden Wijaya mendirikan imperium Majapahit yang bertahan 134 tahun (1293-1527). Pada periode Majapahit itulah Laksamana ZhengHe (1371-1433) memimpin ekspedisi pada dinasti Ming (1368-1644) dan sebagian Wali Sanga pendakwah agama Islam memimpin pengIslaman Jawa berbuntut runtuhnya Majapahit dan lahirnya kerajaan local Islam Nusantara. (Bersambung…)

Komentar