Connect
To Top

Mendag Enggar Dapat Mandat dari Presiden Jokowi 3 Hal Soal Perdagangan

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengaku mendapatkan tiga mandat dari Presiden Joko Widodo mengenai sektor perdagangan. Ia menyampaikan, mandat pertama yang diberikan Presiden adalah menjaga ketersediaan dan stabilitas bahan pokok dan barang penting. Selain itu juga mengutamakan produksi di dalam negeri.

‎”Kalau hanya jaga harga itu mudah, kalau kurang kami impor. Tapi apakah tidak ada keberanian kita untuk tidak impor? Saya bersama Menteri Pertanian sekapat tidak impor. Karena impor itu dampak sesaat, tapi selebihnya kita sulit atur arus impor dan petani Indonesia yang terkena dampak,” ujar dia saat membuka Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) IV Tahun 2017 Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta di ‎Hotel JS Luwansa, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Untuk mandat kedua, Presiden mengarahkan untuk meningkatkan ekspor dan menjaga neraca perdagangan. Demi meningkatkan ekspor, pihaknya tengah menjajaki peluang kerja sama dengan negara-negara nontradisional untuk membuka pasar baru.

“Tahun ini ada 16 negara yang kita selesaikan FTA-nya (free trade agreement). Di kawasan Afrika, Asia Selatan, Eurasia. Jadi negara seperti Pakistan India Bangladesh, dan Afrika jadi prioritas kita,” kata dia.

Mandat ketiga,‎ membangun dan merevitalisasi pasar rakyat. Pada tahun ini Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan pembangunan dan revitalisasi 1.003 pasar rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia.

Menurut dia, untuk menjaga harga sebenarnya dengan mengatur jalur distribusi agar penyebarannya merata.

“Kalau hanya jaga harga itu mudah, kalau kurang kami impor. Tapi apakah tidak ada keberanian kita untuk tidak impor. Saya bersama Mentan sepakat tidak impor. Karena impor itu dampak sesaat, tapi selebihnya kita sulit atur arus impor dan petani Indonesia yang terkena dampak,” ungkap Enggar.

Misalnya produksi beras saat ini sudah dipantau karena gudang yang ada sudah didaftarkan dan setiap stok yang ada selalu dilaporkan. Dengan begitu, menurutnya yang utama adalah distribusi untuk mengupayakan ketersediaan produksi.

“Beras produksi 2017 lebih besar dari 2016 yang masalah sekarang bagaimana tidak ada penimbunan, seluruh gudang didaftarkan dan stok dilaporkan. Peluang usaha yang bisa dilakukan dari logistik network,” papar Enggar.

Reporter: Richard Andika

Komentar