Raja Arab Saudi Salman al-Saud/Foto via republika/Nusantaranews
Raja Arab Saudi Salman al-Saud. (Foto: Reuters/Nusantaranews)

NUSANTARANEWS.CO – Pada awal 2016, Presiden China Xi Jinping melakukan lawatan bersejarah ke kawasan Timur Tengah. Kunjungan tersebut adalah yang pertama Presiden China dalam kurun waktu 12 tahun terakhir. Lawatan Xi Jinping waktu sarat dengan risiko.

Dikatakan berisiko, jika mengunjungi pemimpin Sunni di tengah ketegangan dengan Syi’ah Iran akan menciptakan kesan bahwa China mendukung salah satu dari dua mazhab utama Islam atas yang lain. Dan hal ini tentu akan mersukan citra Beijingyang mengambil posisi netral di kawasan Timur Tengah selama ini.

Lawatan China tersebut sebetulnya sudah dirancang sejak musim semi 2015. Tapi, kunjungan selalu batal setelah koalisi Sunni pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan militer ke Yaman melawan Huthi yang didukung Iran.

Tak ayal, kunjungan Xi Jiping pada awal 2016 lalu merupakan peristiwa bersejarah. Apalagi pemerintah China telah memberi signal siap membantu mengatasi segala masalah rumit yang terjadi di kawasan.

Dengan kebijakan baru ini, jelas telah terjadi perubahan besar dalam kebijakan politik luar negeri Cina. Bahwa tirai bambu telah dibuka. Pemerintah China, ibarat seorang gadis mulai bersolek dan berinteraksi lebih dekat dengan dunia Arab, bahkan mulai bergaul dengan erat. Bujuk rayu dan saling janji pun mulai terjalin mesra dengan para pemimpin Arab. Jalinan kerjasama perang melawan aksi teror pun mulai di hela, termasuk tukar-menukar informasi intelijen dan kerjasama teknis di lapangan.

China masuk ke tanah Arab memanfaatkan krisis sektarian yang tengah berkecamuk. Krisis sektarian di dunia Arab adalah pintu masuk yang tepat guna menerapkan strategi baru kebijakan politik luar negerinya di kawasan Timur Tengah, tentu saja dengan berbagai konsekuensinya.

Keseriusan Beijing mulai terlihat sebelum peristiwa eksekusi al-Nimr, Xi Jinping mulai aktif mencari langkah terobosan agar China dapat terlibat dalam menengahi krisis Suriah. Xi Jinping kemudian mengadakan pertemuan tingkat tinggi di Beijing pada bulan Desember yang dihadiri oleh Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem dan kepala kelompok oposisi, Koalisi Nasional Suriah (SNC), guna mencari resolusi damai.

China pun mengutus Wakil Menlu Zhang Ming ke Arab Saudi dan Iran untuk membantu menurunkan ketegangan akibat eksekusi ulama Syiah yang kontroversial dan serangan terhadap kedutaan Arab Saudi di Teheran.

Pada  13 Januari, Beijing merilis Kebijakan “Arab Paper”, sebuah dokumen yang samar-samar mengartikulasikan kepentingan China di Timur Tengah, khususnya dukungan terhadap pemerintah Suriah dalam menyelesaikan konflik.

Ada tiga faktor utama yang mendorong China akhirnya terlibat langsung lebih dalam lagi di kawasan Timur Tengah.

Pertama, secara kultural, Cina sangat khawatir dengan konflik-konflik sektarian yang berkepanjangan dan aksi teror yang melanda kawasan Timur Tengah bisa saja masuk dan menulari pemikiran populasi muslim-nya yang besar. Sebagai informasi, Daerah Otonomi Uighur Xinjiang memiliki luas hampir 17% dari wilayah China dan berbatasan langsung dengan Mongolia, Rusia, Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan dan Pakistan. China memberi nama “Xinjiang” setelah menganeksasi wilayah tersebut di akhir abad ke-19. Masyarakat adat Xinjiang adalah orang-orang Turki yang mayoritas Muslim. Mereka termasuk Uighur, Kazaks, Uzbek, Kyrgyz, Tajik, Tatar dan kelompok lainnya termasuk Hui, etnis Cina yang beragama Islam.

Kedua, kepentingan strategis terhadap energi. Tidak bisa dipungkiri bahwa lebih dari separuh pasokan impor energi China berasal dari kawasan Timur Tengah. Untuk mengamankan kepentingan energi nasionalnya, China telah menginvestasikan proyek energi di lebih dari 50 negara. Dengan strategi ini, China mampu mengimpor tak kurang dari 60 persen minyak pada 2014 serta 32% gas alam dari beberapa negara. Berdasarkan laporan Pentagon, China telah membeli 51 persen kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah. Di mana 43% pengiriman minyaknya harus melalui Selat Hormuz, sementara 57% melalui Selat Malaka.

Dan kepentingan lainnya adalah program Jalur Sutra, yang mencakup pembangunan proyek-proyek infrastruktur di negara kawasan dengan gagasan One Belt One Road. Indonesia sendiri  merasakan efek ambisius negara komunis itu yang ingin menjadi pusat dunia.

Kembali ke Timur Tengah. China sadar betapa pentingnya tanah Arab. Jika tidak dirangkul, niscaya kepentingan nesionalnya terkait pasokan energi terancam. Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China pun bereaksi dan tak sudi hanya sekadar menajdi penonton belaka.

China berusaha menjaga keseimbangan Iran dan Arab Saudi. Pasalnya, Amerika Serikat dan Rusia telah berpihak kepada masing-masing kelompok yang bertikai. Tidak lagi mampu menjaga keseimbangan antara Iran dan Arab Saudi.

Di sinilah China melihat peluang baik untuk mengisi kekosongan tersebut. Dengan komitmen menjaga stabilitas kawasan, China mulai terjun langsung dalam arena konflik di Timur Tengah. Penyelesaian konflik dan stabilitas kawasan kini menjadi ciri khas kebijakan luar negeri Cina di abad ke-21.

China memiliki gagasan besar untuk menghubungkan daratan dan perairan yang membentang dari Cina sampai ke jantung Eropa, dalam koridor jaringan perdagangan dan transportasi sebagai upaya merangsang pertumbuhan ekonomi Asia dan menciptakan pasar baru bagi barang dan jasa China dengan inisitif One Belt One Road. China telah mempersiapkan wilayah Xinjiang sebagai pintu gerbang utama bagi wilayah Timur Tengah dan Asia Selatan.

Pasca kunjungan Xi Jinping, Arab Saudi segera meluncurkan program reformasi ekonomi yang diluncurkan pemerintah pada tahun 2016 lalu. Program tersebut bertujuan untuk mendiversifikasi ekonomi dan sebagai upaya modernisasi tatanan masyarakat. Pasalnya, selama ini lebih dari 85 persen penerimaan negara Arab Saudi berasal dari minyak. Penurunan harga minyak secara tajam memaksa Arab Saudi memikirkan kembali strategi ekonominya. Pada 2015 saja, defisit anggaran Arab Saudi mencapai 366 miliar riyal atau 98 miliar dollar AS dan pada 2016 mencapai 297 miliar riyal pada tahun 2016.

Seperti ditulis Kompas, Untuk menambal anggaran yang bolong, Arab Saudi pun terpaksa berutang untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, di mana negara itu berhasil memperoleh dana 17,5 miliar dollar AS. Arab Saudi pun sudah memangkas subsidi energi, memotong gaji pegawai pemerintah, dah memperingatkan adanya penghematan selama empat tahun. Arab Saudi pun dikabarkan mengajukan utang senilai 10 miliar dollar AS ke perbankan internasional. Awalnya negara itu mengajukan utang sebesar 8 miliar dollar AS.

Akan tetapi, tingginya permintaan membuat Kementerian Keuangan Arab Saudi meningkatkan jumlah utang menjadi 10 miliar dollar AS. Pengajuan utang kepada lembaga internasional ini merupakan yang pertama dalam 25 tahun, atau kali pertama sejak awal tahun 1990-an. Rencana transformasi ekonomi Arab Saudi antara lain mencakup pemotongan subsidi, kenaikan pajak, penjualan aset negara, efisiensi pemerintahan, dan menaikkan investasi asing.

Menjelang satu tahun kunjungan Xi Jinping dan program reformasi ekonomi Arab Saudi, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud berkunjung ke Indonesia 1-9 Maret 2017. “Yang perlu disoroti memang apa kepentingan di balik kedatangan Sang Raja, uang siapa yang dibawa, serta kepentingan siapa di luar kepentingan Arab tentunya. Dan ini baru awal dari tanda-tanda perubahan global,” kata sumber terpercaya nusantaranews.

Sekadar flashback, geopolitik Indonesia di mata China adalah menyangkut soal Indonesia bisa menjadi penghubung China dengan negara-negara Islam, termasuk Arab Saudi sehingga Indonesia bisa memetik manfaat dari kerja sama dengan China. Artinya, Indonesia bisa jadi negara yang dapat dimanfaatkan China untuk masuk ke negara-negara Islam karena populasi muslim Indonesia yang mayoritas dan terbesar di dunia merupakan proposal menjanjikan.

Sehingga, kunjungan Raja Arab ke Indonesia sebetulnya bukanlah sesuatu dan momen yang mengejutkan. Tetapi memang sudah dirancang dan direncanakan sejak tahun lalu dengan tujuan menjalankan langkah-langkah program reformasi ekonomi Arab Saudi. Tak hanya Indonesia, Raja Arab juga akan melakukan kunjungan kenegaraan ke beberapa negara di Asia, antara lain Malaysia, Indonesia, China, dan Jepang.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar