Udara Kotor/Polusi udara/Foto via kbr.id/Nusantaranews
Udara Kotor/Polusi udara/Foto via kbr.id/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Greenpeace Indonesi menilai bahwa udara yang ada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) masuk dalam kategori buruk. Salah satu polutan paling berbahaya, Particulate Matter (PM) 2.5, sudah jauh melebihi ambang batas di wilayah Jabodetabek.

Hal ini mengacu pada pemantauan kualitas udara yang dilakukan Greenpeace Indonesia melalui alat pemantau yang diletakkan di 19 titik di kawasan Jakarta dan sekitarnya. Alat tersebut menghasilkan data yang bisa dilihat melalui aplikasi mobile UdaraKita, yang diluncurkan awal Februari silam.

“Hasil pemantauan ini menandakan udara di Jabodetabek sangat tercemar. Selama ini kita tidak pernah menyadari betapa buruknya kualitas udara Jakarta karena tidak ada data yang tersedia,” ujar Bondan Andriyanu, Jurukampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia melalui rilisnya yang dilansir dari greenpeace.org, Sabtu (8/4/2017)

Berdasarkan data yang diungkapkannya, pemantauan udara yang dilakukan selama Februari dan Maret itu memperlihatkan data yang mencengangkan. Di wilayah perumahan seperti Cibubur misalnya, tingkat PM 2.5 rata-rata selama dua bulan berada di angka 103.2 µg/m3.

“Ini jauh dari batasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yakni 25 µg/m3, dan standar minimum Baku Mutu Udara Ambien Nasional 65 µg/m3,” kata Bondan.

Tak hanya itu, daerah perumahan lainnya yakni di Kebagusan (65.9  µg/m3) dan Gandul-Depok (71.5  µg/m3) juga sama tingginya. Menurut Bondan, kondisi tersebut tidak bisa dibiarkan. Pasalnya, PM 2.5 adalah polutan yang secara diam-diam membunuh kita.

Polutan ini, kata Bondan, sangat kecil hingga berukuran satu per tiga puluh dari satu helai rambut, dan bisa menyebabkan berbagai macam penyakit. Seperti penyakit pernafasan akut pada anak, penyakit paru kronis, penyakit jantung, kanker paru-paru, dan stroke.

“Data ini membantu kita memahami bahwa beberapa penyakit yang selama ini kita derita berkaitan erat dengan kualitas udara yang kita hirup tiap harinya,” jelas Bondan.

Ia menyampaikan, dengan menggabungkan analisis risiko dari Global Burden of Disease Project yang dilaksanakan The Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan tingkatPM 2.5 tahunan, Greenpeace dapat menghitung meningkatnya risiko kematian karena penyakit tertentu pada berbagai tingkat PM 2.5 tahunan.

Menurut dia, resiko kematian akibat stroke meningkat hampir 2.5 kali lipat di Cibubur dan sekitar 2 kali lipat di wilayah Tambun, Setiabudi, Citayam, Ciledug, Kebagusan, Depok, Cikunir, Jatibening, dan Warung Buncit.

“Solusinya, pemerintah harus memasang alat pemantau kualitas udara, serta menyajikan data hasil pemantauan yang bisa diakses oleh publik,” tutur Bondan.

Berbekal informasi tersebut, pemerintah dapat merancang dan menerapkan strategi untuk mengurangi polusi udara dengan mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum, memperbesar porsi penggunaan energi baru-terbarukan, serta memperketat regulasi emisi khusus untuk sektor pembangkit.

Reporter: Richard Andika

Komentar