Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un. Foto Reuters/Bobby Yip
Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korut Kim Jong-un. Foto Reuters/Bobby Yip

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Ketika Amerika Serikat dan Korea Utara saling unjuk gigi kekuatan militer yang semakin panas, Presiden AS Donald Trump malah memberikan pandangan mencengangkan terhadap Pemimpin Korut Kim Jong-un.

Dilaporkan kantor berita Reuters, Trump mengaku bahwa Jong-un cukup hebat karena berhasil mengambil alih sebuah rezim di usia muda.

“Saat itu umurnya masih 27 tahun. Ayahnya meninggal, lalu dia mengambil alih sebuah rezim. Jadi menurut saya itu bukanlah hal mudah, terutama dia melakukannya di usia semuda itu,” ujar Trump yang dilansir dari The Independent, Sabtu, 29 April 2017.

Namun setelah ungkapan itu mencuat ke publik, Trump mengklarifikasi jika dirinya tidak memberi pujian terhadap Jong-un. Trump mengaku hanya memberi penilaian khususnya pada situasi sekarang di mana kerasionalan Jong-un kerap dipertanyakan.

“Saya tidak memberinya pujian, saya hanya menyatakan bahwa itu adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Mengenai apakah dia rasional atau tidak, saya tidak memiliki pendapat mengenai hal itu. Saya harap dia orang yang rasional,” ungkap Trump.

Perkataan Trump ini sejalan dengan keputusan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson untuk duduk bersama dan mengadakan pembicaraan langsung dengan pemimpin Korut mencari solusi diplomatik.

“Tentu saja ini jelas. Itulah cara kami untuk menyelesaikan masalah ini,” kata Tillerson.

Menurut Tillerson, upaya diplomatik sebenarnya bisa dengan mudah dibangun dengan Korut. Sebab, Jong-un bukanlah orang tak waras seperti yang banyak diberitakan selama ini.

“Semua indikasi menunjukkan bahwa dia tidak gila. Dia mungkin kejam, mungkin juga pembunuh, atau seseorang yang sering kita pikirkan selama ini. Menurut kita ini memang tidak masuk akal, tetapi dia tidak gila,” papar Tillerson.

Pernyataan Tillerson tersebut digadang-gadang sebagai harapan bahwa Jong-un bisa melepaskan ambisi nuklirnya secara sukarela. Sebab, AS menilai uji coba nuklir yang kerap dilakukan Korut menimbulkan ketegangan dengan beberapa negara lain.

Pewarta: Richard Andika
Editor: Achmad Sulaiman

Komentar