Khazanah

Mencari Rimba Kedaulatan Bangsa Di Sektor Ekonomi

Perdagangan Nusantara Zaman Kerajaan. Foto Ilustrasi/Pidipedia
Perdagangan Nusantara Zaman Kerajaan. Foto Ilustrasi/Pidipedia

NUSANTARANEWS.CO – Legenda filsuf Cina, Confusius (500 SM) pernah berujar bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mampu bertahan dan hidup dengan budayanya sendiri. Dalam konteks ini, bentuk kebudayaan bisa beragam, salah satunya adalah ekonomi.

Ekonom Dawam Rahardjo juga pernah memaparkan jika kebudayaan itu bisa bersifat material dan non-material. Secara matematis bisa dijelaskan bahwa kebudayaan itu adalah set, sementara ekonomi adalah subset dari kebudayaan itu sendiri.

Ini artinya, aspek kebudayaan menjadi key word untuk membangun bangsa yang kuat.  Karena ia bersifat dinamis. Dengan kata lain, kekuatan ekonomi menentukan digdaya tidaknya sebuah bangsa.

Kaitannya dengan ini, Nusantara adalah bangsa yang memiliki potensi untuk menciptakan peradaban besar. Nusantara dengan kekayaan alamnya yang berlimpah. Nusantara yang sudah berdagang dan mengekspor rempah-rempah dengan menggunakan maskapai sendiri ketika bangsa-bangsa lain masih mencari nafkah dengan menjarah, adalah sedikit cuplikan tentang potensi besar bangsa ini.

Namun, realitasnya berbanding terbalik. Nusantara justru mengalami keterbelakangan dan pemiskinan akut. Tampaknya, ada yang salah dalam pondasi pemerintahan yang dijalankan. Padahal untuk membentuk emerging economy country, Indonesia memiliki bekal melimpah. Kasus paling nyata adalah pasar tradisional. Disadari atau tidak, pasar tradisional nasibnya kini berada di titik nadir. Antara hidup dan mati.

Dalam kiprahnya bersama bangsa ini, pasar tradisional telah mengatur roda ekonomi masyarakat. Menjadi basis interaksi sekaligus gerakan perekonomian rakyat. Tanpa ada sekat pembatas, pasar tradisional menjelma menjadi kekuatan ekonomi masyarakat di akar rumput.

Selama ratusan tahun lamanya, pasar telah menjaga ritme ekonomi. Pasar tradisional bergerak secara kultural dan menaungi segala aktifitas transaksi semua kelas. Ironisnya, pasar tradisional yang menjadi wajah kebudayaan ekonomi pribumi, faktanya terus dikeberi dengan bercokolnya mall-mall dan sederet pusat berbelanjaan asing.

Jika tolok ukur negara maju ditentukan berjubelnya jumlah bangunan pencakar langit, maka kita sudah maju. Tapi kenyataanya, apa yang bisa di peroleh rakyat? Dalam tataran ini untuk menuju emerging economy country yang esensial, maka ketersedian pangan dan meratanya kekuatan ekonomi di grass root merupakan mahar yang tak bisa ditawar lagi.

Logikannya, bagaimana akan bisa bersaing, jika praksisnya, ekonomi rakyat sengaja di pinggirkan. Sebaliknya, kekuatan-kekuatan asing yang justru berkuasa di tanah kelahiran sendiri. Mengutip Anand Krishna, jangan hanya mempelajari sejarah, tetapi belajarlah dari sejarah, tampaknya relevan guna mencari rimba kedaulatan bangsa saat kini. (Adhon)

Komentar

To Top