Generasi Muda Untuk Bangsa. Foto Ilustrasi/IST
Generasi Muda Untuk Bangsa. Foto Ilustrasi/IST

NUSANTARANEWS.CO – Generasi adalah sekelompok manusia yang hidup bersama pada era atau waktu tertentu dengan memiliki ciri yang merupakan kebanggaan untuk diperjuangkan dan dilestarikan dalam hidupnya. Tapi, bisa saja setiap generasi tidak begitu saja menerima warisan pendahulunya sehingga bisa menimbulkan kekisruhan. Barangkali hal ini disebabkan oleh cara dan proses alih generasi yang dinilai kurang pada tempatnya.

Sejak abad XX hingga saat ini, perkembangan generasi yang lahir pada bangsa Indonesia terdiri dari empat generasi. Yaitu, generasi kebangkitan nasional atau bangsa Indonesia yang ditandai dengan berkembangnya gagasan yang mendorong tumbuhnya kesadaran generasi akan eksistensinya sebagai suatu bangsa. Generasi pertama ini biasa disebut sebagai generasi ’08 dengan eksponennya seperti Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Soetomo dan sebagainya.

Generasi kedua adalah generasi kesadaran bangsa yang ditandai dengan suatu deklarasi atau pernyataan generasi bahwa dirinya merupakan suatu bangsa yang bertanah air dan memiliki satu bahasa yang disebut Indonesia. Generasi ini disebut generasi ’28 atau generasi Sumpah Pemuda dengan tokohnya Ir. Soekarno, Mr. Moh. Yamin dan sebagainya.

Generasi ketiga adalah generasi proklamasi eksistensi negara-bangsa. Generasi ini ditandai dengan pernyataan berdirinya suatu negara-bangsa yang bernama NKRI. Generasi ini biasa disebut generasi ’45. Generasi ini bisa dibilang tak mudah. Sebab, untuk merealisasikan eksistensi negara-bangsa dilalui dengan perjuangan yang dahsyat; harta dan jiwa dikorbankan. Bahkan eksistensi negara-bangsa tidak terbatas pada eksistensi fisik, tetapi mewujud dalam kedulatan bangsa dalam bentuk berdaulat secara politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam sosial budaya yang merupakan manifestasi dasar negara Pancasila.

Generasi keempat adalah generasi pengisi kemerdekaan. Sebut saja ini adalah generasi ’66 bercirikan pembangunan segala dimensi kehidupan bangsa meliputi ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya hingga pertahanan-keamanan.

Memasuki abad ke-21 bangsa Indonesia berhadapan dengan globalisasi sebagai dampak dari perkembangan dunia. Pada generasi ini dicirikan dengan kebebasan, keterbukaan dan kesetaraan. Di sinilah tantangannya. Berkembangnya globalisasi bangsa Indonesia perlu melakukan restorasi, revitalisasi dan rekonstruksi terhadap gerak langkah pembangunan yang diselenggarakan dalam mengantisipasi perkembangan mondial. Dan boleh jadi generasi ini disebut generasi pemerkokoh karakter dan jati diri bangsa.

Generasi terakhir ini bisa disebut generasi ’00. Tanpa karakter dan jati diri yang handal bisa saja bangsa Indonesia larut pada budaya yang berkembang secara global yang berdampak pada eksistensi Indonesia sebagai suatu negara-bangsa. Ini adalah tantangan sekaligus tantangan hingga masa-masa mendatang.

Kontekstualitas generasi ’00 ini diperlukan kesadaran (conciousness) yang mendasar mengenai landasan dan pola pembangunan yang diselenggarakan. Mengingat, kondisi perekonomian negara-bangsa dipandang masih cukup memprihatinkan.

Pungkasan, salah satu poin penting yang harus dilakukan dalam rangka menanggapi perkembangan terkini, generasi terakhir ini perlu mengusahakan kelanjutan dan melestarikan gagasan dasar dan program dasar pembangunan yang perlu diselenggarakan oleh generasi dewasa ini. Poin paling penting lagi bagi generasi pemerkokoh karakter dan jati diri bangsa adalah menghargai, menghormati hasil yang telah dicapai oleh generasi-generasi masa lampau. (Sego)

Komentar