Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin/Foto Nusantaranews via panjimas.com
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin/Foto Nusantaranews via panjimas.com
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin/Foto Nusantaranews via panjimas.com
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin/Foto Nusantaranews via panjimas.com

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meyakini, organisasi masyarakat (Ormas) Wahdah Islamiyah (WI) dapat menepis semua tuduhan-tuduhan buruk terhadap kaum muslim melalui stigmatisasi terorisme dan sebagainya. Melalui penyebaran Islam secara kaffah (komprehensif) dan wasathiyah (moderat) yang diusung WI, diharapkan masyarakat tidak resah dan takut lagi terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya rahmat bagi semuanya, termasuk bagi non muslim.

“Saya berharap WI menjadi pelopor dakwah berbasis kasih sayang, toleransi dan menghargai keberagaman,” katanya.

Menteri Lukman juga menyoroti tema yang diusung WI dalam muktamar kali ini, yaitu “Mewujudkan Indonesia Damai dan Berperadaban dengan Islam yang Washatiyah”. Menurutnya, ada dua hal penting yang harus digarisbawahi terkait dengan tema tersebut.

Pertama, kata Lukman, komitmen WI agar terus mengupayakan kehidupan bermasyarakat yang damai dan berperadaban dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dipertegas lagi dengan tagline ‘sejuta cinta untuk Indonesia’ yang bermakna bahwa WI ingin menunjukkan kecintaanya terhadap Indonesia.

“Karena sejatinya cinta terhadap bangsa dan negara tidak bertentangan dengan ajaran Islam,” kata Lukman.

Kemudian yang kedua, kedamaian dan peradaban tersebut berbasis Islam yang moderat. Artinya, ekstrimisme dengan segala macam varianya tidak menjadi jalan bagi Ormas WI. “WI memilih jalan tengah, moderasi dan wasathiyah sebagai prinsip sekaligus instrumen utama dakwahnya,” sambung Lukman.

Lebih lanjut, Lukman menekankan pentingnya gerakan wasathiyah ini sebagai penengah antara ekstrimis kiri dan kanan yang kian menguat. Ekstrimis kiri melahirkan gerakan liberalisme, pluralisme dan sekulerisme beragama. Sementara, ekstrimis kanan menumbuhkan radikalisme, fanatisme buta bahkan terorisme atas nama agama.

“Tarik menarik dua kutub ini, jika dibiarkan lambat laun akan memporak-porandakan konstruksi keislaman yang dibangun oleh ulama pendahulu. Maka, dakwah Islam wasathiyah menjadi mega proyek seluruh lapisan bangsa, termasuk Ormas Wahdah Islamiyah,” tandasnya.

Sementara itu, peninjau sekaligus peneliti dari Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, Chris Chaplin mengatakan, WI sangat transparan dalam menjalankan agamanya. Ia sangat tertarik mempelajari WI karena tidak mengajarkan kekerasan dalam berdakwahnya.

“Yang menarik, mereka tidak berpolitik. Mereka lebih transparan kepada saya,” ujar peneliti yang bermarkas di Belanda itu. (Achmad)

Komentar