Memuwurkan Benih dan Duror Terakhir – Puisi Juli Prasetya Alkamzy

0
Lukisan "Jagad Bumi", 300 x 200 cm (2009)/Foto: Dok. sangkringartspace.net

Duror Terakhir

Maka malam ini adalah shalawat santri-santri yang mengakhiri doa-doa menuju purnama yang paling suci. yang penuh dengan gambaran pahala-dilipatgandakannya doa dan diterimanya segala pinta
Maka malam ini adalah perjanjian terakhir kita, untuk sementara waktu tidak bertemu dan bernyanyi menyenandungkan lagu-lagu tentang kekasih
Maka malam ini untuk sementara waktu kitab-kitab sejarah kita tutup dahulu
Mulai dari albarzanji dan simtuddurror sebelum kita pergi dan pulang kembali
Maka malam ini, tak ada yang perlu kita tangisi apalagi kita tertawakan, karena membaca dan mengaji adalah riwayat kitab-kitab pedalaman sendiri

Purbadana, 2016

Ziarah Ke Masa Lalu
:Kepada Ki Santarji

Tak ada bunga yang ku taburkan di halaman rumahmu
Tak ada air yang ku tuangkan pada tanah yang merindukan harum semerbak bunga Melati dan kamboja
Karena aku hanya membawa doa dan kenangan-kenangan anak cucu yang bisa ku ceritakan padamu
Melalui nisan, melalui kenangan, dan ingatan yang memintaku untuk pulang

Pemakaman, 5 Juni 2016

Memuwurkan Benih

Hari ini adalah rangkuman hari tentang menyaksikan matahari dan pelangi yang paling meriah
Aku tak paham apakah akan tumbuh. berbunga lalu kemudian berbuah
Puisi-puisi yang ku muwurkan pada tanah setelah di gaharu dengan keringat yang paling tabah

Aku tak paham, akan banyakkah nektar yang akan tersesap
Atau bunganya gugur sebelum rahim musim menemukan cuaca yang paling senyap
Aku tak paham apakah ia akan merupa pohon yang tegap berdaun lebat
Yang melindungi semut-semut dari teriknya angin padang pasir

Aku bahkan tak paham, apakah ia menjelma bukit zaitun
Bagi sarang burung-burung untuk mengerami telur
Atau menjadi sawah yang barokah bagi petani yang mencari
Mata air paling hujjah

Aku hanya ingin menanam kata
Menyemai makna dan kularungkan
Di karung-karung diksi
Memberi pupuk dan air di sawah-sawah berhati

Aku hanya ingin Memuwurkan benih
Pada bekas-bekas tanah yang telah dibajak petani puisi
Sambil mengucapkan bismillah
Tumbuhlah serupa doa-doa bagi upacara yang paling elegi

Purwokerto, April 2016

Muwur*

Seusai tanah dilubangi dengan marwah
Biji-biji doa kita tuangkan kepada persemaian yang paling rohmah
Kita taburkan biji-biji dengan berbagai jenis harapan dan doa-doa
Serta berkali-kali mengucap bismillah dan mantra

Kemudian dari bjilah akar akan menembus kepada inti bumi
Dan daun-daun bergantian luruh menjadi kuning kelabu
Maka pagi adalah waktu kita menaburkan benih-benih masa lalu
sampai menjelang senja ayah ibu menemani kita untuk  membaca dan mengartikan makna

Purbadana, 9 Mei 2016

*Muwur : Menaburkan/Menaruh Biji Pada Lubang yang telah disiapkan/ diManja

Juli Prasetya Alkamzy/Istimewa
Juli Prasetya Alkamzy/Istimewa

Juli Prasetya Alkamzy, adalah nama pena dari Juli Prasetya, ia adalah seorang  mahasiswa Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) IAIN Purwokerto, lahir pada tanggal 23 Juli 1993 di sebuah dusun terpencil di Desa Purbadana RT 05/02 Kec. Kembaran Kab. Banyumas, Jateng, Puisinya pernah di muat di Satelit Post, Tabloid poin , Majalah Obsesi, Buletin Jejak, Banjarmasin  pos, Buletin Kanal, Majalah Ancas, Sastra Sumbar, dan Medan Bisnis.Ppuisi tunggal perdananya, Menyingkap Langit, Membuka Hatimu (2014) sedang menyiapkan puisi tunggal kedua, Suara Yang Mencintai Sunyi. Sekarang ia tinggal dan tergabung dalam Takmir Masjid Darunnajah IAIN Purwokerto serta menjadi Pimred Majalah OBSESI. Kritik dan saran selalu dinanti 089649016878 email: [email protected]

Komentar