NUSANTARANEWS.CO – Apakah konsep One Belt One Road sejalan dengan visi Poros Maritim Dunia Indonesia? Pertanyaan tersebut, menjadi topik utama dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku yang sedang berlangsung di Auditorium Gajah Mada, Gedung Pancagatra Lantai 3 LEMHANAS RI, Rabu 31 Agustus 2016, yang berjudul “Arungi Samudra Bersama Sang Naga Sinergi Poros Maritim Dunia dan Jalur Sutra Maritim Abad Ke-21”

Menyikapi topik hangat tersebut, berdasarkan hasil diskusi terbatas litbang nusantaranews.co beberapa waktu lalu, bahwa menjadi Poros Maritim Dunia sebenarnya sudah menjadi takdir geopolitik politik bangsa Indonesia, namun sayang takdir tersebut tidak menjadi kenyataan. Pada globalisasi gelombang kedua yang berakhir pada peristiwa 9/11 (world trade center), Indonesia justru menjadi negara tertinggal, kalah dengan negara tetangga. Dalam kompetisi globalisasi gelombang kedua, Cina secara menyolok telah bangkit menjadi kekuatan ekonomi raksasa dunia, disusul Korea Selatan, Malaysia, dan Vietnam. Negara-negara ASEAN lain pun telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, seperti Filipina, Laos, Kamboja, bahkan Myanmar telah menjadi lumbung siaga beras ASEAN  dengan stok 500 ribu ton per tahun.

Cina memiliki gagasan besar untuk menghubungkan daratan dan perairan yang membentang dari China sampai ke jantung Eropa, dalam koridor jaringan perdagangan dan transportasi sebagai upaya merangsang pertumbuhan ekonomi Asia dan menciptakan pasar baru bagi barang dan jasa China dengan inisiatif One Belt One Road. Sebuah inisiatif pembangunan ekonomi yang paling ambisius dalam sejarah manusia, di mana Beijing berkomitmen ratusan miliar dolar untuk menggairahkan kembali pertumbuhan ekonominya yang kini sedang melambat.

Indonesia sendiri dengan inisiatif Poros Maritim Dunia belum menunjukan konsep yang jelas. Jargon Poros Maritim Dunia sebagai masa depan Indonesia apakah sekedar menumpang proyek Jalur Sutra Maritim Abad 21 yang sedang dijalankan oleh China? Atau Indonesia memang memiliki Grand Design sendiri yang jauh lebih besar dari mimpi China yang ingin membangun koridor nostalgianya?(banyu)

Komentar