Energi terbarukan dengan memanfaatkan sinar matahari dan angin (udara). foto via climates
Energi terbarukan dengan memanfaatkan sinar matahari dan angin (udara). foto via climates

NUSANTARANEWS.CO – Mewujudkan masa depan energi bersih, telah menjadi agenda penting dan mendesak oleh beberapa negara-negara dunia. Ini dibuktikan dengan ekspansi besar-besaran dari proyek pembangkit listrik yang berkelanjutan diberbagai belahan dunia.

Negara-negara Eropa misalnya, tampak sangat ambisius untuk bersaing satu sama lain dalam capaian energi baru terbarukan (EBT) mereka. Tahun 2015 lalu, Denmark mampu menghasilkan 140 persen dari kebutuhan listriknya setiap hari dengan hanya memanfaat energi listrik bersumber dari turbin angin. Sisanya kemudian diekspor ke Norwegia dan Swedia.

Terbaru, pada Mei 2016 lalu, Jerman tengah benar-benar menjalankan energi bersih untuk kebutuhan harian masyarakatnya dengan memanfaatkan EBT dari turbin angin dan panel tenaga surya. Pada bulan yang sama, gerakan serupa juga dilakukan oleh Portugal.

Dimana negara yang pernah menjajah Indonesia ini sepenuhnya memanfaatkan sumber energi terbarukan untuk kebutuhan 107 jam perharinya atau sekitar empat setengah hari. Hal ini ditempuh sebagai upaya hemat energi dengan menyelinginya menggunaan  energi ramah lingkungan.

Sementara di Amerika Tengah yakni Kosta Rika dengan mengejutkan mampu mengungguli negara-negara Eropa dalam memaksimalkan EBT pada 2016. Selama lebih dari 250 hari pada tahun lalu, negara tersebut sukses mengurangi ketergantungannya terhadap sumber energi dari bahan bakar fosil dan menarik listrik dari pembangkit listrik tenaga air, turbin angin dan panas bumi.

Capaian beberapa negara di Eropa dan Amerika ini menunjukkan bahwa ketergantungan negara-negara dunia terhadap bahan bakar fosil dan nuklir akan segera bergeser pada pemanfaatan sektor EBT. Tentu saja EBT adalah jawaban atas masa depan ketahanan energi dunia.

Pertanyaannya bagaimana dengan kesiapan Indonesia, yang sesungguhnya memiliki potensi besar di sektor EBT, mulai dari turbin angin, panel surya, pembangkit listrik tenaga air hingga panas bumi. Mampukah Indonesia menanggalkan ketergantungannya terhadap energi berbahan bakar fosil secara ideal dalam waktu dekat ini?

Kita paham pemerintah saat ini juga tengah membahas tentang sektor EBT, namun sejak 2016 lalu, diskursus sektor EBT hanya sebatas tema dialog belum mencapai tahapan realisasi. Dengan kata lain, Indonesia mestinya harus segera sigap dalam menjawab tantangan kebutuhan energi dunia di masa depan.

Bandingkan dengan India, dimana negara yang terkenal dengan produksi film Bollywodnya ini tampak sangat ambisius untuk meningkatkan sektor energi baru terbarukan (EBT). Dalam rilis yang dikutip redaksi Seni (20/3/2017) Departemen Energi Baru dan Terbarukan (MNRE) India tengah menggenjot produksi listrik bersih mencapai 175 gigawatt (GW) sampai pada tahun 2022, diantaranya 100GW akan dihasilkan daru energi surya.

Hal ini tak berlebihan, mengingat pemerintah India telah membangun beberapa taman matahari yang di dalamnya dipasang pohon-pohon elektrik dengan panel surya guna menghasilkan kebutuhan energi di sana. Untuk mencapai itu semua, menurut laporan Bloomberg New Energy Finance (BNEF) diperkirakan India menghabiskan dana sebesar US 100 miliar dolar dalam pendanaan. Pertanyaannya, bagaimana dengan Indonesia?

Penulis: Romandhon

Komentar