Berita Utama

Membedah Sisi Lain Kartini di Era Generasi Millenial*

RA Kartini/Foto ilustrasi via DeviantArt/Nusantaranews
RA Kartini/Foto ilustrasi via DeviantArt/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Jika dibalut rindu, perjalanan ke Jepara terasa dekat saja. Sebelum masuk di kotanya, kita akan disambut dengan tulisan Selamat Datang di Bumi Kartini. Bagi penulis, tulisan itu benar adanya. Jika dibubuhi dengan Raden Ajeng justru akan membuat beliau terusik dalam tidur panjangnya.

Sebagai keturunan ningrat, bangsawan Jawa, Kartini ingin diperlakukan sebagai manusia biasa. Tidak perlu kita mengagung-agungkan lantaran ia terlahir sebagai bangsawan.

Ya, bangsawan keturunan. Mungkin baginya, yang lebih dibutuhkan saat ini adalah bangsawan ‘budi’, bangsawan ilmu, bangsawan pikir. Jika kita masih mengagung-agungkan ‘darah’ dan ingin diperlakukan layaknya ndoro berarti kita termasuk orang belum ‘move on’ dari sisa-sisa kebudayaan feodalisme Jawa yang ‘sakit’.

Kartini ingin menjadi bangsawan ilmu. Meski tidak bisa melanjutkan sekolah, Kartini tetap belajar. Ia membaca, terutama mempelajari perkembangan masyarakat Eropa yang mulai mengenal ide tentang kemanusiaan (humanisme) dan kesetaraan. Membaca menggugah kesadarannya.

Di dalam biliknya, sebagai perempuan yang dipingit, Kartini menjadi perempuan tercerahkan. Tergerakkan jiwanya untuk membebaskan bangsanya. Melawan feodalisme Jawa yang berselingkuh dengan kekuatan kolonial dalam rangka menghisap rakyat.

Citra Muslimah Jawa

Sebagai seorang Muslimah, Kartini sepertinya berpegang teguh pada kaidah almuhafadzah alal qodimisholih wal ahdzu bil jadidil ashlah. Mempertahankan tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.

Tradisi lama yang baik itu diantaranya adalah hasil karya seni bangsanya. Kartini tidak hanya mencintai batik, tapi juga ukiran dan gamelan. Semua itu indah dan perlu dipertahankan.

Tradisi baru yang harus diambil antara lain adalah kemajuan ilmu pengetahuan yang berkembang di Eropa. Bukankah kelahiran kita sebagai bangsa adalah buah simalakama dari pendidikan Eropa yang diselenggarakan pemerintah kolonial?

Kartini tidak menolak apa saja yang datang baik dari Arab, Cina, maupun pribumi. Dari mana pun asal baik ia ambil dan yang buruk ditinggalkan. Itulah hikmah, kewicaksanaan. Selamat hari Kartini! Pertanyaannya, bagaimana dengan nasib para Kartini di era generasi millennial saat ini? Entahlah!

* Azis Ahmad, Mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Sunan Kalijaga dan Santri Sunni Darussalam, Yogyakarta.

Editor: M. Romandhon

Komentar

To Top