Foto ilustrasi di balik rekonstruksi rumah majapahit. Foto via Nationalgeographic
Foto ilustrasi di balik rekonstruksi rumah majapahit. Foto via Nationalgeographic

NUSANTARANEWS.CO – Tidak selamanya mitos hanya dimaknai sebagai gugontuhon an sich. Bila dikaji secara lebih kritis, pamali (mitos/gugontuhan) tak ubahnya kearifan dan sumber referensi dalam laku kehidupan. Melalui term-term mitos inilah, akan diperoleh sebuah pemahaman secara kritis terkait kajian ‘ilmu kuno’ yang menarik untuk diungkap kembali.

Kaitannya dengan ini, masyarakat Jawa begitu jeli dalam membentuk sebuah tata ruang bangunan. Hal ini diuraikan berdasarkan sebuah teguran yang tersirat di balik ungkapan ojo ngedekake omah tanpo tutup keyong, artinya jangan mendirikan rumah tanpa tutup samping atap. Hal ini menunjukkan bagaimana pola yang dipakai sarat dengan makna. Menetapkan tata bangunan rumah melalui pesan simbolik.

Ada pula ungkapan sama seperti ojo migunake jogan tanpo dilemeki kloso, artinya jangan menggunakan balai-balai tanpa dialasi tikar. Ojo duwe sumur pas sak ngarepe omah, artinya jangan memiliki sumur tepat di depan rumah. Ojo duwe sumur pas sak burining omah, artinya jangan memiliki sumur tepat di belakang rumah. Jika merujuk pada teguran-terguran tersebut, penulis setidaknya bisa menangkap bagaimana masyarakat Jawa begitu peka dan jeli terhadap tata ruang tempat tinggal.

Inilah yang penulis sebut sebagai bentuk kesadaran tata ruang ala masyarakat Jawa. Dalam praktiknya, teguran-tegguran simbolik ini mampu diaplikasikan secara massif. Bahkan tidak ada yang berani untuk melanggarnya, karena dipercaya pesan tersebut mempunyai muatan-muatan magis yang bisa berdampak kesialan bagi si pelanggar.

Wajar, jika kemudian, tatkala menilik struktur bangunan rumah khas masyarakat Jawa, tidak ditemui sumur berada tepat di depan rumah, melainkan di samping kanan atau kiri halaman rumah.

Terlepas dari hal-hal yang bersifat magis maupun tahayul, konsep ini nyatanya mampu membentuk pola tersendiri dalam skema tata ruang masyarakat Jawa. Lebih jauh lagi, sebuah penemuan pemukiman masyarakat Jawa masa kerajaan Majapahit, juga didasarkan pada pola struktur tata ruang kota yang sama. Di mana letak sumur dan selokan air berada di samping rumah.

Slamet Moeljana, dalam Nagara Kratagama juga sedikit menyinggung bagaimana pola bangunan tata kota kerajaan Majapahit tempo dulu. Dimana struktur pemukiman Majapahit telah melampui struktur tata kota peradaban Mohenjodaro. Hal ini, dibuktikan pada kesadaran irigasi, letak sumur persis berada samping kanan bangunan rumah.

Karena itulah, penting kiranya kemampuan untuk menangkap ajaran-ajaran moral serta nilai-nilai kearifan yang tersimpan di balik teguran-teguran tersebut. Ini artinya, sebagai generasi yang melanjutkan misi kebudayaan harus pandai menangkap dan mengurai pelajaran berharga dari kearifan tersebut.

Baca: Narasi Simbolik Gugontuhan Jawa

Sebagaimana dikatakan Fuad Hasan menjelaskan bahwa keterkikisan identitas budaya suatu bangsa, terletak pada kegagalan generasi dalam memahami esensi kebudayaan sebagai kekuatan (Fuad Hasan, 1985: 67). Kaitannya dengan ini, artinya budaya yang telah diwariskan oleh leluhur harus mampu dicerna dan diuraikan kembali untuk misi melanjutkan kehidupan. (Romandhon)

Komentar