Seni tari di Jawa/Foto ilustrasi/Istimewa/Nusantaranews
Seni tari di Jawa/Foto ilustrasi/Istimewa/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Bentuk kemasyarakatan Jawa secara historis sosiologis pada dasarnya terdiri dari masyarakat kekeluargaan, gotong royong dan masyarakat berketuhanan. Masyarakat pada masa lalu bukanlah merupakan sekumpulan manusia yang menghubungkan individu satu dengan lainnya dan individu satu dengan masyarakat, akan tetapi merupakan suatu kesatuan yang lekat terikat satu sama lain oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi maupun religi.

Pada masa lalu, sistem kekeluargaan di Jawa tergambar dalam hukum adatnya. Ada istiadat dimana setiap orang laki-laki bekerja membantu keluarga yang lain dalam hal-hal tertentu seperti mengerjakan sawah, membuat rumah dan lain sebagainya.

Penghormatan kepada gunung, pegunungan, dan tempat-tempat tinggi. Sampai sekarang masih banyak yang menganggap bahwa gunung dikuasai oleh kekuatan adikodrati, danyang, makhluk halus, dan lain-lain. Banyak gunung di Jawa diperlakukan demikian, misal Gunung Salak, Merapi, Lawu, Kawi, Bromo, dan Semeru. Gunung Agung di Bali, Gunung Rinjani di Lombok, Gunung Dempo di Sumatra Selatan dan sebagainya.

Budaya Jawa-Hindu adalah bertemunya dua budaya purba yaitu budaya India dan budaya asli Jawa. Pertemuan tersebut menyebabkan terjadinya proses kontak budaya, sehingga terbentuklah sinkretisme budaya. Proses pembentukan budaya Jawa-Hindu berdasarkan proses invention, akulturasi dan inkulturasi.

Invention dapat diartikan sebagai keinginan suku Jawa untuk mendapatkan dan mencapai hal-hal yang baru dalam mengembangkan budayanya. Akulturasi dapat diartikan sebagai proses pembentukan budaya baru karena adanya budaya asing tanpa menghilangkan jati diri budaya sendiri. Inkulturasi dapat diartikan sebagai proses untuk mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran, sistem norma dan adat sendiri dalam menjawab tuntutan dan tantangan budaya baru.

Pengaruh agama yang datang dari India jelas tampak pada kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara sejak abad ke-5 M sampai abad ke-15 M, yaitu agama Hindu, Budha dan Tantrayana. Pengaruh India di Nusantara juga tampak pada candi-candi. Candi Hindu masa Sanjaya, Candi Budha masa Sailendra, maupun candi-candi masa Jawa Timur yang sudah dipengaruhi secara kuat oleh agama asli. Patung-patung dan relief Hindu dan Budha yang menghiasi candi tersebut berasal dari mitologi dewa India. Karya sastra seperti Mahabarata dan Ramayana yang berkembang di Indonesia khususnya di Jawa berasal dari India.

(ed) Romandhon

Komentar