Kolom

Membaca Makna Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA

Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)
Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)

Oleh: Simon Syaefudin

“Ayo, Guru, sirami rohani
Beri kami roti untuk hati
Ceritakan apa itu Burung Trilili?
yang mengatur nafas kami?”

Sang Guru terdiam lama
Bukannya tak mau membukakan mata
Namun rahasia jiwa
Tak bisa dinyatakan lewat kata

Guru bergumam di hati
Oh, anak-anakku yang sedih
Mereka luka rohani
Namun hanya mencari kata
Sebagai pemuas belaka

Itulah penggalan puisi esai Denny J.A. yang berjudul Burung Trilili – Bertengkar untuk Persepsi. Burung Trilili adalah satu  di antara 22 puisi esai Denny yang menggambarkan pencarian manusia terhadap Tuhannya.

Pencarian akan Tuhan merupakan sebuah proses penjelajahan spiritual yang tak pernah selesai. Setiap agama dan kepercayaan di muka bumi punya penggambaran yang spesifik tentang apa itu Tuhan. Bahkan, konon, binatang pun ingin mengetahui bagaimana Tuhannya. Anthony de Mello, misalnya, menceritakan bagaimana dua ekor jangkrik berdiskui  tentang  bentuk Tuhan.

“Tuhan itu seperti kita, cuma sungutnya lebih besar dan panjang dari sungut kita,” simpul sang jangkrik. Begitu sederhananya eksistensi Tuhan di mata para jangkrik.

Denny melalui puisi esai ini menggambarkan konsepsi tentang  Tuhan dengan Burung Trilili. Ini sah-sah saja karena konsep tentang Tuhan sangat luas dan imajinatif, tergantung persepsi dan budaya manusia yang berbeda-beda. Orang Arab menyebut Tuhan dengan nama Allah. Orang Jawa tradisional menamai Tuhan, Sang Hyang Tunggal. Orang Hindu Bali,  Sang Hyang Widi Wesha. Orang Jepang, Amaterasu Omi Kami. Tak ada masalah. Bahkan, anda pun bisa menyebut dengan nama apa saja tentang Tuhan. Karena Tuhan mempunyai banyak nama. Dalam literasi Islam, Tuhan mempunyai 99 nama yang dikenal dengan istilah Asma’ul Husna.  Tapi hakikatnya Tuhan memiliki nama yang tak terbatas.

Maulanan Jalaludin Rumi, penyair sufistik dari Persia,  menyatakan Tuhan mempunyai nama yang tak terbatas karena Tuhan tidak terdefinisikan. Apa-apa yang dapat dipikirkan, tulis Rumi, itulah yang bukan Tuhan. Demikian kompleks, imajinatif, dan langit – maka eksistensi Tuhan tidak bisa dibayangkan seperti apa. Dalam kondisi yang tak terimajinasikan  itulah, kemudian Tuhan pun “menyederhanakan”  eksistensi Dirinya agar manusia (yang paling bodoh pun sekali pun)  bisa mengenal Tuhannya, meski  dengan cara yang sangat sederhana. Orang-orang Kubu atau suku Anak Dalam di Jambi, misalnya, menanggap “Mata Air” sebagai Tuhan yang menghidupi manusia. Sederhana bukan?

Anthony de Mello SJ, dalam buku monumentalnya “The Song of Bird”  menggambarkan bagaimana Tuhan menjelma menjadi makanan. Konon, Tuhan memutuskan untuk mengunjungi bumi. Dia pun mengutus malaikatNya untuk menyelidiki keadaan lebih dahulu. Setelah kembali, malaikat melaporkan keadaan bumi. “Tuhan, kebanyakan manusia kelaparan dan menganggur,” kata malaikat. Lalu Tuhan pun berkata: “Baiklah, AKU akan menjelma  dalam bentuk makanan  bagi mereka yang kelaparan dan AKU menjelma jadi pekerjaan bagi mereka yang menganggur.”

Gambaran Tuhan de Mello ini mengingatkan pengakuan Tuhan pada Al-Qur’an bahwa DIA adalah   “Sosok yang lebih dekat dari urat leher” kita. Bahkan saking dekatnya Tuhan dengan manusia, sehingga DIA menyatu dalam diri manusia. Dalam sebuah hadist Qudsi, Allah menyatakan: “AKU lapar, berilah aku makanan. Dan AKU sakit, berilah aku obat.”  Malaikat berkata: “Wahai Tuhan, bukankah ENGKAU Maha Kuasa?”  Jawab Tuhan: “Aku berada dalam diri orang-orang yang lapar dan sakit itu!”

Lebih jauh lagi, dalam puisinya Rumi menyatakan:
Aku mencari Tuhan.
Yang Kutemukan adalah Diriku.

Rumi dalam mengenal Tuhan, dalam literasi sufisme Islam, disebut fana fillah. Melebur bersama Allah. Secara lebih modern, Neale Donad Walsch dari Amerika – seorang channelling yang mengaku sering membawakan pesan-pesan Tuhan – dalam bukunya yang kontroversial, Conversation With God, menjelaskan bahwa Tuhan di zaman modern boleh disebut apa saja dan diatas namakan apa saja.

Jika Anda ingin menyelamatkan bumi untuk masa depan manusia, sebutakan namaKu sebagai BUMI. Dengan demikian, sebutlah Atas Nama BUMI adalam setiap usahamu untuk menyelamatkan planet kecil ini,” kata Tuhan yang muncul dalam kalbu Walsch.

Bersambung… Baca: Membaca Makna Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA (Part II)

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar

To Top