Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)
Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)

Oleh: Simon Syaefudin

Pada akhirnya hanya sedikit dari mereka yang benar-benar sampai ke tempat yang teramat mulia di Istana Simurg berada. Dari ribuan burung yang pergi, tinggal 30 ekor yang masih bertahan dan akhirnya sampai di gerbang Istana Maharaja. Namun kondisi mereka sangat memprihatinkan, tampak gurat-gurat kelelahan di wajah mereka. Bahkan bulu-bulu yang menempel di tubuh mereka rontok tak bersisa. Di sini terlihat, meski mereka berasal dari latar belakang berbeda, namun pada proses puncak pencapaian spiritual adalah sama, yaitu dalam kondisi telanjang tanpa baju dan asesoris.

Di hadapan burung-burung yang pasrah itu, burung penjaga Simurg  menghampirinya. “Apa tujuan kalian susah payah datang ke Istana Raja Simurgh?” katanya. Serentak mereka menjawab, “Saya datang untuk menghadap Sang Maharaja Simurgh, berilah kami kesempatan untuk bertemu denganNya.”

Tanpa diduga, terdengar suara sayup-sayup menyapa mereka dari dalam istana, “Salaamun QaulamMin Rabbir Rahiim” sembari mempersilahkan mereka masuk ke dalam. Lalu mereka masuk secara bersama-sama. Kemudian terbukalah kelambu hijab satu demi satu yang berjumlah ribuan. Mata mereka terbelalak memandang keindahan yang amat mempesona, keindahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, keindahan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Tatkala seluruh hijab tersingkap, ternyata yang dijumpai adalah wujud dirinya. Burung-burung pun saling bertanya dan terkagum-kagum, “Lho kok aku sudah ada disini?” begitu guman mereka dalam hati. Seolah-olah mereka berada di depan cermin sehingga yang ada adalah wujud dirinya. Maka datanglah suara lembut menjawabnya, “Mahligai Simurgh ibarat cermin, maka siapapun yang sampai pada mahligai ini, tidak akan melihat wujud selain wujud diri sendiri. Perjumpaan ini di luar angan dan pikirmu, dan juga tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tidak dapat dipikirkan dengan otak. Tapi,  kalian dapat menikmatinya rasa. Karena itu, engkau harus keluar dari dalam dirimu sehingga engkau menjadi sosok  yang sempurna.”

Itulah gambaran perjalanan panjang manusia dalam mencari Tuhan oleh Al-Attar dalam “Musyawarah Para Burung.” Indah sekali. Tapi apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari manusia masa kini dalam perjalanan menemui Tuhannya?  Gambaran tentang Tuhan sudah dikemas dalam bentuk advertensi. Nomor satu adalah kecap buatannya.  Konsep tentang Tuhan agamaku adalah yang paling benar. Yang lain salah!

Denny dalam puisi “Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili” mengisahkan  pengetahuan manusia tentang “Tuhan” yang mulai dikemas dalam bentuk ajaran yang rigid dan formal dengan advertensi agamaku dan mazhabku yang paling benar. Detail burung Trilili itu kemudian memunculkan berbagai persepsi: bagaimana wajah burung Trilili, bagaimana sayap burung Trilili, bagaimana kaki burung Trilili. Dan semua perbedaan itu kemudian menjelma menjadi agama agama dan mazhab-mazhab pemikiran yang  saling bertentangan;  berujung pada peperangan. Agama dan mazhab yang satu mengaku pendapatnya paling benar. Yang tidak sependapat, dituduhnya kafir. Dan orang kafir halal darahnya.

Epilog

Dalam konteks inilah, puisi “Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili” di atas menjadi amat “beharga” untuk disimak. Saya bisa menikmati “Burung Trilili”nya Denny seperti halnya menikmati “Musyawarah Burung”nya Fariduddin Al-Attar. Denny berhasil mengambarkan simbol-simbol Tuhan dalam Burung Trilili dengan cara yang enak, mudah, dan perlu!

Ki Jumali dalam “Wayang Wolak-Walik” di Hotel Sultan Selasa malam lalu, memvisualkan perjalanan para burung menuju singgasana “Burung Trilili” di angkasa, diiringi ular naga dan Batara Kala yang mengganggu mereka.

“Naga ada dalam diri kita. Batara Kala juga ada dalam diri kita. Kita harus bisa menyingkirkan gangguan mereka jika kita ingin menemui Sang Pencipta, tutur Ki Jumali, sang dalang. Pitutur Ki Dalang yang ditingkahi nyanyian dan musik bernuansa mistik itu, benar-benar membawa terbang imajinasi penonton.

Dalam hati aku membatin: “Kenapa ya… orang beragama yang ber-Tuhan saling mencaci, bermusuhan, membunuh, dan menumpahkan darah? Padahal tujuan Tuhan menciptakan agama adalah agar manusia  saling mengenal, menghormati, dan mengasihi.

Harap ingat:  Kanjeng Nabi Muhammad, Sang Rasul Tuhan menyatakan: Aku diutus Tuhan untuk memperbaiki dan menyempurnakan akhlak manusia. Bukan sebaliknya. Itulah agama, kawans. Itulah islam (dengan i kecil), dalam pengertian sebagai ajaran universal yang mendamaikan dan menyelamatkan manusia. Semua manusia! Dengan wayang wulak walik, Ki Jumali mementaskan puisi Denny JA: Burung Trilili (pencarian Tuhan dan konflik Berhala)

Simak Artikel Sebelumnya:
Membaca Makna Wayang Wolak-Walik (Part I)
Membaca Makna Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili (Part II)
Membaca Makna Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili Puisi Esai Denny JA (Part III)

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar