Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)
Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)
Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)
Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA/Foto: Dok. Pribadi (Istimewa)

Oleh: Simon Syaefudin

Mengingat bumi yang rusak, deforestasi yang melanda dunia, dan pencemaran lingkungan yang begitu dahsyat, Tuhan ingin diatasnamakan BUMI untuk menyelamatkan kondisi planet tempat tinggal manusia yang kritis ini. Jika Anda menanam pohon demi Keutuhan Bumi – itu sudah  cukup untuk mengatasnamakan Tuhan. “Sebut AKU sebagai Bumi, Langit, Lingkungan Hidup, Ekosistem, dan lain-lain asalkan tujuannya untuk menyelamatkan ciptaan-Ku dari kerusakan,” kata Tuhan seperti dituturkan Walsch dalam buku Conversation With God.

Dalam literasi sufisme, ada kisah  “Musyarawah  Para Burung” (Mantiq At-Thair) karya penyair sufi asal Persia, Fariduddin Al-Athar – yang menggambarkan perjalanan melelahkan burung-burung untuk menemui Simurgh, raja di raja para burung.

Alkisah, semua jenis burung di dunia datang berkumpul untuk bermusyawarah. Burung-burung itu memiliki satu pertanyaan yang sama: siapakah raja mereka? Di antara mereka ada yang berkata, “Rasanya tak mungkin negeri kita  ini tidak memiliki raja. Jadi, kita semua memiliki raja, ya, raja.” Semua burung tertegun, seperti ada keraguan yang mengawang. Tapi mereka rindu tahu, siapa raja mereka.

“Keadaan semacam ini tak bisa dibiarkan terus menerus. Hidup kita ini akan percuma bila sepanjang hayat kita, kita tidak pernah mengetahui, dan mengenal siapa raja kita yang sesungguhnya.” Masing-masing dari mereka masih berfikir dan terdiam. Lalu kembali ada yang berteriak, “Jadi apa yang harus kita lakukan?”

“Tentu saja kita harus berusaha bersama-sama mencari raja kita semua; karena tidak ada negeri yang memiliki tatanan yang baik tanpa seorang raja.• Mereka pun mulai berkumpul dan bersidang untuk memecahkan persoalan. Burung Hudhud dengan semangat dan penuh rasa percaya diri, tampil ke depan dan menempatkan diri di tengah majelis burung-burung itu. Di dadanya tampak perhiasan yang melambangkan bahwa dia telah memiliki pancaran ruhaniah yang tinggi. Di jengger Hudhud ada “mahkota” yang melambangkan keagungan dan kebenaran. Hudhud memiliki pengetahuan luas tentang perbuatan baik dan buruk dalam kehidupan.

Burung-burung sekalian, kata Hudhud yang gagah itu, kita mempunyai raja sejati, ia tinggal jauh di balik pegunungan Qaf. Nama raja diraja kita adalah SIMURGH.

“Aku kenal raja itu dengan baik, tapi aku tak bisa terbang sendiri menemuinya,” kata Hudhud. Bebaskan dirimu dari rasa malu, sombong, dan ingkar. Itu semua belenggu-belenggu yang akan mengganggu perjalanan kita menemui Simurgh. Dia pasti akan melimpahkan cahaya kepada kita, para burung,   yang bisa melepaskan belenggu-belenggu yang menghambat perjalanan itu.  Sesungguhnya Simurgh dekat sekali dengan kita.

Dikisahkan, pada suatu malam sang Maharaja Simurgh terbang di kegelapan malam. Tiba-tiba jatuhlah sehelai bulunya yang membuat geger seluruh penduduk bumi. Begitu mempesonanya bulu Simurgh hingga membuat tercengang dan terheran-heran. Semua penduduk gegap gempita ingin menyaksikan keindahan dan keelokannya.  “Andaikata sehelai bulu tersebut tidak jatuh, niscaya tidak akan ada makhluk yang bernama burung di muka bumi ini,” kata Hudhud.

“Bagaimana, apakah kita mau menuju Istana Simurgh?,” tanya Hudhud.  Burung-burung kompak menyatakan, yaaa! Baiklah, kata Hudhud,  jika kita ingin mencapai istana Simurgh, kita harus bersatu, bekerjasama dan tidak boleh saling mendahului.

Setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh burung Hudhud, semua burung-burung bersemangat ingin bertemu menghadap Sang Maharaja. Namun, ujar Hudhud, bahwa perjalanan menuju istana Simurg tidak semudah yang dibayangkan, melainkan harus melewati ribuan rintangan dan guncangan dahsyat. Perjalanan juga sarat dengan penderitaan, kepedihan dan kesengsaraan.

“Apakah kalian sudah siap?,” kata Hudhud, menguji keseriusan mereka. Setelah mereka mendengarkan penjelasan bagaimana suka dukanya dan pahit getirnya perjalanan menuju istana Simurg, ternyata semangat sebagian burung menjadi kendur semangatnya. Ada yang ragu, takut, dan tak punya keberanian untuk melakukan perjalanan berat itu.

Di tengah keraguan itu, seekor Kenari berbicara mengejutkan:  Aku adalah Imamul Asyiqin, imamnya orang-orang yang asyik dan rindu. Aku sangat keberatan untuk ikut berangkat. Bagaimana nanti orang-orang rindu dengan kemerduan kicauanku bila aku harus meninggalkan mereka. Bagaimana mungkin aku dapat berpisah dari kembang-kembang yang sedang mekar?” demikian alasan burung Kenari.

Bersambung… Baca: Membaca Makna Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA (Part III)
Simak: Membaca Makna Wayang Wolak-Walik: Mengaji Tuhan dalam Burung Trilili, Puisi Esai Denny JA (Part I)

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar