Mayjen TNI Doni Munardo
Pangdam XVI Pattimura MayJen TNI Doni Munardo

NUSANTARANEWS.CO – Tidak terasa setahun sudah Kodam XVI Pattimura dipimpin oleh Mayjen TNI Doni Monardo menggantikan Mayjen TNI Wiyarto, tepatnya pada 7 Agustus 2016. Tidak salah memang menempatkan Doni Monardo sebagai Pangdam XVI Pattimura. Dengan kaca mata militer pasukan khusus, Sang Jenderal dengan cepat dapat membaca situasi territorial dari berbagai aspek secara komprehensif. Sehingga dengan cepat pula dapat melakukan adaptasi lingkungan baik sosial maupun politik.

Sebagai seorang Pangdam yang baru di wilayah Maluku, Doni dapat merasakan semangat kota Ambon yang berjuluk “Manise”, dan juga kagum dengan keindahan alam negeri para raja ini. Panorama Teluk Ambon, kondisi alam yang begitu hijau dan asri, bila dikelola dengan benar pasti sangat bermanfaat bagi kehidupan masyarakat dan daerah.

Setelah mengenal situasi dan kondisi territorial dengan baik, terutama mengenai kekayaan alam yang melimpah, munculah gagasan brilian sang Jenderal untuk memberdayakan masyarakat melalui pendekatan keamanan dan kesejahteraan yang diwujudkan dengan slogan Emas Biru (Sektor Kelautan dan Perikanan) dan Emas Hijau (Sektor Pertanian, perkebunan, kehutanan). Sebagai catatan, bahwa Wilayah kerja Kodam XVI Pattimura meliputi provinsi Maluku dan Maluku Utara, yang dikenal juga sebagai daerah konflik yang berkepanjangan.

Sebagai informasi, potensi sumber daya alam Maluku berada pada tiga zona perikanan yakni Laut Banda, Laut Seram dan Arafura. Sejak dahulu Maluku memang sudah dikenal dunia sebagai daerah yang kaya akan perikanan dan biota laut. Maluku juga dikenal sebagai wilayah “seribu pulau” karena geografis wilayah yang terdiri dari 1.340 Pulau dan sebagian besar wilayahnya 92,4 % lautan dan 7,6 % daratan. Ini menandakan bahwa peluang untuk mengembangkan sektor Kelautan dan Perikanan sangatlah besar, Maluku menyumbang 26,52 persen ikan per tahun dari total produksi nasional sebesar 6,26 persen.

Bahkan sejak ratusan tahun lalu sudah dikenal dengan penghasil rempah-rempah terutama, khususnya cengkeh dan pala yang telah menjadi komoditas internasional. Maluku mampu menghasilkan lebih dari 2,000 ton pala dan 10,000 ton cengkeh setiap tahunnya, hasil dari 45,000 petani.

Program Pangdam pun disambut dengan baik oleh Pemerintah daerah maupun pihak Perbankan terutama dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan baik pelatihan-pelatihan maupun Bantuan langsung bagi masyarakat.

MayJen TNI Doni Monardo sendiri telah dikenal lama sebagai sahabat alam dan pencinta lingkungan hidup. Bahkan sewaktu menjabat sebagai Wadankopassus, salah satu programnya adalah mendekatkan Kopassus dengan masyarakat melalui program sejuta pohon, bahkan ikut menghijaukan kampus kuning Universitas Indonesia serta daerah tandus lainnya di Jawa Barat.

Tidak mengherankan bila dengan cepat Mayjen TNI Doni Monardo dapat membina hubungan dengan berbagai pihak, terutama stakeholder yang berkepentingan dengan kemajuan daerah Maluku. Kegemaran Sang Jenderal yang hobi turun langsung ke lapangan meninjau pelosok-pelosok daerah serta berkomunikasi langsung dengan masyarakat sangat membantu percepatan sosialisasi gagasan keamanan dan kesejahteraan yang diusungnya.

Seperti yang dikatakan oleh pengamat militer Susaningtyas bahwa, “Pak Doni, saya rasa beliau tepat sebagai Pangdam Pattimura, di mana kerap hadapi gejolak konflik sosial maupun agama. Pak Doni kreatif dan bertangan dingin serta punya jaringan bagus, tentu baik bagi pengembangan Kodam Pattimura ke depan. Dalam tour of duty tentu semua suda dibicarakan dalam proses pertimbangan di Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Republika Online, Kamis (30/7).

Inisiatif brilian Sang Jenderal untuk pemberdayaan masyarakat, terutama masyarakat yang bertikai adalah dengan melakukan kegiatan Pelatihan dan bantuan langsung ke masyarakat. Pertama dengan kegiatan pelatihan di Yonif- 733 Masariku Waiheru, dengan materi budidaya kelautan dan perkebunan. Dalam program ini, sejumlah perwakilan dari desa-desa yang terlibat konflik dilibatkan guna memupuk rasa kebersamaan dan saling memiliki. Sehingga diatur para perwakilan dari desa-desa tersebut bisa tidur berdampingan dalam barak-barak pelatihan. Selain dengan Implementasi program emas biru dan emas hijau, ada juga yang diberangkatkan guna mengikuti Wisata Rohani atau umrah (Emas putih).

Dengan menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat, Doni mengharapkan dapat membuka lapangan pekerjaan baru yang harus dimaksimalkan oleh masyarakat, jika semua memiliki pekerjaan, maka tidak ada lagi kesenjangan antar daerah dan tidak ada lagi gesekan, semua akan lebih fokus untuk bekerja guna meningkatkan taraf hidup mereka.

Demikian pula mediasi perdamaian yang dilakukan harus muncul dari hati nurani, bukan rekayasa dan ancaman. Proses perdamaian harus berjalan secara alamiah tanpa ada tekanan atau intervensi dari siapapun sehingga ketahanan masyarakat akan kuat dan berkesinambungan. Tidak heran bila Doni rajin mengunjungi daerah-daerah konflik seperti Porto-Haria. Dan juga mengunjungi daerah Aboru di pulau Haruku.

Dalam setiap kunjungannya, Sang Jenderal selalu mensosialisasikan pentingnya hidup saling toleran antar masyarakat demi menjaga keamanan dan ketertiban daerah, sehingga masyarakat dapat bekerja dan mengelola potensi SDA, baik di Laut maupun di darat. Dengan demikian dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat agar tidak tertinggal dan termaginalkan. Seperti pada kunjungan ke daerah Aboru, Kodam XVI Pattimura pun membantu pengadaan Keramba Jaring ikan maupun Rumpon (alat bantu penangkapan ikan) yang biasa dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.

Setahun kehadiran Sang Jenderal, secara perlahan telah mengubah wajah garang, keras dan tegas tentara menjadi sangat populis dan bersahaja di mata masyarakat. Terutama dengan sosialisasi dan implementasi program keamanan dan kesejahteraan di wilayah Kodam Pattimura.

Pangdam XVI Bangun Jembatan Bagi Hadiah

Ada tiga hal yang dilakukan Pangdam untuk menjalin kerukunan dan kedamaian alami di Maluku dan Maluku Utara. Pertama adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap tentara. Misal dengan Program 4S (senyum, sapa, salaman, silaturahmi) dan jangan 4 M (mabok, melotot, marah, memukul) serta Program “Jumat Bersih, Sabtu Hijau dan Minggu Sehat”.

Sapa Senyum

Salaman Silaturahmi

Kedua, membangun kemitraan yang setara sesama aparat pemerintah maupun lembaga sosial, pemuda dan keagamaan. Dan yang ketiga adalah membantu pemerintah dalam upaya mengatasi kesulitan rakyat disekelilingnya dengan Program emas hijau dan biru. Kedepan diharapkan dapat mewujudkan kerukunan, kedamaian dan kesejahteraan bagi Masyarakat Maluku. (AS)

Komentar