HOS Tjokroaminoto/Foto Croup/Nusantaranews
HOS Tjokroaminoto/Foto Croup/Nusantaranews

Oleh: Lukman Santoso Az*

NUSANTARANEWS.CO – HOS Tjokroaminoto dikenal banyak menyuarakan tentang persamaan kedudukan antara pemerintah Hindia Belanda, priyayi dan masyarakat kecil. Tak berlebihan jika kemudian rakyat menyebutnya sebagai “Ratu Adil” atau “Kesatria Piningit”, karena dalam kurun waktu 70 tahun sejak mangkatnya Pangeran Diponegoro tidak ada lagi pemimpin yang mendapat kedudukan khusus di hati rakyat. Sebab besarnya pengaruh Tjokro di tengah masyarakat itulah, pemerintah Belanda menjulukinya “Raja Jawa Tanpa Mahkota”.

Rumah Tjokro bersama istrinya di Gang Paneleh Surabaya seolah menjadi inkubator bagi calon-calon tokoh perjuangan bangsa era sesudahnya. Mulai dari Agus Salim, Semaoen, Dharsono, Musso, hingga Kusno (Soekarno) yang masih remaja. Tjokro sendiri menggambarkan rumahnya tidak sekadar tempat tinggal, tetapi juga tempat menjaga martabat. Kata Tjokro ketika menerima Soekarno yang baru kost di rumahnya, “Rumah ini adalah tempat bertanya. Mari saling berbagi pertanyaan.”

Melalui lorong-lorong pustaka dikediaman Tjokroaminoto itu pula, jadilah Sukarno yang berdialog dan membincang tentang Thomas Jefferson, George Washington, Paul Revere, Abraham Lincoln, dll.  Soekarno juga belajar dan mengkaji secara mendalam Gladstone dari Inggris, Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris. Tidak hanya kepada Soekarno, seluruh penghuni kost di Peneleh ibarat mendapat air segar ilmu pengetahuan saat berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari bersama Tjokroaminoto. Tak jarang mereka juga terlibat pembicaraan serius di waktu makan bersama.

Meneladani Epos Hijrah Muhammad

Lewat seorang “tercerahkan” seperti Tjokroaminoto-lah segala kegelisahan tadi bisa dimanifestasikan menjadi kesadaran massal akan sebuah “kemerdekaan”. Dengan meneladani epos Hijrah Nabi Muhammad SAW, tindakan Tjokro pada akhirnya akan menjadi pemula epos modern sebuah bangsa yang akan “berhijrah”. Cokroaminoto menyatakan, “Tidak bisa manusia menjadi utama yang sesungguhnya, tidak bisa manusia menjadi besar dan mulia dalam arti kata yang sebenarnya, tidak bisa ia menjadi berani dengan keberanian yang suci dan utama, kalau ada banyak barang yang ditakuti dan disembahnya. Keutamaan, kebesaran, kemuliaan dan keberanian yang sedemikian itu hanyalah bisa tercipta karena ‘tauhid’ saja (Mulawarman, 2015).

Lebih menarik lagi, gagasan politik Islam ala Tjokro mampu menyatukan elemen masyarakat kala itu. Hal ini berbeda dengan keadaan sekarang di mana gerakan Islam justru hadir sebagai pemecah belah rakyat, bukan pemersatu perjuangan rakyat. Hal ini tentunya menjadi PR yang mesti segera diselesaikan oleh umat Islam baik di Indonesia maupun dunia dengan kondisi semakin rentan saat ini. Lebih dari itu, ketinggian ilmu Tjokro ternyata tidak hanya dipendamnya sendiri, tetapi juga Ia bagikan melalui surat kabar dan pidato-pidatonya.

Teladan Tjokroaminoto tampaknya berbanding terbalik dengan fenomena akhir-akhir ini di Indonesia. Krisis teladan pemimpin telah melanda berbagai aspek kehidupan. Rakyat bingung memahami pemimpinnya. Pemimpin yang seharusnya memberikan keteladanan dan ketentraman, dalam kenyataan bahwa pemimpin lebih mengedepankan kepentingan pribadi atau kelompok. Padahal memimpin adalah memberi pengaruh. Oleh sebab itu setiap kata yang diucapkan dan tindakan yang dilakukan akan menimbulkan pengaruh pada orang lain disekitar.

Artinya, menjadi pemimpin bangsa itu tidaklah mudah. Keteladanan seorang pemimpin merupakan kunci utama. Esensi kepemimpinan adalah membawa sesuatu sampai kepada tujuan. Menurut Maxwell (2001:65) kepemimpinan itu berkembang setiap hari. Kemampuan memimpin bukan hanya suatu bakat sejak lahir, tetapi sesungguhnya merupakan kumpulan dari berbagai nilai dan proses yang berkelanjutan (continue). Karena bagaimanapun, kepemimpinan yang dapat dijadikan teladan tidaklah berkembang dalam satu hari melainkan seumur hidup. “…Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.”

*Lukman Santoso Az, Pengajar Hukum IAIN Ponorogo; Pembina FPM IAIN Ponorogo
Editor: Romandhon

Komentar