Artikel

Masihkah Bangsa Indonesia Ingat Tinggal Landas?

Suharto2

NUSANTARANEWS.CO – Presiden China  Xi Jinping pada 2013 mencanangkan The Silk Road Economic Belt and the 21st-century Maritime Silk Road. Sebuah tujuan ambisius untuk menciptakan koridor ekonomi skala global yang membentang lebih dari 60 negara. Misinya jelas, yakni mengintegrasikan negara-negara Asia, Eropa, dan juga Afrika, baik darat maupun lautnya yang masuk dalam skema Jalur Sutra Baru Abad 21.

Nah, yang menarik, Presiden Cina Xi Jinping justru memilih Indonesia sebagai tempat untuk me-launching program Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 di Gedung DPR RI pada tahun 2013. Presiden Xi bahkan menggambarkan bahwa bila penduduk Indonesia dan Cina bersatu, maka jumlahnya bisa mencapai lebih 1,6 milyar jiwa, artinya sama dengan jumlah ¼ penduduk dunia. Bila ditambah dengan populasi koridor Jalur Sutra, maka diperkirakan akan mencakup ½ penduduk dunia. Berdasarkan rilis PBB di New York, Amerika Serikat, disebutkan bahwa penduduk dunia akan mencapai 8,1 miliar jiwa pada tahun 2025

Bahkan lebih jauh lagi, Cina kemudian mengambil inisiatif One Belt One Road sebagai sebuah skema untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi regional, dan global. Inisiatif Belt and Road memiliki sedikit “rasa” berbeda dengan perdagangan bebas Uncle Sam, terutama dalam hal integrasi ekonominya. Koneksitas yang ditawarkan dalam Belt and Road Initiative meliputi 5 hal, yaitu konsultasi kebijakan, konektivitas infrastruktur, perdagangan bebas, sirkulasi mata uang lokal, dan hubungan people-to-people.

Agenda terpenting proyek Jalur Sutra Maritim Abad 21 adalah pembangunan infrastruktur di koridor yang merupakan kawasan inisiatif One Belt One Road. Indonesia sendiri sekarang sudah mulai merasakan efek ambisius negara komunis itu yang ingin menjadi pusat dunia. Investasi besar-besaran Cina sepanjang koridor Jalur Sutra, bukan saja dalam bentuk uang, tapi juga memindahkan pabrik dan buruhnya, termasuk ke Indonesia. Cina tampaknya ingin mengentaskan kemiskinan di negerinya, dengan men-transmigrasi-kan bangsanya, termasuk pengusahanya ke luar negeri untuk diberdayakan.

Cina kini bukan lagi mendirikan “Kampung Cina”, tapi mulai mendirikan “Mega City” untuk kesejahteraan rakyatnya di berbagai negara, seperti di Walini City, Jawa Barat, termasuk beberapa daerah lain di kawasan Timur Indonesia.

Bahkan secara tidak sadar bangsa Indonesia pun kini telah terbawa arus deras proyek Jalur Sutra Maritim Abad 21 yang diusung oleh Cina. Bahkan bangsa Indonesia tampaknya sudah lupa dengan geopolitiknya sendiri. Bayangkan selain letak Indonesia yang strategis di persilangan jalur pedagangan dunia, Indonesia pun memiliki Sumber Daya Alam yang melimpah dengan penduduk terbesar ke empat dunia.

Gagasan Poros Maritim Dunia sebenarnya sudah menjadi takdir geopolitik politik bangsa Indonesia, namun sayang takdir tersebut tidak menjadi kenyataan. Pada globalisasi gelombang kedua yang berakhir pada peristiwa 9/11 (world trade center), Indonesia justru menjadi negara tertinggal, kalah dengan negara tetangga. Indonesia tidak mampu memanfaatkan globalisasi gelombang kedua untuk bangkit menjadi Macan Asia sebagaimana yang digadang-gadang oleh banyak pengamat ekonomi dunia pada waktu itu. Betapa tidak, bila pada tahun 1990-an, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami peningkatan yang pesat, rata-rata 11% per tahun. Itupun baru setengah dari kapasitas produksi industri nasional yang berjalan. Sayang terjadi sabotase di tahun 1998, sehingga Indonesia gagal tinggal landas.

Sementara China, di era yang sama dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi 10% per tahun, ternyata berhasil melewati badai krisis dunia menjelang akhir tahun 1990-an. Namun kemudian mengalami pelambatan pertumbuhan ekonomi menjadi rata-rata 6% – 7% per tahun.

Terlepas dari itu, dalam kompetisi globalisasi gelombang kedua, Cina secara menyolok telah muncul sebagai kekuatan ekonomi raksasa dunia, disusul Korea Selatan, Malaysia, dan Vietnam. Negara-negara ASEAN lain pun telah menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, seperti Filipina, Laos, Kamboja, bahkan Myanmar telah menjadi lumbung siaga beras ASEAN  dengan stok 500 ribu ton.

Dunia kini sedang memasuki globalisasi gelombang ketiga, ditengah situasi batas yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga satu dekade ke depan. Sebuah perubahan besar yang dahsyat akan menerpa negara-negara yang tidak siap dengan perubahan tersebut. Beralihnya pemakaian energi fosil ke energi terbarukan yang lebih efisien, serta banjirnya produk barang-barang murah tampaknya akan menjadi fenomena masa depan.

Kebijakan ekonomi mikro tampaknya akan menjadi tulang punggung ekonomi global dengan prioritas pembangunan sektor pangan, baik pertanian, peternakan maupun perikanan. Bahkan dengan pemangkasan biaya-biaya yang tidak perlu, diperkirakan bunga bank bisa 2% – 4% pertahun bagi para petani di pedesaan. Termasuk untuk sektor-sektor produktif dan kreatif lainnya. Tentu saja hal tersebut bisa terlaksana bila terwujud pemerintahan yang bersih dan baik. Salah satu ukurannya adalah terciptanya transparansi publik, sehingga tidak ada lagi pungli dengan alasan apapun yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi bagi rakyat. Sehingga efek dari produksi tersebut dapat membuka lapangan kerja yang luas di segala bidang.(Agus Setiawan)

 

Komentar

To Top