Opini

Maroko Selatan, Rumah Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terbesar di Dunia

Pembangkit listrik tenaga surya di Afrika/Foto: Getty
Pembangkit listrik tenaga surya di Afrika/Foto: Getty

NUSANTARANEWS.CO – Maroko tercatat sebagai negara dengan perekonomian terbesar keenam di Afrika. Secara geografis, Maroko memiliki wilayah yang sebagian besar terdiri dari gurun dan pegunungan yang terjal.

Dari tahun ke tahun, Maroko terus mengalami perkembangan luar biasa, terutama dari segi perekonomiannya. Pemandangan tandus di Maroko Selatan adalah sebuah potensi dan progres besar bagi negara mayoritas muslim ini menjadi tuan rumah pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia. Dan potensi ini terus dikembangkan sebagai persiapan hidup di masa depan.

Di Maroko telah dibangun ratusan cermin melengkung untuk menampung tenaga surya, utamanya di wilayah selatan. Diperkirakan pasokan energi surya melimpah dan lebih daripada cukup untuk sekadar memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Maroko berharap suatu hari nanti akan menjadi negara pengekspor energi surya ke Eropa.

Potensi besar pasokan pembangkit listrik tenaga surya di Maroko menegaskan bahwa Afrika adalah masa depan energi surya. Rachid Bayed, yang bertanggungjawab untuk pengembangan proyek unggulan tenaga surya Maroko mengatakan Badan Solar Energi (Masen) tengah mengembagkan negaranya sebagai pemasok energi surya di dunia karena sumber dayanya melimpah. Menurutnya, tenaga surya merupakan pilihan paling rasional untuk energi bersih.

Kata  Rachid, Maroko telah melampaui harapan dalam hal jumlah energi yang telah dihasilkan. Ini adalah hasil yang menggembirakan sejalan dengan tujuan Maroko untuk mengurangi tagihan bahan bakar fosil dengan berfokus pada energi terbarukan dengan tetap memenuhi pertumbuhan kebutuhan energi yang meningkat sekitar 7% per tahun.

Negara ini berencana akan menghasilkan 14% dari energi  matahari pada tahun 2020 dan dengan menambahkan sumber-sumber terbarukan lainnya seperti angin dan air. Itu semua bertujuan untuk menghasilkan 52% dari energi sendiri pada tahun 2030. Hal ini menempatkan Maroko kurang lebih setara dengan negara-negara seperti Inggris, yang ingin menghasilkan 30% listriknya dari energi terbarukan pada akhir dekade.

Bahkan, Amerika Serikat juga tak mau ketinggalan. Meski pada awalnya Donald Trump menolak ide Obama yang menetapkan target 20% energi surya pada 2030, namun Trump diprediksi akan mencabut pernyataannya karena banyak kebijakan yang dikendalikan oleh masing-masing negara dan perusahaan-perusahaan besar sudah mulai beralih ke alternatif bersih dan lebih murah.

Guna menunjang dan mendukung program ambisius Maroko dalam hal energi surya, Masen dilaporkan telah mendidik para petani dan masyarakat di sekitar wilayah Maroko Selatan agar tetap aman kondisi perekonomiannya. Selain itu, Masen juga terus mengupayakan tanaman-tanaman hijau agar tetap tumbuh di Maroko Selatan sebagai penunjang utama energi surya. Tanaman-tanama itu dikelola para petani yang difasilitasi Masen.

Maroko berharap besar megaproyek energi surya ini dapat mendorong negara-negara Afrika lainnya untuk berpaling tenaga surya. Seperti diketahui, Afrika Selatan sudah menjadi salah satu dari top 10 produsen dunia dari tenaga surya. Sementara Rwanda adalah rumah bagi tanaman surya pertama di Afrika Timur, yang dibuka pada tahun 2014 silam. Sebentar lagi, Ghana dan Uganda akan segera menyusul.

Akhirnya, sinar matahari di Afrika adalah masa depan cerah untuk Maroko dan negara-negara Afrika lainnya. Dan Maroko, ambisi utamanya adalah menjadi pemasok energi surya ke seluruh dunia. Bisa dibayangkan saja, pengisian mobil listrik di Berlin merupakan listrik yang dihasilkan oleh Maroko. (Sego/ER)

Komentar

To Top