Makan di depan TV membuat makanan tidak enak. (Foto: CORBIS)
Makan di depan TV membuat makanan terasa tidak enak. (Foto: CORBIS)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Peneliti di Universitas Nagoya Jepang mengungkapkan bahwa orang yang makan sendiri akan merasakan enaknya makanan yang akan dikomsumsi. Penelitian ini sebagai kelanjutan atas penelitian sebelumnya yang mengungkapkan bahwa makanan secara bersama-sama baik untuk menumbuhkan solidaritas sosial.

Namun, penelitian terbaru mencoba ungkap efek dari makan sendiri di hadapan cermin. Dikatakan hal itu bisa berfungsi untuk mengelabui otak agar tidak berpikir ada orang lain selain dirinya sendiri.

“Kami ingin mencari tahu apa syarat makan dan minum yang bisa berefek secara sosial. Apakah harus benar-benar hadir secara fisik, atau apakah bisa hanya dengan informasi yang menunjukkan kehadiran orang lain terasa cukup,” kata periset Ryuzaburo Nakata seperti dikutip The Telegraph.

Untuk percobaan tersebut, 16 orang dewasa berusia antara 65 dan 74, diundang untuk makan popcorn asin atau karamel selama 90 detik dan kemudian menilai kenikmatan mereka saat duduk sendirian, di depan cermin, atau menonton monitor yang menunjukkan video tentang mereka makan.

Para periset menemukan bahwa orang yang makan sendiri mengaku makanan yang dikonsumsi terasa lebih enak dan akan makan lebih banyak. Hal ini terjadi kalau mereka melihat dirinya di cermin pada saat makan. Dibandingkan makan di depan sebuah monitor, makan di depan cermin lebih baik.

Sebab, makak di depan cermin akan meningkatkan rasa manis pada makanan sebesar 35 persen, kebaikan sebesar 21 persen dang kualita makan 12 persen.

Para peneliti berharap bahwa temuan tersebut dapat membantu mereka yang kesepian untuk menikmati makanan mereka dan makan lebih banyak.

“Studi telah menunjukkan bahwa untuk orang dewasa yang lebih tua, menikmati makanan dikaitkan dengan kualitas hidup, dan sering makan sendiri dikaitkan dengan depresi dan kehilangan nafsu makan,” tambah penulis Dr Nobuyuki Kawai.

“Oleh karena itu, temuan kami ini menyarankan pendekatan yang mungkin untuk memperbaiki daya tarik pada makanan, dan kualitas hidup, untuk mereka yang menderita kehilangan atau berada jauh dari orang yang mereka cintai,” tambahnya.

Penelitian ini dipublikasikan di journal Physiology & Behaviour. (ed)

Editor: Eriec Dieda

Komentar