NUSANTARANEWS.CO – Pertarungan pemilu di Prancis antara Emmanuel Macron dan Marine Le Pen dalam dimensi yang lebih luas bukanlah sekedar pergeseran paradigma politik yang sedang berlangsung di Eropa, tapi lebih kepada penghancuran Uni Eropa (UE). Boleh di bilang Zona Euro kini sedang menghadapi serangan Perang Asimetris oleh gerakan populis ekstrim.

Banyak kalangan pemilih Prancis tidak tidak menyadari bahwa dinamika geopolitik yang sedang berlangsung dalam pemilihan presiden mereka. Secara historis, Prancis adalah salah satu kekuatan penakluk dunia yang hebat. Prancis telah memberikan warisan budaya dan multilateralisme di berbagai belahan dunia, bahkan sebagai pendiri tradisonal UE. Nah ironisnya, komitmen Prancis terhadap globalisasi dan UE sekarang digembosi oleh para politisi di kalangan mereka sendiri atas nama “patriotisme” seperti Norbert Hofer di Austria dan Geert Wilders di Belanda.

Kemenangan telak Macron tidak terlepas dari dukungan kuat keinginan banyak negara-negara Eropa yang sebenarnya ingin mengintegrasikan diri ke dalam Zona Euro. Termasuk keinginan negara-negara yang menyukai struktur koperasi yang lebih longgar, seperti Inggris, misalnya, meski meninggalkan Uni Eropa, namun kemungkinan tetap mempertahankan kemitraan kontinental Eropa.

Dalam visinya, Macron membayangkan bahwa Eropa yang terintegrasi berdasarkan kedaulatan bersama akan membuat Eropa lebih kuat dan berpengaruh di dunia internasional, sehingga memberdayakan warganya.

Tidaklah mengherankan bila Macron-Merkel kemudian sepakat untuk menyusun common road map untuk Eropa. Keduanya bertemu di Berlin pada hari pertama Emmanuel Macron di kantor setelah pemilihannya pekan lalu. Dan kunjungan Macron ke Berlin ini merupakan sebuah tradisi presiden Prancis yang selalu melakukan perjalanan ke luar negeri pertama mereka ke Jerman.

Merkel menyebut kunjungan Macron sebagai sebuah kehormatan dan pertanda persahabatan yang mendalam antara dua kekuatan Eropa. Seperti kita ketahui bahwa Jerman dan Prancis secara tradisional adalah motor dari integrasi Eropa.

Kunjungan Presiden Perancis kali ini tampak istimewa, terutama dengan gagasan Macron untuk mereformasi dan memperkuat Eropa. Disamping menyegarkan kembali hubungan Jerman-Perancis yang belakangan agak terguncang, apalagi setelah Brexit.

Dalam pertemuan itu, Merkel menegaskan bahwa Jerman sangat membutuhkan Perancis yang kuat. “Eropa akan lebih baik jika Perancis kuat,” kata Markel. Seluruh dunia berubah, itulah sebabnya Jerman siap mengubah perjanjian. “The whole world is changing, that is why Germany is ready to change the treaties,” tegas Markel.

Seperti dikutip Reuters, “Kami sepakat untuk mengembangkan ‘common road map’ untuk perspektif jangka menengah Uni Eropa,” kata Merkel, dalam konferensi pers bersama dengan Macron.

Memang UE harus segera melupakan Inggris dan kembali menyolidkan UE dan Zona Euro. Sebagai motor integrasi Eropa, Prancis dan Jerman dituntut mampu membuat UE yang lebih efisien, UE yang lebih demokratis, dan UE yang lebih politis. Sebuah kesepakatan baru Franco-Jerman baru’ yang jauh lebih terstruktur’ mengenai investasi, keamanan perbatasan Eropa, dan pertahanan.

Memang beberapa tahun terakhir, hubungan Franco-Jerman yang menjadi motor Uni Eropa, agak goyang. Oleh karena itu, pertemuan antara Macron dan Merkel kali ini, menjadi upaya penting bagi perbaikan hubungan kedua negara tersebut guna menyolidkan UE.

Penulis: Agus Setiawan

Komentar