(Foto: Istimewa)

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Indonesia bisa merdeka karena adanya semangat gotong royong, kebersamaan dan bahu membahu. Dalam pidatonya, Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno yang dicap sebagai sang proklamator, menyampaikan bahwa dasar Indonesia merdeka adalah (1) kebangsaan, (2) internasionalisme, (3) mufakat, (4) kesejahteraan, dan (5) ketuhanan. Dari lima bilangan tersebut dinamakan Pancasila. Sila artinya ‘asas’ atau ‘dasar’, dan di atas kelima dasar itulah Indonesia berdiri.

Bung Karno juga menyampaikan, bahwa lima sila boleh diperas sehingga tinggal 3 saja, yaitu (1) Sosio-nasionalisme, (2) Sosio-demokrasi, dan (3) Ketuhanan. Jika diperas lagi yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah satu perkataan, Indonesia yang paten, yaitu perkataan ‘gotong royong’. Gotong royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari ‘kekeluargaan/kebersamaan’.

Gotong royong adalah salah satu budaya bangsa yang membuat Indonesia, dipuji oleh bangsa lain karena budayanya yang unik dan penuh toleransi antar sesama manusia.Ini juga merupakan salah satu faktor yang membuat Indonesia bisa bersatu, walaupun berbeda agama, suku dan warna kulit.

Gotong royong merupakan salah satu budaya kearifan lokal masyarakat Indonesia. Seperti kerja bakti membersihkan lingkungan di sekitar kita. Namun, aktivitas ini sudah mulai langka dilakukan di lingkungan masyarakat atau meluntur kebudayaan ini.

Analis Sosilogi yang juga Analis Komunikasi Politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing mengatakan kepada nusantaranews.co saat dihubungi, Sabtu (12/8/2017).

“Dengan lunturnya budaya gotong royong ini juga akan melunturkan rasa pancasilais dan kebhinekaan, karena biasanya orang bergotong royong tanpa memperhatikan suku, ras dan agama,” ujarnya.

“Padahal di Pancasila, sila ketiga itu ada persatuan Indonesia,” ucapnya.

Emrus berujar, bahwa kini Indonesia lebih mengutamakan atau mementingkan membangun raga dibanding membangun jiwa. “Kita lihatlah Indonesia, bangunlah jiwanya dan bangunlah raganya. Nah sekarang telah makin memudar membangun jiwanya, tapi justru kita orientasi membangun raganya yang merupakan materi,” ungkapnya.

Emrus juga mengingatkan pemerintah Indonesia di semua elemen dari yang di pusat maupun di daerah, untuk tidak melupakan pembangunan jiwa Indonesia.

Menurutnya, kebanyakan generasi muda sekarang sering berpikir dan bertindak global dibandingkan memikirkan dan berperilaku lokal seakan mengabaikan masyarakat lokal atau sekitar.

Budaya gotong-royong ini tidak berarti harus selalu melakukan hal-hal besar bagi masyarakat. Dengan melakukan kegiatan sederhana pun, seperti membagikan pakaian bekas kepada masyarakat yang membutuhkan, melakukan pembersihan lingkungan atau menanam pohon bersama. Intinya kegiatan yang mendorong terciptanya kerjasama antar warga.

Pewarta: Ricard Andhika
Editor: Eriec Dieda

Komentar

SHARE