Connect
To Top

Linglungnya Penghuni Nusantara di Jaman Cybernetic

NUSANTARANEWS.CO – Orang Indonesia memiliki daya pikir dan rasa yang lentur. Sikapnya yang luwes membuat orang Indonesia kreatif dan tidak kaku menerima kebaruan. Sehingga segala hal yang ada dan hadir dapat diolah menjadi sesuatu yang berfungsi dalam kehidupan sehari-hari.

Orang Indonesia yang lentur, luwes, kreatif dan penuh daya cipta menjadikan daya hidupnya lebih berkualitas. Itu ada dan terjadi sejak zaman dahulu kala. Karenanya, nusantara dikenal oleh dunia dengan warisan peradaban tingginya. Kejayaan, kekayaan, dan keberagaman di nusantara adalah wujud dari kualitas orang-orang Indonesia.

Tetapi, itu dulu. Adapun di abad ke-21 ini, tinggal segelintir orang saja. Selebihnya hidup dalam kegamangan zaman yang digalaukan oleh lampu-lampu kota. Ketidakpastian hidup di kota dan desa membuat orang Indonesia tegang dan kaku menghadapi kenyataan. Kenyataan politik kekuasaan, ekonomi, dan hukum yang terlampau jauh dari harapan.

Akibatnya, segenap anak bangsa, berkunang-kunang pandang matanya melihat negerinya terseok-seok dalam komando para pemangku yang demam uang dan sariawan harta kekayaan. Akhirnya, berkompromi dengan asing dan aseng. Lalu, mereka ini bicara di tv-tv, koran, media online, dan akun medsosnya, bahwa negara seolah-olah baik-baik saja.

Sampai di sini, salah satu baik puisi “Kesaksian Akhir Abad” karya penyair WS. Rendra begitu relevan dengan kenyataan Indonesia. Baik itu dulu (sebelum reformasi) mapun di era kabinet kerja Jokowi-JK kini.

Kejahatan kasat mata
tertawa tanpa pengadilan.
Kekuasaan kekerasan
berak dan berdahak
di atas bendera kebangsaan.

Demikian sepenggal baik puisi yang penulis kutipkan. Adapun makna dan visualisasinya, bisa nampak terlihat dalam berita-berita terhangat di televisi, bisa dibaca di koran-koran maisntream, dan bisa dilacak di halaman trending topik media-media online baik anak media mainstream maupun yang anti mainstream.

Parahnya, tidak hanya di jajaran pemerintah yang dilanda kegalauan. Dewan Pers pun mulai masuk angin. Sehingga deman dan menggigil sendiri. Pertanyaannya, kepada siapa para generasi penerus bangsa Indonesia ini harus belajar kebaikan dan kebajikan. Jika kehidupan di ibu negara nampak seperti kapal pecah yang penuh dengan teriakan penumpang mencari keselamatan?

O, anak cucuku di jaman cybernetic!
Bagaimana akan kalian baca
prasasti dari jaman kami?
Apakah kami akan mampu
menjadi ilham kesimpulan
ataukah kami justru
menjadi sumber masalah
di dalam kehidupan?

Mengutip lagi, lanjutan bait puisi “Kesaksian Akhir Abad” WS. Rendra ini, kenyataan yang dihadapi dan dialami netizen dewasa ini, nampak tidak menunjukkan kelenturan, keluwesan, dan kreatifitas yang diwariskan nenek moyang bangsa Nusantara. Bagaimana tidak, segala yang menjadi pembicaraan politik, hukum, dan ekonomi, bahkan hal-hal percuma, menjadi pembicaraan panjang di dunia maya (cyber). Bahkan, sekelas Presiden dan mantan Presiden pun aktif di dunia yang di dunia yang senyatanya tidak menghendaki dinamika berpikir positif demi kemajuan.

Jika pemimpinnya sudah pandai bersolek kata di media cyber, maka bawahannya akan labih cerdik lagi mengambil peran. Selanjutnya, seluruh anak bangsa yang melek teknologi memaksakan diri untuk ambil bagian. Terakhir, Indonesia yang mestinya diolah dengan segenap daya hidup dan daya cipta, hanya selesai dalam cuit-cuit dan status sampah di media sosial. Astaga!

Penulis: Selendang Sulaiman 

Komentar