Connect
To Top

Lempar Sadapan, Sembunyikan Kepentingan

NUSANTARANEWS.CO – Ibarat pepatah lempar batu sembunyi tangan, tampaknya tepat untuk menggambarkan situasi politik yang berkembang saat ini. Dimana pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ihwal informasi sadapan percakapan antara Ma’ruf Amin dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam sidang lanjutan penistaan agama yang menjeratnya terus menjadi bola liar.

Alih-alih membongkar aib Ma’ruf Amin sebagai saksi di persidangan, justru menjadi blunder bagi Ahok sendiri. Kecaman dan berbagai tudingan terus mengalir menghujani gubernur DKI Jakarta non-aktif tersebut. Bahkan, kini bola liar bernama ‘rekaman sadapan’ ilegal itu terus bergerak mencari sang pemilik empunya.

Pertama ‘rekaman sadapan’ ini menyasar ke dapur Badan Intelijen Negara (BIN) Republik Indonesia. Entah gerangan apa BIN menjadi tempat palabuhan? Tetapi bisik-bisik tetangga mengatakan status Ketua BIN Budi Gunawan yang pernah menjadi paspampres Megawati adalah alasan di balik gossip ini beredar. Ini menyusul Megawati saat ini menjadi sosok paling depan membela Ahok.

Enggan dituding sebagai pemilik rekaman hasil sadapan, BIN pun akhirnya pada Kamis (2/2/2017) kemarin bergegas lantang menolaknya. BIN dengan tegas mengatakan bahwa informasi yang dibeberkan Ahok di persidangan bukan berasal dari pihaknya.

Polemik pun terus berlanjut. Kali ini gerilya ‘rekaman sadapan’ dalam mencari tuannya masuk ke dalam bilik Istana Negara. Lagi-lagi Istana Negara memperlakukannya sama dengan BIN. Setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui staf khususnya Johan Budi menegaskan bahwa presiden tak tahu menahu soal rekaman hasil sadapan tersebut.

Bahkan Presiden Jokowi mengaku tak memiliki kaitan dengan dugaan penyadapan terhadap mantan presiden Indonesia ke-6 tersebut. “Jangan proses yang ada di pengadilan atau di luar pengadilan atau apa pun yang tidak ada kaitannya dengan Presiden, dikaitkan dengan Presiden,” terang Johan Budi, Kamis (2/2/2017).

Johan menyampaikan hal itu terkait pernyataan SBY yang meminta pihak berwenang untuk mengusut tuntas dugaan penyadapan terhadap dirinya, sebagaimana yang telah disampaikan oleh tim kuasa hukum Ahok.

Sekalipun demikian, ‘rekaman penyadapan’ ini pun terus mencari tuannya hingga sekarang. Situasi inilah yang kemudian memicu Mantan Wakil Ketua BIN, As’ad Said Ali untuk ikut angkat bicara.

“Selama jaman saya dulu, tidak boleh ada yang membocorkan hasil sadapan. Yang tahu isi sadapan hanya Kepala dan Wakil Kepala, yang lainnya tidak boleh tahu. Jadi tidak mungkin bocor. Kalau sekarang (pemerintahan Jokowi-JK) tidak tahu deh,” ujar As’ad Said Ali, Kamis, (2/2/2017) kemarin di Jakarta Selatan.

Karenanya layak ditunggu, siapa sebenarnya si empu yang menjadi tuan pemilik ‘rekaman sadapan’ sebagaimana yang telah dilemparkan oleh Ahok ke publik? Mengingat satu per satu pihak enggan dikaitkan dengan ‘rekaman sadapan’ ilegal tersebut? Maka, hanya Ahok dan kuasa hukumnya lah yang tahu! (Romandhon)

Komentar