Ilustrasi Jaringa Sel otak bayi/Foto: Istiemwa
Ilustrasi Jaringa Sel otak /Foto: Istiemwa

NUSANTARANEWS.CO – Anda mungkin pernah mengalami atau bahkan menjadi hal yang anda perangi sehari-hari. Keadaan dimana anda kembali merasa lapar padahal anda baru saja makan dalam jumlah yang banyak.

Bagi anda yang tengah dalam proses mengontol pola makan anda, tentu ini menjadi hal yang sangat mengganggu. Anda bisa jadi telah makan malam, tetapi sebuah acara televisi atau teman anda melalui media sosialnya meng-upload gambar makanan yang menggiurkan. Anda memiliki hasrat untuk segera membelinya dan memakannya.

Kondisi ini bisa jadi adalah kesalahan yang terjadi pada sistem kerja otak anda.

The Health Line melaporkan sebuah penelitian yang dilakukan para periset dari Beth Israel Deaconess Medical Center (BIBMC), Boston. Dimana penelitian mereka menemukan neuron di korteks insularotak mempengaruhi bagaimana kita menanggapi isyarat makanan.

Penemuan ini juga kemudian menimbulkan harapan bahwa nafsu makan seseorang dapat dikendalikan, mengobati gangguan kebiasaan makan dan obesitas.

Para periset mengemukakan pada neuron korteks yang sehat, ketika lapar aktivitas korteks insular meningkat sebagai respon terhadap isyarat makanan. Namun, tidak akan merespons isyarat tersebut ketika dirinya berada dalam keadaan kenyang atau paska menjalani makan besar.

Dr. Andermann dan rekan-rekannya dalam penelitian ini mendapatkan pemahaman yang lebih tentang aktivitas otak yang mempengaruhi perilaku makan pada manusia. Uji coba awal dilakukan pada tikus dengan memperhatikan aktivitas neuron. Aktivitas korteks onsular pada tikus bekerja menanggapi isyarat makanan dalam dua kondisi : lapar dan kenyang.

Ketika tikus lapar, isyarat makanan menyebabkan pengaktifan sekelompok neuron korteks insular yang mempengaruhi perilaku pencarian makan. Ketika tikus kenyang: neuron ini tidak diaktifkan.

Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa jalur otak yang menghubungkan neuron AgRP dan korteks insular melibatkan amigdala dan talamus paraventrikular. Amigdala terlibat dalam memodifikasi nilai isyarat makanan, sedangkan thalamus paraventrikular berperan dalam perilaku motivasional. Ini juga terjadi pada manusia.

Sementara penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas tentang proses otak yang terlibat dalam respons perilaku terhadap isyarat makanan, Dr. Andermann dan rekannya percaya bahwa temuan mereka saat ini memiliki potensi terapeutik.

Jadi selanjutnya, para peneliti akan mengembangkan penelitian tersebut terhadar treatment yang mungkin dilakukan untuk terapi gejala ini.

Akan tetapi, secara keseluruhan cara kerja pikiran manusia sejatinya dapat dikendalikan oleh dirinya. Jadi ketika anda mengalami hal ini, lebih baik jika anda mengendalikan pikiran anda sendiri dengan memusatkan pikiran bahwa anda “kenyang”, gambar-gambar makanan tidak akan mempengaruhi anda.

Penulis: Riskiana
Editor: Ach. Sulaiman

Komentar