Berita Utama

Kuota Premium Dialihkan, Pertamax Dan Pertalite ‘Naik Daun’

Ilustrasi pertugas sedang mengisi BBM di salah satu SPBU/Foto istimewa
Ilustrasi pertugas sedang mengisi BBM di salah satu SPBU/Foto istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Pengurangan kuota bahan bakar minyak (BBM) jenis premium di sejumlah stasiun pompa bahan bakar umum (SPBU), membuat konsumsi bahan bakar bersubsidi tersebut merosot. Untuk sebaliknya, konsumsi pertamax dan pertalite justru terus meningkat.

Pun, pada akhir tahun ini, pertalite diperkirakan menembus 50% konsumsi bahan bakar nasional. Hal itu disampaikan Vice President Corporate Communication Pertamina Wianda Pusponegoro yang kemudian menyatakan, demand BBM oktan tinggi akan terus meningkat.

“Kajian diperlukan karena pertamax-pertalite makin tinggi penggunanya. Jangan sampai orang-orang pilih BBM di atas RON 88, tapi premium masih dianggap konsumsi utama,” jelas Wianda melalui pesan singkatnya, Selasa (27/9).

Menurut data Pertamina, konsumsi pertamax saat ini mencapai 12 ribu kiloliter (kl) per hari. Sementara itu, pertalite menembus 25 ribu kl per hari. Menurut Wianda, Pertamina tidak berniat menghilangkan premium secara paksa.

Pertamina, lanjutnya, justru meyakini bahwa permintaan premium akan turun sendiri karena peralihan selera konsumen. Hilangnya subsidi pada premium membuat harga BBM RON 88 tersebut tidak terpaut jauh dengan pertalite yang memiliki RON 90.

Konsumsi bahan bakar nonsubsidi pertalite dan pertamax sudah mencapai 40% konsumsi BBM nasional kategori gasoline. Tidak adanya subsidi pada premium membuat harganya tidak terpaut jauh dengan pertalite. Tak heran konsumsi pertalite meroket.

Saat ini harga premium Rp 6.550 per liter, pertalite Rp 6.900 per liter, dan pertamax Rp 7.350 per liter. “Akhir tahun nanti, pertalite bisa di atas 40% atau sampai 50% dari konsumsi nasional,” ungkap Wianda.

Sementara itu, saat ini konsumsi solar berada di kisaran 30 ribu kl per hari. Pertamina saat ini berfokus pada upaya pemenuhan kebutuhan domestik tanpa impor. Wianda juga memastikan, pengurangan subsidi solar Rp 500 per liter tidak akan berpengaruh besar pada harga jual.

Mengenai rencana pemerintah menyesuaikan harga BBM pada 1 Oktober, Wianda menegaskan, Pertamina menyerahkan sepenuhnya kebijakan tersebut kepada pemerintah. Pertamina juga tidak mempermasalahkan masa berlaku harga baru BBM selama tiga bulan atau enam bulan.

“Soal harga, bisa ditanyakan langsung ke Pak Wirat (Dirjen Migas ESDM Wiratmaja Puja). Kami serahkan sepenuhnya ke pemerintah,” tandas Wianda.

Wiratmaja sebelumnya menyebutkan, ada peluang penurunan harga premium, sedangkan harga solar akan dinaikkan. Perubahan harga dua BBM terpopuler itu berkisar Rp 300–Rp 500 per liter. Untuk menghindari spekulasi, harga baru BBM diperkirakan disampaikan pada akhir bulan. (Andika)

Komentar

To Top