Berita Utama

Kucari Bima dalam Peta

Banjir di Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu (21/12)/Foto via Republika Online
Banjir di Bima, Nusa Tenggara Barat, Rabu (21/12)/Foto via Republika Online

Puisi HM. Nasruddin Anshoriy Ch

KUCARI BIMA DALAM PETA

Hari ini kucari Bima dalam peta, tapi banjir besar telah menghanyutkan segalanya.

Kecuali doa! Kecuali doa!

Kutemukan Bima saat senja tiba, padahal air mata telah mendidih di dadam dada sejak fajar pagi tiba.

Negeri para pendoa itu seakan bermandi cahaya, saat banjir menerjang di pagi buta, saat adzan subuh belum sempat menggema.

Kucari Bima dalam peta, tapi banjir bandang berita pilkada telah menenggelamkan jerit tangis anak-anak tak berdosa hingga menjadi sampah tanpa makna.

Kepada sungai-sungai yang telah usai menjalankan takdirnya aku bertanya, inikah ulah manusia yang telah membutakan alam semesta hanya untuk keserakahan saja?

Di Bima, senja semakin sekarat saat doa-doa dipanjatkan dan malam segera tiba. Terimalah doa dan peta yang kukirimkan kepadamu, duhai yang masih bernama manusia!

Gus Nas

Gus Nas

*HM. Nasruddin Anshoriy Ch atau biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll. Baca : Biogragi Singkat.

Komentar

To Top