Berita Utama

KTT ASEAN: Presiden Obama Menyesal Atas Peristiwa Pemboman Masa Lalu

Barack Obama/Foto: Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Dalam pertemuan bilateral dengan presiden Laos, Bounhang Vorachit, yang baru saja terpilih menjadi presiden oleh Partai Komunis Laos, Obama langsung menyatakan penyesalannya atas peristiwa pengeboman terbesar dalam sejarah Laos yang dilakukan oleh AS. Terkait dengan peristiwa tersebut, Presiden Obama juga dijadwalkan melihat berbagai dampak pemboman yang tidak meledak di masa Perang Vietnam.

Dalam penyesalannya, Obama kemudian menjanjikan bantuan dana sebesar US$ 90 juta atau setara Rp 1,2 triliun selama tiga tahun ke depan untuk menyingkirkan sisa-sisa bom kluster dan amunisi gagal meledak lainnya. Bantuan tersebut, disambut baik oleh Presiden Laos Bounnhang Vorachit yang dinilai sebagai upaya meraih rasa saling percaya antara kedua negara.

Sebagai catatan bahwa antara tahun 1964-1973, pesawat pembom Amerika menghujani desa-desa dan kampung-kampung di Laos dengan jutaan ton bom. Amerika pada waktu itu berusaha memutus suplai logistik bagi tentara Vietnam dari Laos.

Sebanyak 30 persen dari bom tersebut gagal meledak dan masih tersisa di 10 provinsi di Laos. Sebagian bom tersebut adalah bom kluster yang berbahaya bagi anak-anak karena bentuknya mirip mainan. Jumlah korban tewas akibat pengeboman di Laos mencapai 29 ribu dan 21 ribu lainnya luka-luka.

Obama juga menyatakan bahwa upaya untuk menemukan bom-bom klaster tersebut akan dibantu oleh Pentagon. Amerika akan membantu menyediakan data titik-titik mana saja di Laos yang dijatuhi bom klaster.

Sebagai informasi, pendanaan Amerika bagi penemuan dan pembersihan senjata yang tidak meledak saat perang dan bantuan bagi korban belakangan ini telah mengalami peningkatan. Kongres Amerika telah memberikan mandat kepada Pemerintah Amerika untuk memberikan sedikitnya lima juta dolar Amerika untuk membersihkan senjata yang tidak meledak di wilayah-wilayah yang dibom oleh Amerika pada masa perang.

Tahun ini Kongres Amerika mengalokasikan dana sebanyak 19,5 juta dolar Amerika untuk bantuan pembersihan sisa-sisa bom yang tidak meledak di masa perang, termasuk korbannya. Dan untuk pertama kalinya Presiden Amerika mengakui bahwa Amerika memiliki tanggung jawab lebih untuk membersihkan sisa-sisa bom yang tidak meledak selama perang.(Banyu)

 

Komentar

To Top