Menolak PKI di Indonesia. Foto via tribun
Menolak PKI di Indonesia. (Foto via tribun)

NUSANTARANEWS.CO – Teoritikus Terry Eagleton (1996) kerap kali memuarakan uraian teori sastra modernnya pada pandangan Marxis. Tulis kritikus muda Narudin memulai catatan kritis singkatnya.

“Ini keanehan yang nyata karena sejak lama Komunisme sudah banyak ditinggalkan para filsuf eksistensialis, misalnya, Kierkegaard, Berdyaev, dan Jaspers,” tegas Narudin, Minggu (29/1/2017) seperti dikutip nusantaranews.co.

Menurut Narudin, Darwinisme dan Komunisme secara substansial sama, yaitu memberhalakan materi. Berhala “kebendaan”. Secara esensial, Darwin mengejar materialisme evolusi yang penuh khayalan dan bersifat ateistik—meniadakan campur tangan Ilahiah.

“Ini harus diwaspadai oleh guru/dosen Biologi saat mengajarkan teori Darwin di depan kelas,” seru dia.

Lebih lanjut Narudin menyampaikan, Marx berkhayal juga secara revolusioner dan reaksioner terhadap pelbagai perbedaan kelas di masyarakat agar tercipta masyarakat tanpa kelas (classless society). Perjuangan Marx yang komunis itu (class struggle) bersifat ateistik pula—meniadakan campur tangan Tuhan.

“Ini harus diwaspadai oleh guru/dosen Sejarah/Sosiologi saat mengajar di muka kelas. Pengalaman ini saya dapati tatkala masih mengajar Contemporary Sociology (Sosiologi Kontemporer),” seru Narudin lagi.

Pendek kata, kata dia, teori yang berwatak ateistik itu berbahaya bagi generasi muda yang masih awam dan generasi tua yang sok tahu dan menutup diri dari kebenaran hakiki.

“Seperti kata Kierkegaard, Berdyaev, dan Jaspers (Hassan, 1992), Komunisme itu tak mengerti soal spiritualisme manusia yang dinamis dan ber-subjektifikasi (wewenang kodrati manusia yang memiliki kebebasan pribadi yang tak terkekang oleh kekuatan kelompok/partai yang berdampak negatif/merugikan),” terangnya.

Tidak hanya itu, Narudin juga menyatakan sebagai penutup kritiknya, karena bersifat ateistik (tak ber-Tuhan), maka seluruh aktivitas komunis pasti pada hakikatnya tak bertujuan, limbung, terombang-ambing di lautan kebingungan dan kesesatan. (Sulaiman)

Komentar