Menteri Desa Eko Putro Sandjojo bersama Presiden Jokowi meninjau pembangunan di Desa Tani Bakti, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur/Foto Humas Kemendesa (Wahyu Wening)
Menteri Desa Eko Putro Sandjojo bersama Presiden Jokowi meninjau pembangunan di Desa Tani Bakti, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur/Foto Humas Kemendesa (Wahyu Wening)

NUSANTARANEWS.CO – Menteri Desa Eko Putro Sandjojo memberikan apresiasi terhadap penggunaan Dana Desa yang sepenuhnya untuk pembangunan desa dan melibatkan masyarakat secara aktif. Apresiasi diberikan kepada masyarakat saat Menteri Eko bersama Presiden Jokowi meninjau langsung progres pembangunan di Desa Tani Bakti, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

“Ini kita apresiasi, karena sebelum ada embung desa masyarakat harus membeli air di musim kemarau sampai Rp80.000 dan sekarang cukup dengan Rp15.000, termasuk sudah dipasang pipa. Dari sarana air bersih ini bisa dihasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) antara 3-4 juta per bulan,” ujar Menteri Eko di Desa Tani Bakti, Minggu (4/12) seperti dilansir kemendesa.go.id.

Dalam kunjungannya ke kawasan perbukitan yang dihuni 376 Kepala Keluarga ini, Menteri Eko melihat langsung penggunaan Dana Desa yang sudah mulai dicairkan sejak tahun 2015. Pada tahun pertama, Dana Desa yang diterima sebesar Rp277.894.500 (Rp277,8 juta) sedangkan tahun 2016 naik menjadi Rp648.487.000 (Rp648,4 juta). Dimana, sebagian besar Dana Desa digunakan untuk membangun sarana air bersih seperti embung dan waduk. Hal ini tidak lain karena masalah kekeringan kerap menimpa warga desa di perbukitan ketika musim kemarau.

Didampingi Kepala Desa Tani Bakti, Alamsycah, Menteri Eko juga menegaskan bahwa waduk yang dibangun juga dibutuhkan masyarakat untuk menjamin keberlanjutan tanaman pertanian di musim kemarau. Waduk itu bisa mengairi 20 hektar lahan pertanian di desa tersebut.

“Saran saya selanjutnya, Dana Desa bisa dikembangkan lagi untuk memperkuat ekonomi desa. Misalnya dengan membangun kolam budidaya ikan, dan tentunya dengan membuat BUMDesa sebagai wadah pengelolaan ekonomi,” jelas Menteri Eko.

Sebagaimana diketahui, sesuai namanya, desa Tani Bakti menjadi salah satu pusat pertanian, perkebunan, dan kehutanan di Kutai Kartanegara. Selain merica yang menjadi komoditas unggulan yang dihasilkan masyarakat, Desa Tani Bakti juga menjadi penghasil aneka produk kehutanan. Misalnya memproduksi Kayu Sengon, Mahoni, Gaharu, Angsana, Jati, termasuk kayu Sengaun.

Hal ini bisa dimaklumi karena sebelumnya Desa Tani Bakti masuk dalam kawasan hutan bukit Suharto yang merupakan hutan lindung Nasional. Kemudian desa ini dikembangkan menjadi kawasan transmigrasi lokal yang mulai dibangun pada 1990. Karenanya, Desa Tani Bakti menjadi salah satu contoh desa sukses yang pembangunannya terus didorong Pemerintah, khususnya Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. (kiana/red-02)

Komentar