Ilustrasi: Magdalena Galecka Mitrza Artwork 13/Foto: Istimewa
Ilustrasi: Magdalena Galecka Mitrza Artwork 13/Foto: Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Begitu menginjakkan kaki di Arjosari, yang ada dalam pikiran Sam adalah aroma jagung bakar Pulosari. Tempat tersebut langsung masuk daftar yang akan dikunjungi nanti. Sudah lima tahun ia tidak pulang ke Jentaka. Pekerjaannya sebagai manajer penjualan pada sebuah perusahaan besar di Jakarta sangat menyita waktu. Dikubur jauh setiap aroma yang membangkitkan kerinduan pada kota kelahirannya. Pada rasa apel hijau yang bergelantungan di pohon atau pada terbang layang yang ditawarkan Watu.

Ah, Jentaka, banyak nian romansa yang tersimpan, untuk itu Sam akan benar-benar menikmati liburan kali ini. Ia sengaja pulang dengan menggunakan bus. Mobilnya ditinggalkan di Jakarta. Tidak ada yang boleh terlewati kali ini.

Begitu berjalan keluar terminal, pria tersebut mendapati paras sedih orang yang dilewatinya. Bukan hanya satu orang, tapi hampir semua wajah yang dilihatnya murung sambil memandang ke bawah.

“Apa gerangan yang terjadi?” Sam bertanya pada pemuda bercelana blue jins di dekatnya. Pemuda tersebut menggeleng dengan wajah putus asa. Tak satu pun kalimat keluar dari mulutnya. Gelengan yang sama juga ia peroleh dari seorang ibu muda yang berjalan sambil mengandeng bocah lelaki.

Akhirnya Sam memperoleh jawaban dari seorang bapak tua, “Jentaka sudah berubah, Le.” Mata lelaki tua itu berkaca-kaca.

“Apanya yang berubah?”

“Semuanya … Bahkan kenangan pun sudah lenyap seperti tertelan bumi.”

Pak tua tertatih meninggalkan Sam yang melongo tak mengerti. Mungkin terjadi perubahan kebijakan di pemerintahan, tapi tidak ada kehebohan di surat kabar atau televisi. Atau mungkin para wartawan maupun reporter sudah bosan melaporkan situasi politik yang tak pernah ada ujungnya itu.

Sam menaiki angkot menuju ke rumah Ibu. Begitu memasuki kota, ia tidak bisa mempercayai penglihataannya. Jentaka benar-benar sudah berubah.

***

Sebuah kota menghilang perlahan-lahan? Ini pasti salah. Demi lebih menyakinkan diri, Sam mengambil jalan memutar ke Krojen. Ia turun dan menyetop sebuah angkot yang melewati jalur alun-alun pasar. Omong kosong! Alun alun Pasar Jentaka tak mungkin ikut lenyap.

Saat melalui Jalan Merdeka Barat, lelaki itu mengucek-ngucek matanya. Masjid Jamik dengan arsitektur Persia dan interior Jawa itu telah hilang. Tak ada sedikit pun tanda-tanda pernah ada rumah ibadah di situ. Sam memilih turun di tempat tersebut. Gontai lelaki itu menuju tempat yang dinyakininya dulu pernah bediri mesjid besar.

Sekelebat kenangan masa kecilnya muncul.

Seorang anak laki-laki diseret bapaknya menuju tempat ibadah. Anak itu berusaha untuk protes, tapi bapaknya tak bergeming. Anak kecil mulai menangis, lelaki berkulit gelap itu berhenti, kemudian berjongkok di hadapan anaknya.

“Le, umurmu sudah tujuh tahun? Kamu sudah harus shalat bersama Bapak di mesjid.”

“Tapi hari ini aku tak enak badan, Pak. Besok saja.” Wajah anak kecil itu memomohon yang membuat Bapak menganggukkan kepala.

Setelah bapak berlalu menuju teras mesjid, anak kecil itu tersenyum penuh kemenangan seraya mengeluarkan batu engklek dari saku celana.

Wajah Sam dewasa tersenyam simpul, “Ah! Bapak, aku kangen.”

Sam kembali memandang ke arah bekas mesjid. Dan sosok bapak pun lenyap dari ingatannya. Sekuat tenaga ia berusaha mengingat wajah bapak, tapi gagal. Bapak sudah lama tiada, mungkin itu penyebab ia gagal mengingat lelaki yang amat dirindukannya itu. Sam berbalik, kemudian mencoba mengingat ibu yang sedang menunggunya di rumah. Sayang wajah ibu juga datar tak berbentuk, begitupun dengan wajah adik-adiknya. Amnesia seakan menyerang lelaki yang baru tiba di kota Jentaka itu. Kecemasan melandanya. Betapa tidak, ia tidak ingat jalan menuju krojen lagi.

Sam tergesa menuju pejual asongan yang berada di pinggir jalan. Dan menanyakan arah Krojen. Beruntung ia masih ingat kata Krojen. Wajah lelaki penjual itu semakin muram sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Adrenalin dalam tubuh lelaki 30-an itu memacu cepat. Kecemasan melanda dirinya. Ia mulai berjalan tanpa arah. Tak satu pun tempat yang dikenalinya lagi. Papan-papan bilbord seakan tidak ada gunanya sama sekali. Tiba-tiba rasa segar es krim membaur dalam lidahnya. Ia ingat sebuah kedai es krim Belanda yang sering di kunjunginya dulu. Tapi pintu kenangan masih segan untuk membuka diri pada lelaki itu.

Sekuat tenaga ia berusaha, tetap nihil. Tak ada yang bisa diingatnya lagi. Detik itu juga Sam merasa benar-benar sendirian. Bahkan ia mulai tidak ingat kenapa berada di tempat itu. Saat memandang sekeliling ia mendapati orang-orang berjalan sendirian. Tak ada satu pun yang bergerombol, bahkan anak yang baru bisa berjalan pun melangkah sendiri, tanpa orang tuanya.

Dan di dalam sebuah kereta bayi terdengar suara tangisan. Sam menuju tempat tersebut. Terlihat bayi perempuan menangis kehausan, kulit wajahnya memerah. Sepertinya ia ditinggal begitu saja di trotoar. Ibunya tak terlihat di dekat tempat itu. Mungkin sang ibu telah lupa jika memiliki seorang bayi.

Sam mengelus pipi bayi perempua itu. Dilihatnya ada susu dan botolnya tergeletak di dekat kaki bayi. Membuat susu bayi tentu tak beda jauh dengan cara membuat susu orang dewasa. Ia mulai mencampurkan susu dengan air mineral. Beruntung ia masih mengingat cara membuat susu.

Saat dot masuk ke mulutnya, bayi perempuan itu langsung mengisap dengan rakus. Sam menjadi sedikit lega. Tidak berselang kecemasan lain menghantui. Harus dibawa kemana bayi itu? Rasanya tak mungkin ditinggal begitu saja. Lelaki itu mulai mendorong kereta bayi di trotoar.

Seorang penjual cendera mata yang menggelarkan dagangan di pinggir jalan memeberitahukan Sam, bahwa peduduk kota ini telah kehilangan memori mereka. Ia merasa pernah mendengar hal yang sama sebelumnya, tapi tidak ingat lagi siapa yang memberitahukan itu.

Bayi perempuan yang berada dalam kereta mulai menangis lagi. Sam mengendong untuk menenangkannya. Anehnya sang bayi tetap menangis. Hidung Sam mencium bau tak sedap. Pasti bayi itu buang air. Lelaki itu kebingungan mencari tempat untuk membersihkan bayi malang tersebut.

Sam masuk ke sebuah mall dan berhasil menemukan toilet. Tak diacuhkan tatapan aneh yang tertuju padanya. Seorang lelaki dan bayi. Itu tak penting. Yang pasti ia tidak akan meninggalkan bayi itu sendirian. Lelaki itu merasa aneh. Kenapa ia tidak lupa saja jika ia harus menolong bayi perempuan tersebut? Padahal bayi itu sangat bau. Berarti hal-hal tertentu masih tetap diingatnya. Mungkin itu bisa digunakan untuk membuka seluruh ingatannya yang lain. Bahkan siapa tahu bisa membuka kembali ingatan warga kota.

Setelah membersihkan bayi, Sam menyapa seorang ibu pengunjung mall. Ternyata ibu itu juga bernasib sama dengan dirinya. Tak bisa mengingat kenapa ia masuk ke dalam mall dan sedang bersama siapa tadi. Ibu itu merasa kesepian dan sendirian. Itu membuatnya sangat sedih.

“Ibu hanya harus mengingat kebaikan. Kebaikan tak akan meninggalkan ibu,” ujar Sam. Ibu itu terdiam sesaat kemudian memandang bayi yang berada di dalam gendongan Sam.

“Anakmu? Kamu beruntung punya bayi, Ibu malah tak punya siapa-siapa.”

“Tidak, Bu. Ini bukan anakku. Aku menemukannya di pinggir jalan.”

Ibu itu terdiam kemudian hendak meninggalkan Sam.

“Tunggu, Bu. Jika Ibu sendirian. Kenapa kita tidak bersama-sama saja?”

Langkah ibu itu berhenti kemudian berbalik, “Kamu benar, Le. Tak ada salahnya kita bersama-sama.”

***

Di sebuah rumah besar yang berlantai dua, seorang lelaki berkepala plontos dan berperut buncit terlihat sedan mondar-mandir. Jas mahal yang dikenakannya tak mampu menyembunyikan kecemasan dari parasnya.

“Kenapa jadi seperti ini, Ki? Sopirku, asisitenku di kantor tidak mengenaliku lagi. Mereka tak mau menurut pada perintahku. Bahkan anak istriku tidak mengenaliku lagi. Bahkan mereka meningalkanku sendirian.”

“Tapi kamu sendiri yang memintaku untuk menghilangkan ingatan warga kota biar mereka lupa jika kamu mengambil uang mereka dan meniduri istri mereka,” ujar lelaki tua berbaju hitam dan berkopiah hitam.

“Iya, tapi bukan berarti anak dan istriku juga lupa padaku.”

“Mereka juga warga kota, kan?” lanjut lelaki tua tanpa rasa bersalah.

Lelaki berjas mewah menghempaskan pantatnya di kursi kemudian terdiam. Ia menutup wajah dengan telapak tangan. Kesunyian menyergap ruangan tersebut.

“Ya sudah, kembalikan ingatan mereka semua,” ujar lelaki itu setelah sekian lama terdiam.

“Jabatanmu akan hilang, kamu akan dipenjara karena kesalahanmu.” Lelaki tua berusaha mengingatkan lelaki berjas.

“Aku tidak peduli,” ujar lelaki berjas lemas. Dan lelaki tua pun perlahan membentuk asap tebal kemudian lenyap dari tempat itu.

***

Sam memperhatikan wajah perempuan yang kini berjalan di sampingnya. Wajah ibunya mendadak tidak datar lagi. Dan ia bisa mengingat dengan jelas.

“Ibu!” ujar Sam sedikit tak percaya pada penglihatannya.

“Sam! Kamu Sam anakku. Kapan kamu sampai, Le? Dan ini …. Kenapa Lalita bersamamu?” ujar ibu sambil menatap bayi yang digendong Sam.

“Lalita?” Kebingungan menyusupi Sam.

“Iya, Lalita. Anak adikmu.”

Sam kembali menatap bayi perempuan dalam gendongannya. Ia hanya mengenal keponakannya dari gambar yang dikirim sang adik saja. Tanpa sadar, bayi yang ditolongnya adalah keponakannya sendiri. Dan aroma jagung bakar di Pulosari kembali bermain di pikirannya.

Tidak jauh dari tempat itu, perlahan-lahan Mesjid jamik mulai muncul kembali.

Ida Fitri
Ida Fitri

*Ida Fitri, lahir di Bireuen 25 Agustus. Sekarang menjadi Penyuluh Kesehatan Masyarakat di Aceh Timur.

_____________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi karya baik berupa puisi, cerpen, dan esai dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

Komentar