Connect
To Top

Kontestasi Pilkda DKI Jakarta Bukan Sekedar Pilkada Biasa

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Panglima Komando Kawal Al Maidaah, Eksponen warga Muhammadiyah, Mashuri Masyhuda menyatakan Pilkada DKI menjadi berbeda ketika salah satu kontestannya mejadi terdakwa kasus penistaan Al Qur’an yang sedang bergulir di Pengadilan. Hal ini dikuatkan dengan sikap keagamaan Majelis Ulama yang selama ini menjadi refrensi utama ummat Islam di Indonesia dalam banyak hal.

“Apakah mungkin Partai Politik Islam berseberangan dengan Majelis Ulama dalam konteks pandangan Penistaan Agama, terkecuali salah satu Partai yang “ditake over” oleh kubu tertentu dan kemudian bermanuver sendiri dengan berbagai macam kepentingannya,” kata Mashuri kepada nusantaranews, Kamis (16/2/2017).

Aktivis 411-212-112 itu juga menyampaikan, selain blunder Penistaan Agama yang dilakukan salah satu pasangan itu, blunder terbaru yang juga melekat pada dirinya adalah kembali melenggangnya sebagai gubernur yang seharusnya menurut UU 23/2014 tentang Pemerintah Daerah harus diberhentikan. “Jadi dua argumentasi itu saja menurut saya sudah cukup untuk jadi alasan bersatunya Partai Islam di Leg ke-2 Pilkada DKI nanti,” ujarnya.

“Harapan kami tentunya agar seluruh komponen Ummat Islam tak terkecuali Partai Politik Islam menghidupkan mesin politiknya menyongsong “pertarungan” diputaran kedua nanti. All Out Bersama adalah kata kunci yang tepat untuk menggambarkan harapan tersebut, yang sedang ummat islam hadapi adalah kekuatan “raksasa” yang terindikasi penuh tipu daya,” sambung Mashuri.

Menurut dia, pertarungan ini hanya bisa dimenangkan atas ijin Allah SWT melalui ikhtiar semua komponen ummat islam.

Namun demikian, ia pun mengatakan, tantangan terberat kedepan adalah menyakinkan ummat islam bahwa momentum Pilkada DKI adalah ujian besar atas persatuan dan kesatuan ummat islam, tingginya potensi “money politik” yang dikemas dalam paket-paket program yang tampaknya kreatif tapi membuai pemilih, intervensi pengaruh media dalam menggiring opini publik yang bertolak belakang dengan fakta empiris dilapangan, akhirnya memaksa ummat islam “terkotak-kotak”.

“Kami optimis pertarungan ini akan dimenangkan oleh ummat jika fair play dan jurdil dijunjung tinggi,” tegasnya.

Pewarta/Editor: Achmad Sulaiman

Komentar