(Ilustrasi) Bocah. Foto: Pixabay
(Ilustrasi) Bocah. Foto: Pixabay

Cerita Bersambung: Andika Wahyu A. P.*

NUSANTARANEWS.CO – Malam menjelang, aku dan beberapa kawan ku di lingkungan rumah segera pulang, kami memang selalu bersepeda hingga larut malam biasanya, namun entah mengapa belakangan ini ibu melarang ku bermain keluar hingga malam, bahkan pernah suatu saat aku dimarahi ibu ketika aku pulang pukul tujuh malam, padahal kan itu baru tujuh malam? Aku tidak mengerti memang apa yang terjadi, hanya saja bertemu dengan kawan-kawan memang membuatku tak peduli dengan itu semua.

Aku selalu bermain dengan lima kawanku, hingga harusnya ber enam, namun entah lah, kawanku bernama Tomi ternyata pindah rumah, dan aku tak mengerti alasannya mengapa ia pindah, begitupun dengan kawan-kawan yang lainnya, ah, mungkin orang tuanya dipindah kerjakan di luar kota. Sore ini aku kembali dari hutan, di belakang kampung kami, memang kampung ku masih dikelilingi oleh banyak kebun dan hutan hingga udara begitu sejuk di sini. Dan ketika aku di jalan, terlihat beberapa orang mengobrol dengan serius, aku tak begitu mendengarnya namun, mereka berkata tentang mayat di sungai, aku tak tahu persis apa yang terjadi, hanya saja memang katanya sesuatu sedang terjadi di kota-kota besar, entahlah, aku hanya mendengar sekilas saja.

Sampai di rumah, Ibu terlihat sedang mengobrol melalui telephone rumah kami, ia terlihat begitu panik hingga tak menyadari aku yang sudah pulang, biasanya ia akan menyambut lalu bertanya kegiatanku seharian ini bersama teman-teman, namun sepertinya memang ibu sedang dalam perbincangan serius dengan seseorang di telephone.

“Iya, yaudah.. aku tunggu ya besok, tapi jangan malam mas.. soalnya disini nggak jauh beda.”, Ibuku lalu menutup telephonenya, mengakhiri pembicaraan diantara keduanya tentang sesuatu yang aku sama sekali tidak paham.

“Siapa bu?”, tanyaku tiba-tiba,

“Hmm?.. oh, Ayah mau pulang besok,”, ibu tersenyum padaku dan menjawab dengan ramah,

hanya saja aku rasa sesuatu pasti sedang terjadi dengan Ayahku di Jakarta, ya, Ayah dan Ibuku memang telah lama berpisah namun tidak bercerai, aku masih ingat perlakuan kasar ayahku pada Ibu saat aku masih duduk di kelas tiga SD, namun sepertinya dengan waktu yang semakin berjalan, Ibu bisa menerima kembali Ayah, buktinya dia bisa menerima kembalinya Ayah di rumah kami sekarang, entah lah alasan asli versi Ibu.

Begini lah ketika malam di kampung kami, begitu sepi, padahal dahulu, banyak ibu-ibu atau bapak-bapak lingkungan kampung yang mengobrol di luar, sekedar melepas penat atau mengisi waktu luang yang tersisa dari pekerjaan mereka. Namun kini, seiring dengan kabar simpang siur tentang apa yang terjadi di perkotaan, aku rasa seluruh warga pun ketakutan untuk keluar malam. Selepas makan malam bersama Ibu, aku biasa mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu, sebentar lagi ujian kenaikan kelas, aku tidak ingin membuat Ibu kecewa dengan nilai ku yang sempat turun semester lalu, namun walaupun begitu Ibu tidak pernah marah, ia tetap menyemangati ku, walaupun aku tahu, di dalam hatinya pasti ada sedikit kekecewaan, itulah yang tidak ingin aku ulangi kembali.

Konsentrasi ku ternyata terganggu saat terdengar suara seseorang sedang berlari panik diluar rumah kami, “siapa itu? apa yang terjadi?”, rasa penasaranku benar-benar semakin menjadi-jadi ketika beberapa orang berteriak di luar, tidak terlalu kencang, namun karena jaraknya yang dekat, aku jadi mendengarnya. Aku pun mengintip sejenak dari balik tirai yang menutup jendela rumah depan kami yang menghadap ke luar. Nampak seorang bapak-bapak membawa senter berbicara di tengah jalan dengan Pak Yusril, ketua RT kami.

“Ada mayat lagi pak di pinggir sungai, tubuhnya setengah terbungkus karung goni pak!”, ucapnya pada Pak Yusril dengan panik dan nafas yang memburu.

“Ada lagi?!” jawab pak RT tentang laporan bapak-bapak itu, “shhtt!, kita kumpulkan bapak-bapak di sekitar dan kita cek!”, bisik pak RT yang samar-samar terdengar olehku yang mengintip di jendela, mereka pun segera pergi ke arah hutan di sebelah kampung kami, namun ketika aku masih memperhatikan mereka berjalan dari jendela, menjauh dari rumah kami ibu mengejutkan ku dari belakang.

“Bayu, udah selesai?”, tanya Ibu padaku dari belakang.

“Ah, iya bu.. udah kok.”

“Yaudah, tidur sana, udah malam juga.”, Ibu ku menuntun dan membereskan buku ku, mengantarku ke dalam kamar,

“Udah tidur, jangan macem-macem besok sekolah kan.”, tanya Ibu ku dengan berbalik badan dan meninggalkan ku sendiri di kamar. “Bu, Ayah nggak apa-apa kan?”, tanya ku kembali saat Ibu akan menutup pintu kayu sederhana yang ada di kamarku.

“Nggak lah, udah tidur, besok Ayah juga datang, dia juga bawain kamu oleh-oleh loh..”, Ibu ku tersenyum padaku, “udah tidur sana..”, Ibu menutup pintu kamarku, dan sementara itu aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh tentang apa yang baru saja aku saksikan di luar rumah, “Mayat?.. mayat apa?”, pikirku namun itu segera aku lupakan dan aku kembali tertidur lelap memeluk guling yang ada di samping tubuhku, kembali ke alam mimpi yang indah dimana aku bisa melakukan apa saja yang aku mau tanpa mau dimarahi oleh Ibu atau takut keluar rumah ketika malam hari.

Dan keesokan harinya tepat pukul 3 sore Ayahku benar datang, hari itu memang aku hanya bersekolah sampai pukul 12 siang saja, dan aku pun langsung pulang ke rumah, untuk menyambut kedatangan Ayah, sesampainya dirumah aku langsung memeluk Ayahku, karena aku sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali aku memeluk Ayahku ini. Namun wajahnya begitu lusuh, dengan pakaiannya yang berlengan panjang. Dan ternyata benar ia membelikanku sebuah pistol mainan, aku begitu senang sekali, jarang sekali aku mendapatkan mainan, karena aku memang tak mau merepotkan Ayah dan ibu hanya untuk merengek meminta mainan seperti teman-temanku yang lainnya, jadi aku terima saja mainan ini jika itu memang mereka berikan untukku.

Namun kegembiraan itu tak terjadi pada raut wajah Ibu, ia nampak murung, khawatir, atau entahlah apa itu namanya, susah untuk dikatakan, memang dari kemarin Ibu sepertinya begitu khawatir akan sesuatu yang mungkin terjadi, aku tidak tahu, karena aku pun tidak ingin berpikiran macam-macam, tentang suatu hal yang buruk. Kini mereka mengobrol di salah satu sudut ruangan dan aku tidak ingin menguping pembicaraan mereka, namun nampaknya sangat serius, hingga karena aku sungkan untuk bertanya tentang apa yang terjadi aku pun bermain diluar bersama teman-teman ku, dengan memamerkan pistol mainan yang baru saja aku dapatkan dari Ayah.

Baca Kisah Sebelumnya: Konon Namanya adalah Celurit

*Andika Wahyu A. P. lahir di Klaten, Jawa Tengah, 22 Juli 1998, ia dibesarkan di kota Tasikmalaya, Jawa Barat, berkebangsaan Indonesia, dan kini merupakan seorang Mahasiswa Seni Film di Institut Kesenian Jakarta.  Ketertarikannya terhadap genre, Horror/thriller melalui buku maupun film, seringkali dituangkan langsung kedalam beberapa karya nya, sebut saja film pendek yang ia tulis dan sutradarai sendiri seperti, “AEOLUS” yang terinspirasi dari sebuah mitologi Yunani dan juga “Lost”, yang keduanya sempat masuk di beberapa festival film termasuk festival film International di China, dengan kategori thriller dan experimental di tahun 2016.

__________________________________

Bagi rekan-rekan penulis yang ingin berkontribusi (berdonasi*) karya baik berupa puisi, cerpen, esai, resensi buku/film, maupun catatan kebudayaan serta profil komunitas dapat dikirim langsung ke email: [email protected] atau [email protected]

 

Komentar