Connect
To Top

Kompatibel Secara Seksual Sebagai Kunci Sebuah Hubungan Pernikahan

NUSANTARANEWS.CO – Jill (nama samaran) adalah seorang perawan menikah di usia 22 tahun. Dia menikah dengan Boris. Jill menjaga dirinya untuk satu pria yang dicintainya. Dia mengaku sangat bangga telah mampu menjaga keperawanannya sampai malam pertama tiba.

Bersama suaminya, Boris, Jill mengaku sangat bahagia melewati malam pertama. Suasana indah dan romantis. Jill merasa senang ketika dia bisa memberikan dirinya sepenuhnya kepada pria yang dicintainya. Dia merasa telah menyerahkan keperawanannya kepada orang yang tepat, Boris, suaminya itu.

Sekarang Jill punya suami dan dia akan memberikan yang terbaik dari dirinya serta bagian paling intim dari dirinya. Dia berharap Boris selalu menciumnya, mengatakan padanya betapa ia mencintainya, ia mulai bercinta dengannya.

Rasa sakit mulai datang. Jill mulai khawatir organ intimnya terkoyak karena Boris selalu mengajak bercinta berkali-kali.

Menjerit, Jill tidak melakukan apa pun untuk menghentikan Boris sambil menunggu rasa sakit berubah menjadi kenikmatan. Sayangnya, itu tidak. Dia pernah mendengar bahwa seks dapat menyakitkan pada kali pertama tetapi setelah itu menjadi menyenangkan.

Namun, hubungan seks vaginal mulai dirasakan Jill tidak pernah menyenangkan. Pasalnya, Boris menginginkan seks setiap hari, kadang-kadang dua kali sehari tapi dia tidak pernah mencapai orgasme vaginal karena sakit selalu datang lebih dulu.

Setelah memiliki dua anak bersama Boris, Jill memutuskan tidak ingin hubungan seksual lagi. Akibatnya, satu tahun setelah anak terakhir lahir, Boris berselingkuh dengan rekan kerja dan meninggalkan Jill dengan dua anaknya. Akhirnya Jill dan Boris bercerai.

Beberapa tahun kemudian, Jill bertemu Brett. Setelah beberapa kali bersama, mereka berhubungan seks.

Jill sempat berharap berhubungan seks dengan Brett ada rasa sakit di awal untuk merasakan kenikmatan, sama seperti ketika dulu yang dialaminya bersama Boris. Namun, itu tidak terjadi. Jill tidak merasakan sakit, dia tidak merasakan apa-apa. Apakah dia di dalam dirinya? Dia tidak yakin. Dia tidak percaya. Bahkan setelah beberapa kali melakukan hubungan seks dengan Brett, Jill tetap tak merasakan apapun, rasa sakit alih-alih kenikmatan dan kepuasan.

Alhasil, Jill bercerai dari Brett. Dia merasa hubungan mereka tak ada masa depan.

Beberapa bulan kemudian, Jill bertemu Jack. Secara intelektual, emosional, finansial dan spiritual Jack sangat kompatibel. Mereka juga kompatibel secara seksual. Organ seksual Jack lebih kecil dari Boris tetapi lebih besar dari Brett. Seks tidak menyakitkan tetapi Jill merasakan keintiman. Perlahan Jill belajar untuk lebih rileks sampai akhirnya, setelah satu tahun dengan Jack, dia mendapatkan orgasme vaginal pertama dan berulang kali. Mereka sekarang bahagia dalam ikatan pernikahan.

Studi menunjukkan bahwa Jill tidak sendirian. Melissa Farmer dan Cindy Meston menerbitkan studi mereka dalam Archives of Sexual Behavior pada tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa 1.000 wanita antara 18 dan 25 tahun yang aktif secara seksual 63% melaporkan riwayat nyeri genital selama hubungan seksual. Perempuan yang aktif secara seksual, 40% dari wanita melaporkan nyeri genital kadang-kadang dan 23% wanita dilaporkan mengalami nyeri selama hubungan seksual selalu atau sebagian besar waktu.

Juga Laumann, Paik dan Rosen di JAMA 1999 melakukan survei pada 1.749 wanita dan 1.410 pria berusia 18 hingga 59 tahun. Mereka menemukan bahwa disfungsi seksual merata di 43% wanita dan jumlah itu meningkat setelah menopause. Disfungsi seksual juga hadir di 31% dari laki-laki.

Dalam praktek medis selama bertahun-tahun, ditemukan bahwa kompatibilitas seksual ini penting tidak hanya untuk kebahagiaan tetapi juga untuk kesehatan.

Artikel ini bermaksud menekankan tiga aspek penting ketika mencari pasangan hidup. Pertama, agar terciptanya kompatibel antar pasangan diperlukan tiga aspek dari pasangan anda yakni emosional, intelektual dan spiritual. Sehingga, seberapa sering berhubungan seks tidak menentukan kompatibilitas serta kepuasan seksual yang ditandai dengan merasakan orgasme.

Kedua, soal ukuran organ intim pria. Dari kisah di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa organ intim pria bukanlah faktor penentu tercapainya orgasme pada wanita. Karena yang terpenting adalah soal rasa ketersambungan emosional di antara pasangan ketika berhubungan seks. Hal penting lainnya ialah menyangkut ihwal posisi ketika berhubungan seks. Artinya, posisi-posisi yang disarankan untuk berhubungan seks amat penting diperhatikan agar tidak monoton dan berakhir dengan kebosanan. Selain itu, posisi-posisi yang ditawarkan itu juga perlu untuk menghindari rasa sakit pada organ intim wanita.

Ketiga, soal berapa lama anda akan mencapai orgasme. Sebagian orang memerlukan 20 sampai 30 menit untuk mencapai orgasme. Ada juga sebagian lain hanya butuh 6 menit. Tapi, yang paling penting adalah menciptakan kebahagiaan antar pasangan. Artinya, ketika berhubungan seks bisa membuat pasangan berbahagia, maka orgasme akan sama-sama dapat diraih keduanya. Yang pasti, menjaga hubungan agar tetap langgeng sampai waktu yang panjang merupakan prioritas utama. Bukan seks inti dari pernikahan, melainkan pernikahan itu sendirilah intinya sehingga amat penting untuk saling menjaga.

Pertanyaannya, apakah benar pasangan akan kompatibel secara seksual harus lebih dahulu melakukan hubungan seks sebelum menikah? Atau harus punya pengalaman terlebih dahulu sebelum menemukan pasangan yang tepat? Kata Dr Chris Gilbert, MD jawabannya mungki iya, dan mungkin juga tidak. Demikian seperti dilansir Psychology Today.

Penulis: Eriec Dieda

Komentar