Khazanah

Kololi Kie dan Identitas Kebudayaan Kasultanan Ternate

Kesultanan Ternate Saat Rayakan Ritus Kololi Kie. Foto via molied
Kesultanan Ternate Saat Rayakan Ritus Kololi Kie. Foto via molied

NUSANTARANEWS.CO – Selama ratusan tahun Kasultanan Ternate masih eksis sampai saat ini seiring dinamika sosio kultur yang terus bergerak cepat. Situasi ini tentu berpengaruh terhadap corak kebudayaan secara komunal di kawasan tersebut.

Demikian pula dengan ritual adat Kololi Kie, yang menjadi identitas kebudayaan masyarakat dan Kasultanan Ternate, Provinsi Maluku Utara. Selain sebagai media untuk mengarifi alam, upacara Kololi Kie juga dijadikan oleh pihak Kasultanan Ternate dalam menghormati leluhur-leluhur mereka.

Sebagaimana ritual adat Kololi Kie yang sampai saat ini masih eksis, tentu tak lantas sama persis dengan ritus sebelumnya secara pakaian. Sekalipun esensi di dalamnya tetap berlaku sama. Misalnya atribut-atribut yang digunakan jelas akan mengalami perubahan dan itu merupakan konsekuensi logis.

Dalam hal ini, ritual Kololi Kei biasanya dimulai dari Jembatan Kesultanan (Jembatan Dodoku Ali). Di tempat ini rombongan sultan dan para pembesar kerajaan selanjutnya menaiki perahu yang telah disediakan khusus. Doa pun kemudian dibacakan oleh Imam Masjid Sultan Ternate yang bergelar Jou Kalem.

Usai doa digelar, semua menaiki menaiki perahu. Mulai dari para petinggi kesultanan hingga masyarakat umum. Sebelum berlayar, perahu-peruhu yang tumpangi oleh warga berkeliling memutari perahu yang dinaiki sultan sebanyak tiga kali. Selanjutnya, iring-iringan perahu yang dipimpin oleh Sultan mengitari Pulau Ternate.

Untuk meramaikan suasana, tiap perahu dilengkapi dengan berbagai alat musik, seperti tifa, gong, dan fiol (alat musik gesek). Dalam perjalanan mengililingi Gunung Gamalama, rombongan perahu akan berhenti di tiga titik sembari menabur bunga dan memanjatkan doa.

Sampai di tepi Pantai Ake Rica, sultan beserta rombongan akan dijamu dalam upacara adat yang disebut Joko Kaha. Setelah perahu-perahu merapat di tepi pantai, sultan dan permaisuri akan turun untuk mencuci kaki, lalu disambut secara adat oleh tetua adat. Upacara penyambutan rombongan ini diiringi oleh alunan berbagai alat musik pukul dan gesek tradisional.

Jamuan pun berakhir. Pelayaran kembali dilanjutkan dengan mengelilingi Gunung Gamalama. Di Jembatan Dodoku Ali, masyarakat sudah siap menunggu. Ritual ini dilakukan setiap bulan April jelang ulang tahun Sultan Ternate. (Romandhon)

Komentar

To Top