Ritual Kololi Kie. Foto via Molied
Ritual Kololi Kie. Foto via Molied

NUSANTARANEWS.CO – Sebagai mahkluk yang hidup di jagad kosmos, manusia selalu dihadapkan pada persoalan hubungan dengan yang disekitarnya. Banyak cara yang dilakukan manusia dalam berinteraksi dengan alam.

Seperti halnya masyarakat kepulauan ternate di Provinsi Maluku Utara. Dimana mereka melakukan dialektika dengan alam melalui upacara Adat Kololi Kie. Berdasarkan geneologi kata setempat, Kololi Kie berarti “keliling gunung”.

Jadi, upacara adat ini merupakan ritual mengelilingi sebuah gunung di Pulau Ternate, yaitu Gunung Gamalama. Gunung Gamalama merupakan gunung aktif dengan ketinggian 1.715 meter di atas permukaan laut.

Ritus adat Kololi Kie ini biasanya dilaksanakan ketika terdapat gejala alam yang menandai akan meletusnya Gunung Gamalama.  Pasalnya keadaan seperti gejala alam tersebut dapatlah mengganggu ketenangan masyarakat Ternate.

Itulah sebabnya mengapa saat-saat semacam itu masyarakat sekitar Gunung Gamalama menggelar upacara Kololi Kie. Apa dan mengapa ritual Kololi Kie dilaksanakan tak lepas dari kepercayaan masyarakat setempat yang menganggap setiap gunung ada penunggunya.

Dalam kepercayaan masyarakat Asia Tenggara, khususnya daerah Maluku Utara, gunung dianggap sebagai representasi penguasa alam. Anggapan ini selanjutnya menempatkan keberadaan gunung kemudian dihormati. Dalam hal ini Kololi Kie merupakan ritual yang digunakan masyarakat Maluku Utara dalam menyapa dan berinteraksi dengan alam.

Pasalnya, gunung dianggap mewakili sosok yang mengagumkan sekaligus mengancam, sehingga diperlukan upacara penghormatan supaya keberadaannya menjamin ketentraman dan keamanan masyarakat di sekitar gunung. Dalam perspektif ini, Upacara Kololi Kie merupakan upaya untuk menjauhkan masyarakat Ternate dari berbagai ancaman bencana.

Upacara kololi kie ini menjadi tanda sekaligus penanda bagaimana masyarakat kepulauan ternate mencoba mengarifi gunung dan kehidupan mikrokosmos. Meski pada dasarnya ritual tersebut dilakukan sebagai upaya menjauhkan masyarakat setempat dari marabahaya bencana alam.

Badan Metereologi Indonesia yang menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang memiliki gunung berapi terbanyak di dunia. Mungkin ini kiranya yang menjadi dasar mengapa masyarakat Indonesia memliki corak yang khas dalam berinteraksi dan mengarifi dengan alam, khususnya terhadap gunung. (Romandhon)

Komentar