Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto: Dok. Detikcom
Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin/Foto: Dok. Detik

NUSANTARANEWS.CO – Letnan Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin sepanjang kiprahnya mengabdikan diri untuk Indonesia memiliki banyak kisah inpiratif. Diantaranya pada tahun 1995 kala dirinya berhasil menundukkan pengawal Presiden Israel.

Peristiwa itu terjadi di Presidential Suite, lt. 41 hotel Waldorf Towers, New York. Dimana presiden Israel Yitzak Rabin melalui pengawalnya saat itu memaksa untuk bertemu dengan Presiden Soeharto tanpa melalui prosedur Paspampres terlebih dahulu.

Adu mulut pun tak terhindarkan. Bahkan pengawal Presiden Israel tetap ngotot ingin masuk dan naik lif. Namun dicegah oleh Sjafrie. Dengan penuh arogan pengawal Presiden Israel itu langsung menodongkan senjata ke arah perut Sjafrie. Namun sayang, kecepatan dan kegesitan tangan Sjafrie lebih tangkas.

Dimana dirinya telah lebih dulu menempelkan moncong pistol ke perut tentara Israel tersebut. Sembari beradu tatap, akhirnya pengawal Presiden Israel itu menurunkan senjatanya dan berkata, “Sorry I understand it,” kata pentolan Mossad.

Sementara, PM Israel yang saat itu berada di lokasi tampak gusar, sebab dua orang Paspamres lainnya juga sudah siap menumpahkan peluru mereka. Alhasil Yitzak Rabin melunak dan menuruti prosedur pengamanan Paspamres dan menunggu 15 menit karena memang datang lebih awal dari jadwal diterima oleh Presiden Soeharto.

Sjafrie memang sosok petarung. Pria kelahiran Makassar 1952 yang lulusan terbaik AKABRI 1974 ini tergolong sering bertaruh nyawa. Beberapa kali dirinya terlibat operasi di Timor Timor dan Aceh. Bahkan bisa dikatakan dirinya adalah tentara para komando yang kenyang pengalaman tempur di lapangan.

Kisah heroik Sjafie lainnya adalah kala dirinya berhasil menyelamatkan nyawa presiden BJ Habibie dari serbuan massa. Dimana kejadian ini terjadi pada Agustus 1998 di Kawasan Glodok. Saat itu, Presiden Habibie sedang mengunjungi kawasan yang pusat penjarahan. Massa berkerumun disepanjang jalan padat pertokoan. Mereka tampak antusias dan hendak mendekati Presiden.

Pangdam Jaya, Mayjen Syafrie Syamsudin yang berada dalam rombongan presiden tiba-tiba memacu langkah bergerak cepat ke depan mendahului rombongan. Tak berapa lama, sambil memegang tongkat komando, kedua tangannya diangkat tanda menghalau massa yang hendak menyerbu presiden. Serentak massa menghentikan langkah.

Inilah Sjafrie, dengan segudang pengalamannya yang penuh inspirasi dan tak jarang nyawa jadi taruhannya. Dalam karirnya, ia sempat menjadi Danrem Surya Kancana Bogor, dimana ia habiskan karir teritorial di Ibukota. Dirinya juga pernah menjadi Kasdam Jaya saat gelombang reformasi 1998 bergejolak.

Usai pendidikan komando di Amerika, ia akhirnya kembali Mabes TNI. Kepiawaian manajerial membuat dia dipilih membenahi Kementerian Pertahanan sebagai Sekjen sejak 2005. Karirnya terus menanjak hingga meraih bintang tiga dan menduduki jabatan Wakil Menteri Pertahanan sejak 2010-2014. (emka/ris/TS)

Komentar