Berita Utama

Kilas Mingguan: Ketika Ahok Menghardik Ulama

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Foto via sisidunia
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Foto via sisidunia

NUSANTARANEWS.CO – Mungkin ada benarnya apa yang disinyalir Hendrajit Redaktur Senior Aktual dalam sebuah artikelnya yang mengibaratkan Ahok sebagai sang operator teknis dari sebuah sistem yang sedang berjalan. Ketika sang operator teknis membuat sebuah kerusakan, maka top manajemen menugaskan divisi marketing dari sistem tersebut untuk mereparasinya sehingga sistem dapat berjalan kembali.

Dari ilusrtrasi sederhana itu, dapat dipahami mengapa Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan mendatangi KH Ma’ruf Amin yang dalam persidangan 30 Januari lalu dihardik Ahok. Dalam kasus ini, divisi marketing yang ditugasi untuk mereparasi kerusakan yang dibuat oleh Ahok sang operator teknis di tingkat metode operasi, maka Luhut Panjaitan tampil ke pentas. Sowan ke kediaman Pak Ma’ruf Amin untuk memperbaiki kerusakan akibat kesalahan sang operator teknis di level metode tadi, yang dalam kasus ini adalah Ahok. Demikian ulas Hendrajit.

Ilustrasi ini berusaha menjawab keheranan publik atas tindakan Luhut Pandjaitan yang tampak membela Ahok satu hari pasca sang terdakwa penista agama menghardik KH Ma’ruf. Ulah Ahok diketahui mengundang reaksi keras dari publik negeri, khususnya warga NU yang merasa kiainya telah dituding berbohong dalam sebuah persidangan. Tudingan yang secara moril tentu tak pantas dialamatkan kepada kiai sekaliber Ma’ruf Amin.

Ahok membuat kesalahan di persidangan, tapi Luhut Pandjaitan dan Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M. Iriawan yang buru-buru menyambangi kediaman KH Ma’ruf Amin dengan dalih konsultasi keamanan dan silaturahim. Dua alasan yang boleh dibilang agak sulit diterima akal sehat selain hanya menimbulkan pertanyaan publik belaka.

“Memangnya MUI sekarang ada dibawah Menko Maritim? Apa urusannya mendatangi Ketua MUI setelah pernyataan Ahok yang blunder dan menistakan salah satu ulama yang dihormati di negeri ini? Ini jadi semakin menguatkan bahwa ada apa-apanya antara Luhut dan Ahok, terutama terkait reklamasi,” ujar Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi’i.

Diketahui pula, tudingan itu diucapkan tim kuasa hukum Ahok, Humphrey Djemat.

“Jadi, ketika pengacara Ahok menuduh Kiai Maruf berbohong soal adanya pembicaraan dengan SBY per telepon, mereka jelas ceroboh dengan tuduhan itu. Secara pemikiran, saya berseberangan dengan Kiai Maruf, hingga sekarang. Tapi ndak terima kalau dia dituduh bohong oleh pengacara Ahok. Kiai Maruf sama sekali tak bohong dalam hal tak adanya pembicaraan per telepon dengan SBY soal permintaan fatwa. Bukti ini perlu digelar secara publik, biar tuduhan Ahokers bahwa SBY ada di balik fatwa MUI soal Ahok bisa dikubur. Ini tuduhan bengis!,” kata Ulil seperti dikutip nusantaranews dari sebuah akun media sosial Twitter miliknya.

Reaksi lain datang dari GP Ansor dan Banser. “Dan dengan ini menyatakan siap mendampingi dan membela Kiai Ma’ruf Amin. Sebagai pimpinan tertinggi kami, secara lahir dan batin dalam koridor hukum; dan menyerukan kepada seluruh kader Ansor dan Banser untuk siaga satu komando,” Ketua PP GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas.

Diketahui, sikap Ahok dan tim kuasa hukumnya terhadap KH Ma’ruf Amin menuai kecaman dari berbagai pihak. “Itu kalau nggak dibela nanti seluruh Kiai NU dibuat mainan sama orang-orang seperti itu (Ahok). Ini seorang Kiai loh, seorang tokoh, udah sepuh lagi,” ujar Anggota Komisi I DPR RI, Arwani Thomafi sembari menyeru santri dan warga NU wajib membela Kiai Ma’ruf.

Terlepas dari itu, kendati telah dihardik Ahok dan kuasa hukumnya, KH Ma’ruf dengan besar hati memaafkan. Suatu tindakan mulia yang ditunjukkan oleh seorang ulama yang sepanjang hayat telah dijadikan panutan umat.

“Namanya orang sudah minta maaf masa tidak dimaafkan,” kata KH Ma’ruf di kediamannya di kawasan Koja, Jakarta Utara.

Selain memaafkan Ahok, KH Ma’ruf Amin juga meminta kader PBNU di seluruh Tanah Air untuk juga memaafkan Ahok. Menurut dia, kader PBNU harus tenang dan bisa menahan diri. (Sego)

Komentar

To Top