Ekonomi

Ketua DPR: Kenaikan Harga Rokok Bisa Kurangi Perokok Aktif

Ilustrasi rokok/Nusantaranews

Ilustrasi rokok/Nusantaranews

NUSANTARANEWS.CO – Ketua DPR RI, Ade Komarudin, mengungkapkan bahwa dirinya setuju dengan usulan pemerintah yang ingin menaikkan harga rokok hingga dua kali lipat atau menjadi Rp50 ribu per bungkus. Menurutnya, hal ini dapat membantu mengurangi perilaku konsumtif masyarakat terhadap rokok.

Kendati demikian, pria yang akrab disapa Kang Akom itu juga tak menampik bahwa kebijakan tersebut akan mengurangi jumlah perokok aktif secara signifikan.

“Saya setuju dengan harga rokok dinaikkan. Kenaikkan harga ini sekaligus upaya untuk mengurangi jumlah perokok di masyarakat, walaupun ini masih perkiraan sementara,” ungkapnya di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Jum’at (19/8/2016).

Akom menyebutkan bahwa keputusan Pemerintah yang rencananya akan direalisasikan mulai September 2016 nanti itu sebagai salah satu langkah untuk menambah pendapatan negara melalui tarif cukai rokok.

“Kalau dinaikkan harganya, otomatis penerimaan negara dari sektor cukai akan meningkat. Itu artinya, menolong APBN kita supaya lebih sehat di masa mendatang,” ujarnya.

Di samping itu, Akom mengaku yakin bahwa kenaikan harga rokok tersebut tidak akan berdampak secara signifikan pada industri rokok, termasuk keberlangsungan para petani tembakau.

“Saya menyakini bahwa hal ini tidak akan mengganggu petani tembakau untuk mereka dapat seperti sediakala bekerja di sektornya, sesuai dengan profesi yang dipilihnya selama ini,” katanya.

Sekadar informasi, usulan kenaikan harga rokok menjadi Rp50 ribu per bungkus tersebut merupakan hasil studi dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (Fakultas Kesmas UI). Kajian tersebut mengungkap kemungkinan perokok aktif akan berhenti merokok jika harganya dinaikkan setidaknya dua kali lipat dari harga normal. (deni/red-01)

Komentar

To Top