Ketua DPR RI, Ade Komarudin (Akom)/Foto Istimewa
Ketua DPR RI, Ade Komarudin (Akom)/Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO – Ketua DPR RI, Ade Komarudin (Akom), mengungkapkan bahwa unjuk rasa Bela Islam II pada tanggal 4 November 2016 (411) lalu merupakan demonstrasi yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia.

Selain terbesar, Akom menyebutkan, unjuk rasa tersebut adalah demonstrasi yang paling damai. Pasalnya, lanjut Akom, unjuk rasa tersebut bukanlah soal politik.

“Aksi damai 411 adalah demo terbesar dalam sejarah negeri ini, 98 kalah jauh. Setahu saya sekitar 2 juta (pendemo) lebih dan terbesar dan paling damai dalam negeri ini karena apa? Karena bukan unsur politik yang menjadi motivasi mereka,” ungkapnya kepada wartawan di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Senin (14/11).

Menurut Politisi dari Partai Golkar itu, para demonstran hanya memperjuangkan agama dan keyakinannya terhadap Kitab Suci Al Qur’an. “Mereka hanya tidak mau agamanya dihina oleh seseorang, dan saya pikir hak semua orang beragama. Agama apapun nggak boleh dihina oleh warga negara siapapun,” ujar Akom.

Apapun hasil dari penyelidikan polisi nantinya, Akom mengatakan, tidaklah penting siapa menang ataupun siapa kalah. Yang paling penting adalah jika menyangkut agama, jangan pernah menyasar soal agama meskipun benar pada saat menyampaikannya.

“Sensitivitasnya sangat tinggi, baik agama apapun. Misalnya saya yang beragama Islam tidak boleh komentar soal Injil dan kitab suci lainnya, walaupun saya pernah belajar perbandingan agama, apalagi yang tidak pernah belajar, yang pernah belajar saja tidak boleh sok tahu dan menyerempet membahas agama orang lain.

Apalagi, lanjut Akom, terlebih lagi dalam masa pilkada. Pasalnya, banyak pihak yang berkepentingan dalam kontestasi tersebut. “Dalam kondisi apapun jangan, apalagi dalam kondisi pilkada. Dia (agama) semakin sensitif, dimana semua orang berkepentingan dengan bagaimana pilkada sukses kan begitu, ujungnya lawan politik, jadi barang sedikit bisa menjadi lebar,” katanya.

Oleh karena itu, Akom menambahkan, semua pihak harus menjadikan hal ini menjadi sebuah pelajaran. “Selanjutnya dan mengimbau alat politik jangan bermain dengan agama apapun karena sangat sensitif,” ujarnya menambahkan. (Deni)

Komentar