Ekonomi

Ketika Sektor ESDM Jadi Ladang Basah Asing dan Elite Negara

Tambang PT Freeport di Papua. Foto dok. reuters
Tambang PT Freeport di Papua. Foto dok. reuters

NUSANTARANEWS.CO – Dewasa ini, sadarkah rakyat Indonesia bahwa 80 persen lahan migas yang tersebar dari Sabang sampai Merauke sudah bukan milik bangsa Indonesia. Bahasa sederhananya mereka yang mengelola ladang minyak itulah yang punya hak untuk ekspor. Yang krusial adalah undang-undangnya bahwa hasil yang dikeluarkan oleh bumi Indonesia harus digunakan di dalam negeri – di klausulnya tidak ada. Di dalam konsensinya juga tidak. Sekarang ladang migas Indonesia sudah dizonakan. Indonesia sudah tidak punya apa-apa. Hanya bisa pasrah sebagai administratur yang baik.

“Modal asing yang sudah ratusan tahun melakukan penjajahan dalam sektor ESDM. Modal asing sudah mengeruk kekayaan alam Indonesia terhitung sejak era kolonial. Kekayaan alam diangkut ke luar negeri. Kekayaan alam diolah di luar negeri. Uang hasil penjualan ditempatkan di bank bank asing dan di luar negeri. Penguasaan asing atas sektor ESDM masih berlangsung hingga hari ini. Menggangu domonasi modal asing berarti celaka, mereka menghalalkan segala macam cara untuk mempertahankan dominasi. Jangan coba coba melawan mereka kalau tidak benar benar kuat,” ujar pengamat ekonomi politik dari AEPI, Salamuddin Daeng kepada redaksi, Selasa (31/1/2017).

Sektor Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) adalah sektor kunci dalam ekonomi Indonesia. Sektor ini adalah fondasi kapital nasional, komoditi perdagangan paling penting, sumber pembentukan keuangan nasional. Sektor ESDM merupakan tempat oligarki Indonesia tumbuh, berkembang, memperbesar kapasitas ekonomi dan dominasi mereka. Sektor ESDM adalah sasaran penguasaan paling penting dan tiang utama bagi dominasi oligarki Indonesia.

Menurut Salamuddin, meskipun sektor ini 75-80 persen oleh pihak asing, namun dari sisanya telah sangup membuat kapitalis Indonesia, elite Indonesia, taipan Indonesia dan birokrat Indonesia kaya raya. Meski kapasitas kekayaan oligarki nasional tidak sebesar tuan tuan modal asing mereka, namun dengan sumber daya dari sektor ESDM akan sanggup menopang mereka pada puncak tertinggi politik Indonesia.

“Bagaimana tidak, lebih dari 13 ribu sampai 14 ribu transaksi dalam sektor migas Indonesia, mulai dari eksplorasi, produksi, perdagangan, keuangan, jasa jasa dalam migas. Tambang mineral tidak kurang dari itu. Perusahaan tambang emas terbesar di dunia Freeport beroperasi di Indonesia. Perusahaan tambang emas terkaya di dunia Newmont beroperasi di Indonesia. Belum lagi Indonesia berada dalam urutan 1 sampai dengan 10 diseluruh komoditas ekonomi pertambangan terpenting di dunia,” jelas dia.

Indonesia memang memiliki berapa jenis crude oil. Ada beberapa jenis perbedaan dari sumur dan umur ladang. Sekedar catatan bahwa untuk membangun refinery itu nomor satu adalah harus dapat minimal 8 tahun crude oil yang konstan, baik light, middle light, dan heavy. Yang light bila sudah masuk refinery dapat menghasilkan 80 persen BBM, ini yang dicari. Kalau yang middle 50 persen, sedang yang heavy itu 30 persen BBM, sisanya dapat menjadi pelumas, aspal dan lain-lain.

“Intinya, sektor ESDM adalah ladang perburuan modal atau kapital dan merupakan lahan uang paling penting bagi pengusaha, birokrat dan taipan nasional. Sektor ESDM adalah sumber dana utama oligarki nasional dalam rangka merebut kekuasaan dan mempertahankan kekuasaan mereka. Itulah mengapa sistem pengelolaan  energi dan sumber daya mineral Indonesia dibuat kacau, banyak grey area, banyak ruang abu abu, banyak lubang lubang.

Itulah mengapa dalam sektor ESDM banyak regulasi, aruran, banyak lembaga berwenang dan banyak struktur. Dalam sektor ESDM rantai suplai yang panjang, berliku-liku dan rumit serta tidak mudah dipahami awam. Apakah karena sektor ini rumit? Sophisticate? Bukan! Masalah yang seharusnya sederhana dibuat tidak sederhana dan kompleks. Agar apa? Agar semua kepentingan bisa bermain dengan leluasa,” papar Salamuddin. (Sego)

Komentar

To Top