Kondisi Nove Baswedan di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading setelah disiram air keras. Foto Istimewa
Kondisi Nove Baswedan di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading setelah disiram air keras. Foto Istimewa

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Insiden penyerangan terhadap Penyidik KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Novel Baswedan nampaknya dibuat sebagai peringatan kecil bagi anak-anak bangsa yang menjunjung tinggi kejujuran dan kebenaran. Sebab, tidak ada yang menyangkal adanya dugaan bahwa teror fisik yang dialami Novel Baswedan merupakan hadiah kecil dari beberapa kasus yang ditangani oleh KPK.

Benarkah demikian? Apakah dugaan yang muncul secara tiba-tiba akan menjadi pintu kecil menuju kebenaran? Tidak bisa dipastikan dan tidak semudah beropini untuk membuktikannya. Akan tetapi, satu sinyal bagi para pekerja berat di KPK telah dilaunching dengan sesembur air keras yang membuat mata kiri Novel Baswedan tidak bisa melisah sama sekali.

Atas peristiwa tersebut, aktivis Rumah Amanah Rakyat, Ferdinand Hutahaean mencetuskan satu kalimat bahasa tegas yang layak disandangkan bagi sosok penyidik KPK yang pantang terhadap segala bentuk macam ancaman baik yang sudah, sedang, dan mungkin akan diterima di masa depan. “Ab Honesto Virum Bonum Nihil Deterret,” kata Ferdinand yang artinya: “Tidak ada yang menakutkan dan menggetarkan orang baik yang melaksanakan kewajibannya dengan jujur”.

“Itulah sebuah ungkapan Latin yang menjadi spirit keberanian, yang sering diucapkan kepada siapa saja yang dengan berani menegakkan kebenaran dan hukum.  Ungkapan Latin itu pula yang ingin saya persembahkan kepada Novel Baswedan yang mengalami serangan brutal selepas sholat subuh,” kata Ferdinand, Jakarta, Selasa (11/4/2017) kemarin.

Ia menilai serangan tak berperi kemanusiaan itu adalah kejadian paling brutal dalam sejarah bangsa ini terhadap penegak hukum. Bangsa ini belum pernah mencatat serangan sebrutal seperti itu menggunakan cairan kimia atau air keras untuk merusak menghancurkan masa depan seseorang.

“Kasus seperti ini hanya terjadi di era rejim sekarang, dimana bekerja jujur untuk kebenaran menjadi ancaman dan menyuarakan kebenaran menjadi berbahaya dan menakutkan,” ujar aktivis Bela Tanah Air itu.

Ferdinand menegaskan bahwa penegak kukum menjadi tidak aman. Lantas, imbunya, bagaimana dengan nasib rakyat secara umum terutama pegiat-pegiat anti korupsi anti kejahatan? “Jika aparat negara saja sudah terancam, Novel adalah seorang latar belakang Polisi, seorang penegak hukum lantas bagaimana nasib ratusan juta rakyat ini? Kemana harus mencari keamanan?,” tanya dia.

Ditambahkan Ferdinand, situasi hukum saat ini sudah begitu memprihatinka. Di era pemerintahan sekarang seolah tidak butuh hukum dan aturan karena lebih berhasrat memerintah sesuai selera. Regulasi dan hukum tampaknya menjadi hambatan bagi rejim ini untuk mengekspresikan seleranya dan keinginannya.

“Lantas dimana bangsa ini kelak akan berdiri jika penegakan hukum menjadi perbuatan yang tidak aman? Lantas kemana bangsa ini akan menuju jika menyatakan kebenaran menjadi berbahaya?. Pertanyaan untuk pak Presiden Jokowi, haruskah kita hidup di era penegakan hukum yang berbahaya?,” tanya Ferdinand.

Penulis/Editor: Achmad Sulaiman

Komentar