Ekonomi

Kerjasama TMMIN dengan CAP Dinilai Sebagai Pendorong Pertumbuhan Industri

Menperin saat meninjau proses produksi komponen otomotif dari bahan baku polypropylene impact copolymer/Foto: Dok. Humas Kemenperin
Menperin saat meninjau proses produksi komponen otomotif dari bahan baku polypropylene impact copolymer/Foto: Dok. Humas Kemenperin

NUSANTARANEWS.CO, Bekasi – Industri petrokimia dalam negeri melakukan terobosan baru dengan memenuhi kebutuhan  bahan baku pembuatan komponen industri otomotif. Dalam hal ini, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP) mulai memasok resin polypropylene impact copolymer untuk PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) yang akan diaplikasikan pada mobil Toyota Vios dan Yaris.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Kerjasama antara TMMIN dengan CAP ini, lanjutnya, akan mendorong pertumbuhan industri komponen kendaraan di dalam negeri.

“Secara nasional, saat ini terdapat sekitar 1.500 perusahaan komponen otomotif di Indonesia yang terbagi dalam tier 1 sampai 3. Selain itu dapat menjadi wahana transfer teknologi dan pengembangan sumber daya manusia di sektor otomotif,” kata Airlangga pada Peluncuran Produk Material Lokal Polypropylene Impact Copolymer untuk Mendukung Industri Otomotif Nasional di Bekasi, Jawa Barat, Kamis (9/1).

Baca: Kemenperin Perkuat Mata Rantai Industri Nasional Dari Hulu ke Hilir

Sementara itu, Presiden Direktur CAP Erwin Ciputra mengatakan, kerja sama ini merupakan lahan pemasaran baru yang akan terus meningkat seiring perkembangan industri otomotif saat ini. Di samping itu, dapat meningkatkan performa industri compounding dan moulding dalam negeri, yaitu PT Hexa Indonesia yang menambahkan aditif dan pewarna pada resin dan PT Sugity yang mencetak resin menjadi komponen otomotif.

“Selain untuk mobil Toyota Vios dan Yaris, CAP juga berencana untuk memasok model Fortuner dan Kijang Innova serta mobil LCGC Toyota yang lain. Merek lain yang sudah memakai polypropylene impact copolymer produksi CAP saat ini adalah mobil LCGC Daihatsu serta kendaraan roda dua dan roda empat Honda,” kata Erwin seperti dikutip dari keterangan pers, Jumat (10/2/2017)

CAP berharap nantinya dapat memasok kebutuhan polypropylene impact copolymer sejumlah 25 ribu ton per tahun untuk 500 ribu unit mobil, dengan pemakaian rata-rata 50 Kg per unit. Sementara itu, kapasitas pabrik polypropylene CAP saat ini sebanyak 480 ribu ton per tahun dan masih akan ditingkatkan lagi menjadi 580 ribu ton per tahun dalam beberapa tahun ke depan, guna memasok kebutuhan industri plastik di Indonesia.

“Dengan demikian, kebutuhan polypropylene impact copolymer untuk industri otomotif nasional dapat terjamin pemenuhannya oleh CAP. Selain itu, devisa negara yang dapat dihemat dari substitusi impor resin dan komponen mobil ini hingga USD 60 juta per tahun,” terangnya.

Sedangkan Presiden Direktut TMMIN Masahiro Nonami mengakui bahwa industri otomotif memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian suatu negara.

“Di Indonesia, kami terus berupaya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dengan produk kendaraan yang berkualitas dan harga bersaing, sekaligus makin meningkatkan daya saing kami agar mampu meningkatkan volume ekspor,” ucap Nonami.

Adapun langkah strategis yang perlu dilakukan dalam mencapai beberapa target tersebut, lanjut Nonami, antara lain peningkatan produktivitas, efisiensi logistik dan penggunaan material lokal. “Kami percaya, industri otomotif di Indonesia mampu mengejar pesaing utamanya, Thailand,” ujarnya.

Nonami menegaskan, pihaknya memberikan apresiasi kepada pemerintah Indonesia yang tengah aktif menciptakan iklim usaha kondusif serta meningkatkan pembangunan infrastruktur.

“Atas upaya tersebut, kami dapat merealisasikan lokalisasi bahan baku seperti baja dan resin. Dan tidak lama lagi korporasi akan meningkatkan komponen lokal dari bahan baku yang diproduksi industri dalam negeri, seperti material resin lain (PP-3 dan TSOP), karet sintetis dan aluminium.” jelas Nonami.

Editor: Achmad Sulaiman

Komentar

To Top