Spudnik Sujono usai konferensi pers refleksi Kementan akhir 2016 di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, 28 Desember 2016/Foto Andika/NUSANTARAnews
Spudnik Sujono usai konferensi pers refleksi Kementan akhir 2016 di kantornya, Pasar Minggu, Jakarta, Rabu, 28 Desember 2016/Foto Andika/NUSANTARAnews

NUSANTARANEWS.CO – Direktur Jenderal Hortikultura dari Kementerian Pertanian (Kementan), Spudnik Sujono mengatakan ada petani cabai yang memang mematok harga tinggi disaat situasi harga cabai yang sedang tinggi sekarang ini. Ia menjelaskan para petani melakukannya untuk mengganti kerugian produksi yang terjadi pada periode sebelumnya disaat harga cabai sedang anjlok.

Spudnik mengaku sudah berkunjung ke sejumlah wilayah di Pulau Jawa. “Saya tanya petani, kenapa hargamu Rp 70-80 ribu, dia(petani) jawab karena harga di Jakarta sedang mahal,” ujar Spudnik saat ditemui di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat(13/1/2017).

Spudnik bertutur, para petani yang ditemui meminta agar petani dapat menikmati harga cabai yang mahal seperti akhir-akhir ini. Para petani itu beralasan karena sebelumnya menjual cabai di harga cuma Rp 10 ribu. “Jadi itu untuk menutup kerugian,” kata dia.

Baca : Meski Harga Melonjak, Kementan Jamin Stok Cabai Aman

Bahkan dari harga cabai rawit merah yang tengah tinggi ini, kata dia, ada seorang petani yang ditemuinya bisa membeli sebuah mobil Toyota Yaris. “Petani menikmati, tapi kami ingin petani untung dan konsumen juga untung. Kata petani itu, dapat mobil ini gara-gara cabai pak,” ungkapnya.

Selain masalah petani mengganti kerugian di waktu yang lalu, Spudnik mengatakan ada mekanisme supply and demand atau pasokan dan permintaan yang tidak berjalan dengan semestinya. “Jadi supply itu tidak berpengaruh lagi ke harga, supply aman,” ucap dia.

Mengenai masalah supply dan demand ini, Spudnik membeberkan data pantauan harga cabai rawit merah oleh timnya di tiga pasar induk. Pantauan ini dilakukan sejak 9 Januari lalu sampai dengan 13 Januari 2017.

Misalnya di Pasar Induk Kramat Jati, pada 9 Januari pasokan cabai rawit merah 6 ton dengan harga Rp 90 ribu per kilogram. Namun pada 11 Januari dengan pasokan 11 ton, harga justru naik menjadi Rp 99 ribu per kilogram. “Siapa yang naikkin dan siapa yang nurunin? Saya tidak tahu,” ucap Spudnik saat jumpa pers.

Hal serupa juga terjadi di Pasar Induk Cibitung. Pada 10/1/2017 pasokan cabai rawit merah adalah 15 ton dengan harga Rp 88 ribu per kilogram, namun pada 11/1/2017 dengan pasokan 30 ton, harga justru naik menjadi Rp 95 ribu per kilogram. (Richard)

Komentar