Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar/Foto: dok. Humas Kemenperin
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar/Foto: dok. Humas Kemenperin
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar/Foto: dok. Humas Kemenperin
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar/Foto: dok. Humas Kemenperin

NUSANTARANEWS.CO – Kementerian Perindustrian terus mendorong industri pulp dan kertas di Indonesia untuk menerapkan teknologi yang berwawasan lingkungan dalam kegiatan produksinya agar meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global. Apalagi, isu produk hijau di sektor ini sering menjadi permasalahan dan perhatian di sejumlah negara, terutama Eropa.

“Untuk itu, kondisi tersebut perlu disikapi dengan mengaktifkan peran di bidang penelitian dan pengembangan (litbang),” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Haris Munandar dalam keterangan tertulisnya yang diterima Nusantaranews.co dari Bandung, Kamis(17/11/2016).

Menurut Haris, kegiatan litbang yang dipacu mengarah kepada konsep industri hijau, dimana proses produksinya mengutamakan pada upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan. “Hal ini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, sehingga upaya tersebut mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” paparnya.

Perlu diketahui, sebagian industri pulp dan kertas domestik telah mampu menghemat penggunaan energi fosil dengan memanfaatkan lignin kayu dari limbah produksi. Lignin tersebut diproses menjadi lindi hitam pekat (heavy black liquor) sebagai sumber bahan bakar untuk menjalankan mesin pabrik dan penerangan di wilayah tersebut. Bahkan, penggunaan lindi hitam pekat juga mampu menekan biaya produksi di tengah tingginya harga gas di Indonesia sebagai kebutuhan energi di sektor ini.

Kepala Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) Andoyo Sugiharto mengatakan, melalui simposium yang dilaksanakan hingga tanggal 17 November 2016 ini, diharapkan dari seluruh peserta yang hadir dapat saling melakukan pertukaran informasi terbaru tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di industri pulp dan kertas.

Selain itu, Haris mengungkapkan, meski ada peningkatan penggunaan media online, namun pada kenyataannya tidak menghambat pertumbuhan industri pulp dan kertas nasional. Pasalnya, selain jumlah konsumsi tanah air yang masih rendah, permintaan masyarakat dunia akan kertas masih tinggi.

“Penduduk dunia diproyeksikan menjadi 9 miliar orang pada tahun 2050 dan hampir 60-70 persen berada di Asia yang diprediksi masih menggunakan kertas untuk berbagai keperluan seperti untuk kemasan sebuah produk,” jelasnya.

Kemenperin mencatat, Indonesia memiliki 82 industri pulp dan kertas pada tahun 2013, yang terdiri 4 industri pulp, 73 industri kertas, serta 5 industri pulp kertas terintegrasi dengan kapasitas terpasang sebesar 18,96 juta ton. Realisasi produksi di sektor ini masing-masing 4,55 juta ton untuk pulp dan 7,98 juta ton untuk kertas. Dengan kemampuan produksi tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-9 sebagai produsen pulp terbesar di dunia dan produsen kertas ke-6 terbesar di dunia.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, pasar ekspor pulp dan kertas tumbuh sekitar 2,1 persen per tahun sehingga menjadi peluang yang dapat diisi oleh Indonesia terutama dengan makin berkurangnya peran negara-negara Skandinavia seperti Finlandia, Swedia, dan Norwegia yang sebelumnya merupakan negara pemasok utama pulp dan kertas di pasar internasional.

“Peluang di dalam negeri juga didorong seiring dengan meningkatnya pendidikan masyarakat dan kegiatan ekonomi lainnya yang membutuhkan produk kertas, seperti kertas tulis cetak, kertas kemasan pangan, kertas kantong semen, kertas bungkus, dan kotak karton gelombang,” ucap Airlangga. (Andika)

Komentar